Orang-orang Bima menyebutnya Sanduru. Saduku adalah tempat/wadah
untuk menyimpan nasi. Ketika orang-orang Sambori ke kebun atau ke
ladang mereka selalu membawa makanan dengan Saduku. Ukuran Saduku juga
bermacam-macam, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Saduku kecil
dengan ukuran tinggi 25 cm dan lebar 20 cm digunakan untuk menyimpan
nasi untuk ukuran satu sampai dua orang. Sedangkan yang besar dugunakan
untuk kebutuhan lebih dari lima orang. Pengalaman warga Sambori,
menyimpan nasi dengan Saduku bisa bertahan sampai 3 hari dan tidak basi.
Bahan dasar pembuatan Saduku adalah daun lontar yang dibelah
kecil-kecil. Proses pembuatannya melalui perendaman sekitar 2 jam
kemudian dijemur. Lalu pada sore hari hingga malam hari kaum perempuan
menganyam saduku secara bersama-sama. Dalam satu hari, warga Sambori
mampu menghasilkan 3 sampai 5 Saduku, jika tidak ada kesibukan lain
seperti menanam atau bekerja di sawah.
Menurut pengalaman orang-orang Sambori, Saduku yang kuat dan tahan
lama sadalah Saduku yang dianyam dari serat Laju. Laju adalah pohon
jenis palma, tetapi pohonnya tidak tinggi seperti Fu’u Ta’a (Pohon
Lontar) dan Ni’u (Nyiur). Pohon ini banyak terdapat di lahan-lahan
kering dan dataran tinggi sekitar Sambori. Daunnya berserat dan kuat
tidak mudah putus atau terpotong. Dari Ro’o Laju dibuat dua jenis wadah
untuk menyimpan kacang hijau, kadele atau jagung dan beras. Bentuknya
bulat panjang seperti kantung, dengan ukuran 25 kilogram. Berdasarkan
ukurannya, jenis wadah Dari Ro’o Laju terdiri dari dua jenis, yaitu yang
besar bernama Balase dan yang kecil disebut Saduku/ Sanduru.
Jumat, 29 Juni 2012
0 Saduku (Kerajinan Masyarakat Sambori)
Diposting oleh
Farah PinkQueenZa
di
00.19
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar