Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

0 Oi Mbora

     Setelah Indra Zamrut resmi menjadi raja, maka ia tinggal terpisah dengan adiknya Indra Komala. Indra Zamrut tinggal di singgasana kerajaan. Sedangkan Indra Komala tinggal bersama Bicara Mbojo Ncuhi Dorowuni. Hubungan kekeluargaan antara keduanya tidak mengalami perubahan walau mereka berpisah dalam tugas dan wewenang. Tetapi kenyataan yang dihadapi bahwa Indra Zamrut telah menjadi raja yang disanjung dan dihormati oleh rakyat.


     Pada waktu senggang keduanya tidak lupa akan pekerjaan dan kebiasaan yang telah dilakukan pada masa persiapan bersama Ncuhi Parewa. Indra Zamrut melanjutkan kebiasaan dan hobinya  dalam hal memancing. Hampir setiap tanjung di sepanjang teluk Bima menjadi tempat berteduh raja Indra Zamrut.
Sedangkan Indra Komala melanjutkan berkebun dan berhuma. Hampir setiap gunung, lembah dan ngarai ditapakinya. Dengan penuh ketabahan ia mengajar dan mendidik rakyat untuk berladang dan berhuma. Ia termasuk sosok yang ulet dan gigih dalam bekerja di tanah ladang.

     Akan tetapi pada suatu ketika, tiba-tiba saja Indra komala ingin memancing. Keinginan itu disampaikan kepada Ncuhi Dorowuni.
“ Ayahanda, Saya ingin meminjam mata pancing kakakku raja Indra Zamrud.”
“  Kalau begitu pergilah ke istana dan pinjamlah pancing itu hanya untuk nanti malam. Besok akan aku buatkan pancingmu.”
“ Aku takut.” Indra Komala menunduk.
“ Kenapa mesti takut. Kalian bersaudara. Kau harus memberanikan diri untuk memintanya dan tidak mungkin kakakmu tidak meminjamkan pancing itu.” Ncuhi Dorowuni meyakinkan.

     Maka malam itu Indra Komala memberanikan diri untuk  menghadap saudaranya Indra Zamrut untuk meminjam pancing beserta perlengkapannya. Permohonan Indra Komala dikabulkan dan Indra Zamrut memberikan pancing itu. Tetapi Indra Zamrut menitip pesan.
“ Jaga dan rawatlah pancing ini, sebab ia adalah mata pencaharianku bersama ayah kita Ncuhi Dara.”
“ Segala titah akan adinda laksanakan.”
Pada malam itu juga Indra Komala pergi melaut. Ia berteduh dan mangkal di Doro Tumpu. Beberapa saat lamanya ia menunggu pancingnya di tempat itu, namun tiada satupun ikan yang terjaring. Ia menjadi kesal dan tak sabar. Lalu berpindah ke arah sebelah barat. Tiada beberapa saat lamanya ia melemparkan pancingnya, disambarlah oleh seekor ikan besar. Dan demkianlah selanjutnya sehingga tertangkap beberapa ekor ikan. Indra Komala senang bukan kepalang.

     Di tengah-tengah kegirangannya itu, tiba-tiba muncul seekor ikan yang sangat besar yang menyambar lagi. Indra Komala berusaha sekuat tenaga untuk menariknya. Tetapi ikan itu tidak bergerak mendekat. Dengan segala kekuatan dan tenaga dicoba lagi, namun benang pancing yang putus. Ikan itu secepat kilat menghilang bersama mata pancing di mulutnya.

     Kejadian yang tidak disangka-sangka itu membuat kesenangan yang sedang dinikmati sirna seketika. Bertukar rasa kecewa, bercampur rasa takut. Dan rasa itu semakin menjadi-jadi setelah disadari dan diingat pesan kakaknya raja Indra Zamrut. Apalagi pancing itu adalah pancing kesayangannya.
Indra Komala menangis tersedu-sedu. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia berjalan pulang dan menemui kakaknya raja Indra Zamrut yang pada saat itu berada di rumah Ncuhi Dara. Dalam kepanikan itu Indra Komala menghadap dan melaporkan kejadian yang dialaminya. Raja Indra Zamrut berang dan berkata :
“ Wahai adindaku Indra Komala, alangkah sedihnya hatiku mendengar berita ini. Engkau telah mahfum bahwa pancing itu adalah pancing kesayanganku dan mata pencaharianku bersama Ncuhi Dara. Kau harus mendapatkan pancing itu kembali. Kalau tidak kau harus menggantinya dengan yang lebih bagus lagi atau kau tebus.”

      Ternyata mata pancing itu disambar oleh raja ikan. Dengan segala kekuatan yang dimilikinya indra komala mengunjungi istana raja ikan yang berada didasar laut yang berlokasi ditanjung TORO RUI LONDE (Bima Toro = Tanjung Rui = Tulang = Londe = Ikan Bandeng ) Raja ikan itu moncongnya bengkak . Indra komala mengobatinya dan tak lama kemudian ikan itupun sembuh. Sedangkan mata pancing yang hilang itu dapat ditemukan lagi.

     Meski demikian, masalah pancing tersebut tidak berhenti sampai di situ  saja. Raja Indra Zamrut merasa lega dan puas, tetapi  sebaliknya tidak terjadi pada Indra Komala. Ia ingin membalas kepada Raja Indra Zamrut agar merasakan pula beban dan kesulitan sebagaimana yang ia alami. Untuk maksud tersebut disusunlah akal dan rencananya dengan Ncuhi Dorowuni untuk menjebak raja Indra Zamrut. Indra Komala ingin membalas kedongkolannya.

     Rencana dan siasat disusun sedemikian rupa agar raja tidak diberi kesempatan untuk mencermati layaknya seperti seorang raja. Rencana dan siasat itu sangat pribadi dan menyentuh perasaan dua bersaduara yang hidup di rantauan.
Apakah gerangan rencana dan siasat itu ?
Indra Komala berpura-pura sakit keras agar Indra Zamrut  menjenguknya. Ncuhi Dorowuni disuruh untuk menyampaikan berita sedih itu. Sedangkan Indra Komala menyiapkan sebakul biji wijen yang diletakan pada lantai bambu yang sengaja dilepaskan ikatannya. Bila tersentuh sedikit saja akan goyang dan biji wijen itu akan tumpah.

     Dengan langkah tergopoh-gopoh Ncuhi Dorowuni dan napas terengah-engah disertai mimik yang sengaja diatur sedemikian rupa menghadap raja Indra Zamrut untuk menyampaikan berita duka itu.            
Mendengar laporan itu, dan sesuai amanat yang disampaikan Ncuhi Dorowuni terlintas pikiran raja Indra Zamrut bahwa Indra Komala akan meninggal dunia dan bermaksud menjenguknya. Tanpa berpikir panjang, Indra Zamrut langsung melompat dari singgasananya dan menuju tempat dimana Indra Komala tengah berbaring menahan sakit. Indra Komala berpura-pura tidak menyambut kedatangan raja. Perhatiannya hanya tertuju pada perangkap yang dipasangnya. Dalam keadaan tergesa-gesa, lantai bambu yang goyah tadi terinjak. Bakul wijen jatuh, lalu tumpahlah seluruh isinya.

     Tiba-tiba saja Indra Komala menyapa raja Indra Zamrut bahwa bakul itu jatuh dan isinya tumpah seraya berkata :
“ Saya mohon agar kakanda raja mengumpulkan kembali seluruh biji wijen yang bertebaran di tanah.”
Permintaan Indra Komala dipenuhi. Dengan segala kesaktian yang ada padanya, Indra Zamrut memanggil semua jenis burung untuk membantu mengumpulkan biji wijen itu. Namun Indra Komala masih meragukan bahwa semua biji wijen itu terkumpul semuanya. Ia yakin bahwa masih ada satu atau dua biji wijen yang belum terkumpulkan. Lalu ia ingin membuktikan keyakinannya itu dengan menyiramkan air pada tempat wijen yang tertumpah tadi. Ternyata ada beberapa batang wijen yang tumbuh. Sambil menunjuk kepada batang wijen yang tumbuh tadi, ia berkata:
“ Hai Saudaraku Raja Indra Zamrut, penghidupanku tinggal itu jua.”

     Raja Indra Zamrut menjawab dan bersedia untuk kedua kalinya menggantikan wijen yang tumbuh pada saat itu juga. Namun Indra Komala menolak. Ia menegaskan bahwa biji wijen yang tumbuh tadilah yang diinginkannya. Dari penuturan Indra Komala, Indra Zamrut menjadi sadar bahwa itu hanyalah sebuah jebakan. Kehilangan mata pancing dan sikap kerasnya adalah penyebanya. Rupa-rupanya Indra Komala ingin membalas dendam.

     Sejenak ia berpikir, bahwa pembalasannya tidak kepalang tanggung. Sesuatu hal yang tidak mungkin dan mustahil terjadi untuk membijikan kembali biji wijen yang sudah tumbuh menjadi batang. Betapapun saktinya Raja Indra Zamrut. Ibarat mengalirkan kembali air ke udik. Tindakan balas dendam itu dinilainya tidak seimbang dan tidak jujur. Itulah yang terus menjadi bahan pemikiran dan perenungannya.

     Tanpa sepengetahuan Ncuhi Dorowuni, Indra Komala melangkahkan kaki kearah timur wilayah Mbojo Na’e. Di sana tepatnya pada sebuah mata air, Indra Komala menenggelamkan diri hingga mati dan menghilang. Raja Indra Zamrut mengabadikan tempat kejadian yang menyedihkan itu dan untuk mengenang saudaranya Indra  Komala , mata air itu diberi nama OI MBO atau OI MBORA. Hingga kini tempat itu masih ada dan berada di OI MBO dalam lingkungan kelurahan Kumbe Kecamatan Rasanae Timur Pemerintah Kota Bima. ( OI = Air    MBORA = Hilang ).

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Oi Mbora

Selasa, 26 Juni 2012

0 Desa Donggo

     Donggo, dengan jarak 40 km adalah Desa tertua di Bima. Penduduk desa ini memiliki pakaian dan tradisi yang berbeda dari desa-desa lainnya. Merreka memelihara tradisi etnik uniknya dengan selalu memakai pakaian hitam, masih mempertahankan tingkatan hierarkinya dan membangun rumah tradisional mereka sendiri.

     Donggo adalah sebuah desa yang terletak di atas pegunungan Soromandi sebelah barat Kota Bima dengan ketinggian 1200 meter, Donggo mempunyai keistimewaan dari Desa lain yang berada di Bima yaitu berbagai macam legenda rakyat dan tempat-tempat peninggalan sejarah berada di Donggo, salah satu legenda rakyat yang terkenal yaitu kisah Putri La Hila.

     La Hila adalah nama putri cantik anak dari raja Donggo dahulu kala, La Hila mempunyai rambut sepanjang 7 buah bambu dan paras cantiknya sangat menggoda para Raja yang melihatnya, kejadian yang melegenda dari La Hila yaitu di dikubur hidup-hidup karena dia tidak ingin menerima lamaran dari salah satu Raja Bima, setelah kuburannya di buka ternyata jasad La Hila telah hilang, hingga sekarang masyarakat    Donggo mempercayai bahwa La Hila sering menampakkan diri dengan wujud wanita cantik.

     Di Donggo, masyarakatnya masih menjaga adat istiadat leluhurnya sehingga masih terdapat rumah yang dulunya bertempat tinggal kepala suku atau di sebut Ncuhi Donggo yang terdapat di Donggo Mbawa, ada dua agama yang di anut oleh masyarakat Donggo yaitu Kristen Katolik dan Islam, penganut agama katolik di Donggo yang uniknya yaitu mereka memakai nama Islam tetapi agamanya katolik.

     Ada cerita rakyat yang menarik lagi di Donggo yaitu dahulu kala sebelum terbentuknya kerajaan Bima, raja dari pulau Jawa yang dulu pernah berjanji akan mengirim anaknya untuk memimpin tanah Mbojo (sebutan tanah bima dahulu kala), sang Raja mengirim kedua anaknya ke Bima dengan sebatang bambu, kemudian di pinggir pantai Donggo hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta dan belum mempunyai anak, tiap malamnya mereka mendengarkan bunyi gendang yang sangat besar, dan mereka berdua pun memeriksa dari mana asal suara gendang tersebut tetapi mereka tidak menemukan sumber suara tersebut.

     Keesokan harinya Ompu (panggilan sang suami) pergi ke pinggir laut untuk mencari kayu bakar, dan dia menemukan sebatang bambu kemudian Ompu mengambil dan membawa pulang kerumahnya, malam harinya suara gendang tersebut masih ada Ompu beserta istrinya sangat penasaran dari mana suara gendang tersebut. Pagi harinya Ompu akan membelah kayu yang ia kumpulkan dengan kapak, kemudian saat Ompu ingin memotong kayu yang ia temukan di pinggir pantai, mendengarkan suara yang melarang memotong bambu tersebut dan keluarlah dua pangeran bersaudara dari bambu tersebut yang merupakan anak dari Raja dari pulau Jawa yang datang untuk memimpin Bima seperti yang di janjikan. Kemudian salah satu saudara tertua dari kedua bersaudara itu menjadi Raja Bima yang bernama Indra Zambrud yang menjadi asal usul raja-raja Bima.

Di Ambil Dari :
http://bimaitumbojo.blogspot.com
READMORE - Desa Donggo

Senin, 25 Juni 2012

0 La Kalai

     Wara-wara rua-n La Kalai-ku ngara-n, wara lewi-na di kengge moti. Ede-ra lao kai-na teka ni'u di lewi-na ede. Pala wara ja Rato maloja labo lopi.
     Ede-r nggahi ba Rato ede : "E Kalai, ai-na teka-mu ni'u nahu ede, nggara mu-teka-si made ama-m, mu-londo-si made ina-m, mu-midi mboha-si made ndai-mu." Ede-ra ringa kai ba La Kalai nggahi Rato ede. "Taho mpara made ama-ku," nggahi La Kalai."
     Ede-ra teka kai-na ni'u ede, kalondo mena kai wua-na, ede-ra londo batu kai-na ba La Kalai. Lemba-na ni'u ede, dula di uma-n. Na-eda-ku ama-na ro ina-na mbui mena-pu wara-na. Nggahi kananu kai ba La Kalai : "Na-cowa pala Rato ake," Ede-ra rai-rai wali kai-na La Kalai, na-lao aka lewi-n. Ntika na-nggao-ku Rato : "He Rato, nggara ta-loja lao ari-sa ta-mbi'a sambura, ta-loja lao dei-sa ta-mimi made." "E Mboda-e, wari-pu loja ede, ta-lao ari! Taho wali-pu mbi'a sambura labo mimi made-ta," nggahi kai Rato labo Mboda-na ede.
     Ede-ra wari kai loja ede, lao ari-na. Wati-pu sabune loja lao ari-na, ede mpara mbi'a sambura poda-na lopi Rato aka-n ede. Dou labo-na wa'u-ra made mena, ne'e Rato labo Mboda mpa mamori maliwa labo kapenta lopi-na sa-dompo. Raka-pu di mamanggo, nggahi kai ba Rato : "Tundu-pu kapenta ede, lao mbei-pu La Kalai! Bune santika Rato wa'u-ra mbi'a sambura lopi-na. Bune santika kapenta sa-tobe ake ndawi wea-pu kai kapa to'i kapa na'e, keci to'i keci na'e, sakona to'i sakona na'e, di ade mapidu nai mpabua-ku cumpu-na!"
     Lao Kai Mboda raka ro karingga La Kalai nggahi Rato. "E Mboda-e, su'u kai ba nahu tuta, tundu kai lipi ba nahu ra-parenta Rato ede. Nde pala sato'i wati wara marakani nahu ake ne'e ndawi kai kapa keci. Kapo ake lao ngge'e ada wea-pu nahu. Ake nda'u sa-dompo! Kau-pu ndawi wea garagaji to'i garagaji na'e, binggu to'i binggu na'e, pa'a to'i pa'a na'e, puti to'i puti na'e, sambori to'i sambore na'e ro sa-mena-na marakani ne'e ndawi kai lopi," cambe kai ba La Kalai.
     Ede-ra dula kai-na Mboda ede, lao ngge'e ada kai-na di Rato, na-karinga mena-ku ra-nggahi La Kalai masanggu-na ndawi kapa ro keci.
     "Nde pala wati wara marakani-na Ruma-e. Ake nda'u sa-dompo. Kau-na ndawi sa-mena-n marakani ne'e ndawi kai kapa."
Ede-ra kaporo kai Rato ma-eda nda'u sa-dompo, ne'e ndawi kai marakani masandede mboto. Nggahi wali kai Rato : "Hai Mboda, lao wa'a wali-pu wadu ake, kau-pu La Kalai ndawi wea nahu kapa, di ade matolu naui tempo-na mpabua cumpu-na."
     Ede-ra lao kai Mboda di uma La Kalai. "Au-si habar, Mboda?" Sodi ao kai ba La Kalai. "Wara-ra ra-parenta Rato makau wa'a wadu ake, ndawi wea-pu rua-n kapa, hampa tolu nai mpabua cumpu-na," nggahi kai Mboda. "Tarima-ku ba nahu ra-parenta Rato ede," nggahi kai ba La Kalai.
     Ede-ra dula kai-na Mboda ngge'e ada kai-na di Rato. Na-karinga labo Rato : "Na wi'i-ku wadu akan-de, na-sanggu wea-ku ndawi kapa." "Na-wa'u sara tolu nai, lao weha-pu kapa ede!" Nggahi kai Rato.
Ede mpara dula-n Mboda di uma-na.
     Wa'u mpudu raka tolu nai. Lao wali kai-na Mboda di La Kalai, nggahi-na : "Kau mai ba Rato weha kapa wadu ede" " Wa'u-du cumpu mena kapa wadu ede, dua nai mpa ra-ndawi ba nahu. Nde pala sato-i wati-pu wara mangga-na," cambe kai ba La Kalai.
     Ede-ra mbei kai ba La Kalai sarae sa-kale'a labo nggahi-na : "Lao wa'a-pu di Rato, kau-pu ndawi wea mangga ndai labu kai kapa ede." Ede-ra lao wa'a kai ba Mboda sarae sa-kale'a. Nggahi kai ba Mboda : "Na-wa'u-du cumpu Ruma-e, kapa wadu ede, dua nai mpa ntoi-na ndawi ba La Kalai. Nde pala wati-pu wara mangga-na. Ake sarae sa-kale'a. Ake kau-na mbei ita Ruma, ta ndawi wea-pu mangga." Ringa ba Rato, ede mpara kaporo-na labo nggahi-na : "Lao karinga-pu Mboda-e! Ra-katei kai ba ina-n ro katei ba ama-na ndawi mangga sarae. Bune mpara pahu-na sarae, hina sara ba oi, na-leli mena sarae ede!"
     Ede-ra lao wali kai Mboda di uma La Kalai, karinga kai ba mboda nggahi Rato : "Ra-katei kai ba ina-m ro katei ba ama-m, nggomi Kalai-e, mandawi mangga sarae, ndede-ku eli-na Rato."
"Nemba mboto-mboto-ku nahu di penta ra tini Rato. Ra-katei ja kai ba ina-n ro katei ba ama-n Rato ede mandawi kapa wadu?" Cambe kai ba La Kalai.
     Ede-ra lao kai Mboda makaringa bune ra-nggahi La Kalai aka-n de. Ringa kai ba Rato, kaporo kai-na La Kalai. Nggahi ro parenta-na dou labo-na : "Lao leto-p lako ede, wa'u sara leto. Lao wa'a-pu aka sera, ta-ka'a kancore-ku!"
     Ede-ra lao kai dou mamboto malao wa'u ra leto La Kalai ro wa'a kai aka sera. Wa'u mpara rongga di sera, ai na-mbia-r.
     "Na-ncara-ncua-ra ka'a-ta La Kalai ake, nai sidi ampo ta-ka'a," nggahi kai ba Rato.
Ede-ra leto pete kai di fu'u haju. Dula mena-ra Rato labo dou labo-na, ngge'e mpara La Kalai kese-kese-na.
Makento ba ede, ntika wara mpara ana sangaji Jawa mamade dou sodi-na. Na-nefa-nefa-ra, ntika na-lampa di kompe La Kalai. Ede-r nggahi kai-na ana sangaji ede : "E-cina-e, au-si rawi-mu kandake kai weki-mu ake?" "Nahu ake ne'e nika labo ana Rato, nde pala na kara-kiro mena weki-ku. Ede asal ne'e mai kamapu kai weki-ku," cambe kai ba La Kalai.
     Nggahi kai ba ana sangaji ede : "Mai, cina-e, nahu mpara ndai macepe nggomi nika labo ana Rato ede." "Wati loa-n ndede. Mai ka-ra ndede-n nahu wa'u-du mboto rugi-ku ro ana Rato ka mai dou taho weki-n. Monca kancere, naru honggo-n hampa tini-n. Wati-du wara dou masama labo taho weki-na," nggahi kai ba La Kalai.
     "E cina-e, kasoi ade-mu labo nahu. Mbei-pu dou sodi-mu ede, weha mena-pu kani-kani nahu ake, cori-cori masangganga, tali-bana bato, here loko cinde, sambolo songke, tembe songke, tinti kambaya. Weha-pu sara'a mena ba nggomi!" Ede-r nggahi kai ana sangaji ede.
"Na-wa'u sara ndede, taho weki-na, lo'a-pu nahu ake!" Ede-r nggahi kai La Kalai.
     Ede-ra lo'a kai ba ana sangaji ede. Wa'u mpudu lo'a, ede-ra runcu mena kai sa-mena-na kani-kani ana sangaji ede, na-mbei-du La Kalai. Tembe ro baju La Kalai mampasa-mpasa, ede-ra kani-na ba ana sangaji ede. Ede-ra leto pete kai ba La Kalai ana sangaji ede di liri haju ra pete kai La Kalai aka-n. Ede mpara dula-na La Kalai di uma-na. Na-ngge'e-ra ana sangaji ede kese-kese-na di sera.
     Ntika bala ai sidi, na-mai-ra Rato labo sa-mena-na dou labo-na. Wara matundu haju, wara mawa'a afi. Raka mpudu di hidi La Kalai, ede-ra ne'e ka'a kai-na. Kanggica kai ana sangaji Jawa ede : "Lai-na nahu La Kalai, lai-na nahu La Kalai." "Ai-na kade'e nggahi lako ede, cou dou-dou-ra mamai cepe weki-na labo nggomi. Ka'a-pu dambe!" Nggahi kai ba Rato.
      Ede-ra ka'a kai ana sangaji ede, na-wotu kaparupae-ra tuta-na. Ede mpara cua dula mena kai-na di uma-na.
     Makento mpara ba ede, na-raka-ra tolu nai wa'u-ra ka'a ede. La Kalai na-kani-kani-ra kani ana sangaji Jawa, na-lao-ra di amba. Wa'a talima tolu mbua labo rafa sa-sonco. Ede-ra kidi kai-na di woha amba. Pala wara ja Mboda Rato di amba ede. Ede-ra nggahi kai ba Mboda :"Wa'u-du ara pala ndai-mu watu do doro?" "Io, ara-du ndai-ku, ku-ne'e lao ngge'e ada labo Rato," nggahi kai ba La Kalai.
"Pea sa-dou-na, nahu ku-malao ulu ngge'e ada wa'u labo Rato," nggahi kai Mboda.
     Ede-ra lao rai-rai kai-na Mboda makaringa Rato. "E Ruma-e, na-wa'u-ra mai La Kalai," nggahi kai ba Mboda. "Cowa-na binata mboda ake, bune pahu-n ne'e loa kai-na mai wali La Kalai labo wa'u-ra mpangi ro wotu tuta-n," nggahi kai ba Rato.
"Wati cowa-ku ruma-e, na-wara poda La Kalai. Na-wa'u mpudu kani sambolo songke ro tembe songke, cori-cori, tali-bana bato, kidi wari ancu aka amba. Wara talima ra-wa'a-n, labo au wali kombi di ade sonco," nggahi kai Mboda. "Lao ou wea-pu nahu!" Ede-ra nggahi kai ba Rato ede.
     Ede-ra lao kai Mboda malao ou La Kalai. Lao kai La Kalai mangge'e ada di Rato, raka mpa di Rato, ou ao kai ba Rato : "Mai Kalai-e. Au habar do woro?" "Ai Ruma-e, wati-da wara madawara, masaniki-niki mantau eli, masaniki-niki ndai ngaha ra nono, masaniki-niki kani ro lombo. Niki ra ndai mena akadawa, wati-du nde weha kai ntewi nggari-na. Ake kani-kani ra-mbei mena ba ama ro ompu ita Ruma-ku. Ede mai kakai-na lamada mamai weha ita Ruma-ku, na ipi lingi ade-na labo ita Ruma. Sa-wa'u-wa'u topo lao roci, kangampu mpara doho, sura kidi mpa. Ndede-ku pahu nggahi ama ro ompu ita Ruma-ku," nggahi kai ba La Kalai.
     Nde ringa kai ba Rato nggahi ra-karongga ba La Kalai, ede mpara nangi Rato. Nggahi kai Rato : "Lao boro wea-pu haju ndai ka'a kai-mu nahu, ku-ne'e lao sa-dou-na do woro!"
Ede-ra lao mena kai Mboda labo dou labo-na maboro haju. Wa'u mpara boro haju, ede-ra dula karinga kai-na Rato : "Wa'u mpudu boro haju Ruma-e!" "Lao ka'a doho-pu nahu ndara-s sambia!" Nggahi kai Rato.
     Ede-ra cua dula mena kai-na. Raka-pu ai mambia, lao wali kai-na La Kalai, lao ou Rato. Ede-ra ka-ambi kai weki Rato malabo Mboda malabo sa-mena-na ada ro kau-na lao aka sera. Ede-ra ndu mena kai haju masabune-bune mboto-n ede, ede mpara ka'a-n haju ede. Wa'u mpudu ka'a, taho-ra kalea-na. Ede mpara cua-cua nggoncu mena-na di ade afi labo-ku neo ade-n, lao batu-na Rato ba ne'e-na eda rasa woro. Ede mpara cua-cua wotu tuta-na, made mpangi mena. Ndadi ana ro wei-na, ka wei ba La Kalai. Uma ra salaja-n kampo ro mporo-na weha ba La Kalai. Ede mpara cumpu-na.

 Di ambil dari :
Jonker, J.C.G..Bimaneesche Teksten (Mpama Mbojo).2004.Nusa Tenggara Barat
READMORE - La Kalai

Kamis, 23 Juni 2011

0 Dou Mampinga Sa-uma-uma

Wara-wara rua-na dou mampina sa-uma-uma. Mpinga ama-n, mpinga ina-n, mpinga ana-n, mpinga ada-n, ada siwe-na.
Wara di ade ai sa-nai, ana-n ede na-lao tonggu mbe'e mangaha di tolo. Mbe'e-na ede wara tolu mbua. Ntika na-wara mpara dou dua-na malampa, mane'e lao di Rasa Kolo. Ede-ra sodi kai-na ana dou ede: 
"E nggoke, be-ku ncai malao ese Kolo?"
Ede-ra cambe kai-na ba ana dou ede :
"Mbe'e mbo ake mbe'e ama-ku, mbe'e wine ake mbe'e ina-ku, mbe'e to'i ake mbe'e ndai-ku."
Ede-ra ndai ringa kai cambe ana dou ede ba dou aka-nde.
"Na-mpinga-ku pala lako ake, mai-ra ta-lao kada lampa!"
Di kontu dou ede, na-dula ja-ra ana dou ede di uma-na, pala ina-na wunga medi-na kafa. Ede-ra nggahi kai ba ana-n:
"Ai ina-e, wara dou dua-na aka-n de masodi lamada, cou mantau mbe'e ngena-m ede ; ede-ra cambe kai ba lamada; mbe'e mbo mbe'e ama-ku, mbe'e wine mbe'e ina-ku, mbe'e to'i mbe'e ndai-ku."
"Ai ana-e, ede-du boco-si boco, boro-si boro, sura wara ndai salongi kai cada mboko ama-m," cambe kai ba ina-na.
Ntika, wati-pu sa-bune. Na-rongga ja-ra ama-n watu doro. Ede-r nggahi kai ba wei-na:
"Ai Ama La Dambe. Na-loa poda nggahi ro e dou ba ana-mu ake, na-nggahi-ku : medi au maboco-si boro ndede, nde cambe kai ba nahu ; Ede-du na-boco-si boco kada, sura wara ndai salongi kai cada mboko ama-m."
"Nggahi au maturu karawi lako ndede, bune ai nahu mane'e angi labo La Mpano? Bakai-ku binata ede?" Cambe ro sodi kai ba rahi-na ede.
Ede-ra lao ngupa kai-na La Mpano, pala La Mpano wunga mbaju-na mubu. Ne'e nggahi kai ba Ruma-na : :Ai Mpano, nggahi pua-mu aka nahu mane'e angi labo nggomi, binata ke. Loa poda-ra kurewe asa-m!"
"Ai Ruma-e, kone poda mpoa lamada ada dou masampuru Ruma, wati poda-poda ca'u-ku ndu'u mubu di nocu-nocu," ede-ra cambe kai ba La Mpano.
Ndede-ra nuntu ro mpama-na dou mampinga sa-uma-uma.

 Di ambil dari :
Jonker, J.C.G..Bimaneesche Teksten (Mpama Mbojo).2004.Nusa Tenggara Barat
READMORE - Dou Mampinga Sa-uma-uma

0 La Daju

Wara-wara rua-na dou madaju. Nggahi kai ina-n :
"Lao ja-ra ngupa dei ru'u ngaha ro nono ndai!"
"Taho mpara lao te'e-ku tamba," cambe kai ba La Daju.
Ede-ra ndawi kai-na tamba, wa'u-ra cumpu ndawi-na tamba ede, lao kai-na te'e ese doro. Wa'u-ra te'e-na ai mambia, ai masidi na-lao-ra tio tamba-na ede. Ntika na-eda mpara janga peo, na-wau-ra bini tamba-na ede. Nggahi kai La Daju :
"Au mai lu'u-na di tamba nahu binata ake. Lao losa mena!"
Ede-ra hengga kai-na ncai tamba-na ede. Losa ngemo mena kai janga peo ede. Ede-ra cafi kanira kai ta'i-na di ade tamba ede, ede mpara dula-na di uma-na.
"Be-si uta ra-wa'a-mu, Daju'e?" Sodi kai ba ina-na.
"Wati wara-na ita ina-e, janga peo mpa, na-bini sara'a-ku tamba nahu aka-n de," cambe kai ba La Daju.
"E tongge randa-e, ba bau ne'e lao hori kai-m peo ede mancewi taho, sa-kura-kura-na co'i-na sa-bua sa-suku ro waura," nggahi kai ba ina-n.
"Nahu wati bade-ku nggali co'i-na peo ede, ede-ra i'a ra kaporo kai lamada, nggara na-lu'u wali sara'a nai-s, ku-lembaku sa-mena-mena-na mawara ede," cambe kai La Daju.
Ntika, bala ai sidi, na-lao wali-ra di tamba-na, ntika na-eda-du maju na-wa'u-ra bini sampake di ade tamba-na.
"Au mai lu'u mena-m nggomi doho di ade tamba nahu, janga peo mataho, nggahi be ina-ku, losa mena nggomi doho," nggahi kai ba La Daju.
Ede-ra hengga wea kai ncai-na, ede-ra losa kai maju ede, ede-ra La Daju lao dula-n di uma-na. Sodi kai ba ina-na :
"Be-si peo ra-wa'u-mu, Daju'e?"
"Wati wara-na peo, maju mpa mamboto aka-n de," cambe kai ba La Daju.
"Ede, bakai-ku maju ede?" Sodi kai ba ina-n.
"Ku-wa'u-ra hori mena, nggahi ba ita ina, peo mataho," cambe kai ba La Daju.
Ede-ra kaporo kai ba ina-n ba supu da weha-na maju. Nggahi kai La Daju :
"Ede-ra kaporo ina-e. Nggara na-lu'u wali sara'a nai-sa, ku-wa'a mena-ku ba nahu."
Ntika, bala ai sidi, na-lao wali-ra di tamba-na. Na-eda mpa sa-bua Longga makidi di ade wudi tamba-n, dese-na ese woha ai. Nggahi kai ba La Daju :
"Ai binata, au rawi-mu lu'u di tamba nahu. Maju mataho nggahi ba ina-ku. Kapo ma ai ake ku-sanggapi wea-ku edi to'i-m ake, ne'e wa'a-ku ina-ku."
"Ai Daju-e, ai-na kancoki-mu nahu, nahhu ma-ufa nggomi kai sampari malabo jalitu," cambe kai ba Longga.
"Au one-na sampari ede ro au one-na jalitu ede?" Sodi kai ba La Daju.
"Indo kapo one-na ba sampari ede, nggara turu kai-sa dou, na-made lalo mpa, nggara ne'e sara kamori wali, kabe kai-ku tajo-na ede. Indo kapo one-na jalitu, nggara ta-ufi sara, na-ringa sara ba dou, mambaju ro matunti ro au-au mpara karawi-na, na-wi'i-ku rawi-na ede, na tu'u mpa'a lenggo," cambe kai ba Longga.
Nggahi kai ba La Daju : "Nggara na-ndede-s, ca-arapudu sampari malabo jalitu ede!"
Ede-ra mbei-kai ba Longga ede sampari malabo jalitu. Ede-ra hori kai-n Longga ede ba La Daju. Wa'u ba ede La Daju na-dula ja-ra di uma-na.
Raka-du di woha ncai, ntika na-eda mpara ompu mafati rui rangga. Ede-ra ufi kai-na jalitu ba La Daju. Na-ringa ba ompu eli jalitu ede, ede mpara tu'u maka kai ompu ede labo rebo-n mpa. Na-wa'u-du pule sara'a rui rangga aka-n de maka ro mpa'a kai ba ompu. Wati-du bae-bae-na ruku ro rawi ompu ede ba lalai ade-na maringa eli jalitu.
Ntika na-eda mpara ba La Daju rawi ompu ede, wati-na iu-na weki-na hina ba rui rangga, na-wa'u lelo sara'a edi ro sarumbu-na, wati iu-na ba ompu, na-naha-naha seke mpara mpa'a-na. Ede-ra dengga kai ba La Daju ma-ufi jalitu.
Ntika, na-wa'u mpudu dengga eli jalitu, ompu aka-n de, wati-du wa'u-na doho. Ede mpara maru sarenga-na di wawo rui mamboto ede. La Daju dula-r di uma-na. Ompu aka-n de wati-du wa'u-na kone kiri weki saraka mbia ai.
Ede-ra nggahi kai wei-na ba ompu :
"E dambe, lao tio ja-pu ama-mu maralao fati rui, ba bau wati ntene kai-pu mai-na saraka mbia ai ake, kapo de lao tio-pu!"
Ede-ra lao kai ana doho-n aka sera lao fati kai rui ba ama-n. Ntika na-eda-ku ama-na ede wunga maru sarenga-na ese wawo rui.
"Ai ama-e, ba bau-si nggomi, mu-pili loko-mu-ro?" Sodi kai ba ana doho-na.
Nggahi kai ba ama-na : "Wati pili loko nahu. Wara La Daju ma-ufi jalitu aka-n de, ede-ra tu'u rebo kai nahu. Wati romo iu-ku hina ba rui rangga sarumbu-ku. Wa'u mpudu dengga ufi-na, wati-du wa'u-ku nahu makiri weki, ede-ra ne'e maru kai-ku ese wawo rui ake."
Ede-ra kalei kai ba ana doho-na ede, lao wa'a lalo-ku aka uma Ruma Sangaji. Labo nuntu mena kai sa-mena-mena-na ra-rawi La Daju. Ede-ra kaporo kai Ruma-t Sangaji labo La Daju :
"Lao oou-pu binata ede! Bune-ku pahu-na ndai kancoki kai-na dou matua ake, kapo ede lao ou."
Nggahi kai ba ompu : "Nggara ta-mpabua-sa ou, te-leto pete wa'u-pu lamada di ri'i woha ake!"
Ede-ra lao ou kai La Daju. Mai kai La Daju di tando Ruma-t. Nggahi kai Ruma-t :
"Bune-ku-si ne'e kancoki kai-mu ompu ake nggomi Daju-e?" Na-wa'u-du winte-winte mena sarumbu-n ake."
"Wati wara lamada ma-ra-kancoki ompu. Lamada ku-ufi ndai-ndai-ku jalitu ake, ndake-ku ra-ufi ba lamada," cambe kai ba La Daju.
Ede mpara ufi-na ba La Daju. Ede-ra ringa kai ba Ruma-t ro sa-mena-mena-na dou madoho ede. Na-cua-cua tu'u rebo mena mpa. Ndai Ruma-t maseke poda rebo. Kone ompu ra-diki pete aka-n ede na-ne'e-ku bisa ai ra-diki kai sarumbu-na. Eda ndede ba La Daju, ede mpara lao rai-na di uma-na, na ne'e ra cili weki ese pamoka-na.
Ntika, na-wa'u mpudu dengga jalitu, na-cua-cua iu mena mpada di weki-na. La Daju wati-du wara-na. Nggahi kai ba Ruma-ta :
"Lao hade wea-pu La Daju!"
Ede-ra lao kai dou masabune-bune mboto lao di uma La Daju.
Ntika na-eda mpara ba La Daju mai dou mamboto malabo daha mena, ede-ra doho ao kai ba La Daju watu ese tantonga pamoka-na. Ede-ra wonto kai-na sampari, turu sa-bua-bua kai ba La Daju. Ede-ra cua made repa kai-na dou mamboto ede. Ndadi wara sa-bua ro dua-n da hina ba turu, ede malao rai ngge'e ada wali labo Ruma-t ro nggahi-na :
"Na-wa'u-ra made mena dou maralao, ntika-ntika na-mbo'o mpa di sarei La Daju."
Ede-ra kananu kai ade Ruma-t Sangaji. Wara pala bisa-r guna-na La Daju ake. Labo nggahi Ruma-t :
"Lao wa'a wea-pu peda sangaji kai nahu ake, tanda-na wati-du ndai hade, nde pala kau-pu kamori mena dou maramade ncau ede!"
Ede-ra lao kai dou malao wa'a peda sangaji kai. Eda kai ba La Daju. ede mpara londo ao kai-n ba La Daju ro sodi-na :
"Au habar wa'a kai-mu peda sangaji kai ede?"
"Wati-du ne'e hade nggomi, na-kangampu wea-du ra-ncara-mu, nde pala kamori mena wa'u-pu dou maramade ake," cambe kai ba dou ede.
"Taho mpa." Nggahi a La Daju.
Ede-ra kabe sa-bua-bua kai tajo sampari-na, ede-ra tu'u mena kai dou maramade aka-n de, na-wa'u-ra mori mena.Ede-ra lao kai La Daju ngge'e ada di Ruma Sangaji, malao raho kangampu ro na-suju ro nemba hawo ra ninu Ruma-t. 
Ede-ra kandadi kai ba Ruma-t Ruma-t Bicara La Daju ede. Ede mpara cumpu na.

 Di ambil dari :
Jonker, J.C.G..Bimaneesche Teksten (Mpama Mbojo).2004.Nusa Tenggara Barat
READMORE - La Daju

0 Udi-ro-mudi Labo Sahada Marimba

Wara-wara rua-n udi-ra-mudi labo sahada marimba makabela angi. Kento mpara ba ede, udi-ro-mudi na-ne'e lao ngupa ngaha. Pala udi-ro-mudi ake wara ana-n. Ede-r nggahi kai-na labo sahada marimba :
"Ai-cina-e, tongguto'i wea-pu ana nahu ake, ku-ne'e-ne'e lao ngupa ngaha."
"Taho mpa, cina-e, nahu matonggu-n," cambe kai ba sahada marimba. Ede-ra lao kai udi-r-mudi ngupa ngaha di sori. Lao fou mena-ku karondo, kapanto, karisa ro kambo'o, sanggilo ro kanaca. Ede-ra cua rai mena kai-na isi sori ede awa moti.
Ntika na-eda mpara ba londe di moti, sa-mena-na uta isi sori na-wa'u-du lao mena awa moti. Ede-r nggahi kai londe di moti :
"Karente mqena nggomi daxmbe, kombi wara lalehe-na rasa ra dana-ta."
Ede-ra cua karente mena kai londe di moti ede.
Ntika na-eda mpudu ba dou malao puka jala. Ede mpara nggahi kai-na labo lenga doho-n :
"He dambe, kombi wara lalehe rasa ro dana-ta, ne'e karente mena kai londwe di moti ake, kapo de taho-ra ta-lao kada aka uma-ta."
Ede-ra hinti kai-na loja labo loja mpa, sarunde-na makarawe, sarunde-na mawese, sarunde-na magala.
Ntika na-eda-du ba nasi tote-kaju dou maloja-loja, makarawe-rawe, mawese-wese ro magala-gala, ede-ra boe kai-na genda.
Ntika na-ringa-ku mpa ba sahada marimba eli genda malai-lai pahu, ede-ra tu'u maka ro hambu-na weki-n. Ntika na-hina upa-ku ana udi-ro-mudi ra-tonggu-na aka-n de, ede-ra made lelo kai-na ana udi-ro-mudi ede.
Makento ba ede, ntika na-dula mpara udi-ro-mudi ede. Na-eda-ku ana-na wau-ra made lelo. Ede-r dosi kai-na :
"Hai cina'e, ba-bau-si hade kai-mu ana nahu ake?"
"Hai cina-e, wati poda-poda ra-sengaja wea-ku hade ana-m ede. Ra-ringa-ku eli genda tote-kaju, ede-ra tu'u rebo kai nahu, hina upa-du ana nggomi," ede-r cambe kai ba sahada marimba.
"Wati tarima-ku ba nahu rawi nggomi ake. Mai-ra ta-lao paresa-ku di palando," nggahi kai ba udi-ro-mudi.
Mai ka-ra ndede-n palondo ede mandadi sangaji di wuba ake. Ede-ra lao sama kai dua-na ede di palando. Nggahi kai ba palando :
"Au habar nggomi doho ake?"
"Wara ana lamada ra-kau-ku sandaka sahada marimba lamada ku-lao ngupa ngaha awa sori. Poku lamada na-wa'u mpudu made lelo ana lamada ra-hade wea-na ba sahada marimba," cambe kai udi-ro-mudi.
"Bune wa'u-si lampa rawi-mu sahada marimba, au-si supu-na ndai hade kai-mu ana lenga-m ake?" sodi kai ba palando.
"Tampu'u-mpu'u-na na-hidi mancoki-ku ade-ku maringa boe genda tote-kaju, ede-ra tu'u rebo kai lamada, hina upa-du ana udi-ro-mudi," cambe kai ba sahada marimba.
"Lao ou-pu nasi tote-kaju ede!" Nggahi kai ba palando. Ede-ra lao ou kai, mai kai tote-kaju.
"Ba bau supu-na ka-eli kai-mu genda?" sodi kai ba palando.
"Bune-ku da boe kai-ku genda labo eda-ku dou maloja, makarawe-rawe wali ro mawese ro magala, ede asal-na ne'e boe kai-ku genda," cambe kai ba tote-kaju.
Nggahi kai ba palando :
"Lao ou-pu dou mamoti jala ede!"
Ede-ra lao ou kai. Mai ra dou mamoti jala.
"Au supu-na, nggomi doho, ne'e eda ai-mu maloja-loja ro karawe-rawe ro mawese-wese ro gala?" sodi kai ba palando.
"Kambia ade lamada doho ba supu eda-ku sa-mena-na londe di moti makarente mena," cambe kai ba dou mamoti jala.
"Lao ou mena-punlonde di moti ede!" Nggahi kai ba palando.
Ede-ra lao kai ou. Mai mpudu londe ede.
"Au supu-na ndai karente mena kai nggomi doho?" sodi kai ba palando.
"Bune-ku da karente kai lamada doho, eda-ku kanaca ro kambo'o, karondo ro kapanto, karisa ro sanggilo mangge'e mena di sori rai londo mena di moti. Ndadi kacai-du ba lamada doho lalehe rasa ro dana, ede asal karente kai lamada doho." cambe kai ba londe di moti.
"Lao ou-pu karondo ra kapanto, kanaca ro kambo'o, sanggilo ro karisa!" Ede-ra nggahi kai ba palando.
Ede-ra lao ou kai. Mai-ra sa-mena-na isi sori ede.
"Au supu-na. nggomi doho, mangge'e di sori lao rai mena awa moti?" Sodi kai ba palando.
"Bune-ku da lao rai kai lamada doho labo ra-fou ngaro ba udi-ro-mudi, ede lao rai kai awa moti," cambe kai ba isi sori ede.
"Nggara na-ndede sara, ncara wa'u ndai-mu, udi-ro-mudi." ede-ra nggahi kai ba palando.
Kapo ede ra-tarima-na ba udi, ana-n ede mamade upa ba sahe. Ede mpara cumpu na

 Di ambil dari :
Jonker, J.C.G..Bimaneesche Teksten (Mpama Mbojo).2004.Nusa Tenggara Barat
READMORE - Udi-ro-mudi Labo Sahada Marimba