Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,

Kamis, 28 Juni 2012

0 Kerajinan Masyarakat Bima Yang Mulai Langka

     Berbicara tentang seni kerajinan khususnya anyaman,Bima memiliki banyak potensi. Berbagai keperluan dan perkakas rumah tangga sebenarnya sudah banyak dikreasi oleh nenek moyang suku Bima-Dompu.   
 
     Salah satu bahan baku yang digunakan adalah daun lontar. Pohon Lontar sejenis Palma yang banyak tumbuh di Bima dan Dompu. Selain dijadikan bahan baku rokok tradisional Mbojo yang dikenal dengan “Rongko ro’o ta’a” (Rokok daun lontar), sangat digemari oleh masyarakat Mbojo (Bima-Dompu). Hasil lain dari Pohon Lontar adalah “Oi Tua” (Air Tuak). Berikut beberapa kreasi dari nenek moyang masyarakat Bima dari daun lontar yang mulai jarang ditemukan dipasar-pasar Bima maupun dijajakan langsung oleh para pembuatnya.


Dari bahan baku Ro’o Ta’a dapat dibuat berbagai jenis barang antara lain :

Alat kelengkapan Upacara Tuha Ro Lanti (Penobatan dan Pelantikan) Sultan.
a.  Paju Ro’o Ta’a (Payung Daun Lontar)
     Payung kebesaran Sultan Bima, yang akan diserahkan setelah beliau di Tuha Ro Lanti (dinobat dan dilantik) menjadi Sultan. Dihiasi dengan asesoris dari emas dan perak. Sebagai simbol Sultan harus berperan sebagai payung melindungi dan menaungi Rakyat dan Negeri. Dengan kata lain Sultan berperan sebagai “Hawo Ro Ninu” (Pengayom dan Pelindung) Rakyat dan Negeri.

b. Dipi Umpu
     Dipi Umpu (Tikar Umpu) adalah tikar yang dianyam khusus untuk dijadikan tempat duduk Sultan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dibuat dari Daun Lontar yang bermutu dan dianyam oleh pengrajin “Ma Loa Ro Tingi” (Terampil dan berjiwa seni).

     Disetiap sudut dan pinggir Dipi Umpu, dilapisi dengan Kain Satin berwarna coklat atau merah hati disulam dengan benang emas dan perak dengan motif Bunga Samobo (Bunga Sekuntum) dan Bunga Satako (Bunga Setangkai).

     Di Kesultanan Bima dan Dompu tidak dikenal tahta (Kursi Kerajaan Atau Kesultanan) seperti di Kerajaan dan Kesultanan lain. Para Sultan duduk bersila diatas hamparan Dipi Umpu.

c. Tonggo (tudung saji)
     Tonggo yaitu Tudung saji dibuat dari anyaman daun lontar, yang berfungsi untuk menutup jenis-jenis makanan yang akan disajikan dalam upacara adat seperti upacara pernikahan, khataman dan khitanan.
Pada pinggir Tonggo diberi hiasan dengan sulaman kain satin berwarna-warni, dengan motif Bunga Samobo (bunga sekuntum), Bunga Satako (bunga setangkai) dan Pado Waji (jajaran genjang).

     Khusus Tonggo untuk Sultan, dipinggirnya dihiasi dengan perak asli, dengan motif Bunga Samobo, Bunga Satako dan Pado Waji.

d. Padingi
     Bentuknya tidak jauh berbeda dengan Tonggo, tetapi ukurannya lebih besar dibanding Tonggo. Guna dan fungsinya sama, yaitu untuk menutup segala jenis makanan yang dihidangkan dalam upacara adat. Ragam hias dan motifnya sama dengan Tonggo.

     Pada umuimnya Tonggo dan Padingi yang bermutu dibuat oleh pengrajin dari Desa Dore Kecamatan palibelo Kabupaten Bima, termasuk Tonggo dan Padingi untuk Istana.

Alat Untuk Dipergunakan Sehari-Hari.
a. Dipi (Tikar)
     Untuk alas tempat tidur,  dan alas lantai tempat duduk para tamu. Dianyam dari daun lontar yang dibelah menjadi lembaran kecil seperti garis. Bentuknya halus dan apik. Berbeda dengan tikar dari daun pandan yang anyamannya kurang halus.
Pada umumnya Dipi Ro’o Ta’a dibuat oleh para pengrajin anyaman dari Sape.

b. Kula
      Wadah untuk menyimpan berbagai jenis barang kebutuhan sehari-hari. Fungsinya bermacam-macam.
a). Kula Lo’i (Kula Obat)
Kula tempat menyimpan segala jenis ramuan obat tradisional, pada umunya berbentuk segi empat yang dibagi dalam beberapa kotak kecil.
b). Kula Mama
Kula untuk menyimpan sirih, pinang dan kapur sirih.
c). Kula Bongi (Kula Beras)
Kula untuk menyimpan beras.

c. Sarau Ro’o Ta’a
     Sarau yaitu topi tradisional Mbojo, selain dibuat dari anyaman lontar, ada pula jenis sarau yang dibuat dari anyaman bambu. Sarau Ro’o Ta’a hanya dikenal di desa Ncera dan sekitar (Kecamatan Belo).

      Kini seiring perkembangan zaman dan animo masyarakat yang seba praktis terhadap perkakas rumah tangga dan upacara, kebutuhan akan anyaman daun lontar ini sudah mulai berkurang. Ini lah yang menjadi factor penyebab kelangkaan produksi alat-alat  atau anyaman ini. Perlu ada solusi untuk menggairahkan kembali anyaman dan kerajinan ini agar tetap eksis sebagai ajang promosi wisata dan pewarisan nilai-nilai budaya.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar