Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,
Tampilkan postingan dengan label Masakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masakan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

0 Asal Mula Cita Rasa Masakan

     Makanan atau pangan merupakan salah satu dimensi kehidupan manusia sebagai mahkluk hidup. Namun berbeda dengan binatang dan tumbuhan, urusan pangan manusia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor2 lingkungan hidup semata seperti cuaca, kondisi tanah, gen. Namun juga oleh hal-hal lain seperti estetika, kultur, sosial, religi, bahkan politik, sebagai refleksi akan bagaimana suatu mahkluk cerdas mengolah apa yang dia dapat dari alam.


     Berbicara mengenai mengolah pangan, maka kita berbicara mengenai memasak suatu makanan, dan makanan yang dimasak disebut masakan.Awalnya cara memasak tertua dikenal sampai saat ini adalah membakar. Tidak ada yang tahu persis bagaimana manusia purba menemukan teknik ini, namun para ahli menduga bahwa mungkin manusia purba menemukannya dari ketika mereka memakan daging hewan yang mati dalam kebakaran hutan.

     Teknik pembakaran dan pemanggangan di atas bara api sendiri bisa ditemukan mulai dari masyarakat yang paling terisolir dan primitif sampai manusia modern. Namun kelihatannya, kunci untuk memasuki fase variasi memasak yang lainnya, muncul ketika manusia menggunakan tanah liat untuk alat memasak (pot masak). Dengan penemuan tanah liat, dan juga dengan teknik memasak dengan batu, manusia menemukan cara2 lain seperti merebus dan mengasap.

     Diperkenalkanya metalurgi juga membuka cara-cara baru dalam memasak, seperti menggoreng. Bangsa Mesir Kuno dipercaya menemukan proses menggoreng sekitar 2500 SM, dan sebelumnya sudah memasuki zaman tembaga pada 3300 SM, dan menggunakan besi sejak 2900 SM.

      Hubungan dagang dan penjajahan dalam sejarah juga membantu proses diperkenalkannya fauna, flora, serta cara memasak ke negara-negara yang berbeda. Hal ini mendorong munculnya modifikasi-modifikasi dalam memasak. Selain itu faktor pendukung modifikasi yang lain adalah perubahan alam. Bangsa-bangsa yang terpaksa berpindah tempat ke lokasi dengan kondisi alam baru karena bencana alam, atau menanam tanaman pangan jenis baru akan pula terdorong untuk merubah cara memasak dan bahan-bahan yang diperlukan. Pengenalan budaya dan agama juga bisa menyumbang ke perubahan ini, seperti pada ajaran Islam yang melarang makan babi.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Asal Mula Cita Rasa Masakan

0 Palumara Poco (Cumi Asem Manis)

     Bima memang unik dan klenik. Mulai dari pemandangan alamnya, busananya, budayanya, dan juga makanan khasnya.  Palumara Poco atau Cumi Kuah Asam ini merupakan salah satu kreasi cipta menu anak negeri. Poco atau cumi memang banyak terdapat di perairan sekitar Bima. Sebagai daerah maritim, Bima memang kaya akan hasil laut seperti cumi. Berikut ini adalah salah satu menu Cumi Kuah Asam dari hasil kreasi cipta menu ibu-ibu PKK di kelurahan Sadia.

Bahan – bahan :
- 150 gr Cumi
- 25 gr Daun labu kuning yang muda
- 100 gr udang
- 100 gr Ikan air tawar

Bumbu – Bumbu :
- 5 butir bawang merah, di iris tipis
- 1 btr bawang outih diiris tipis
- 1 iris laos , dikeprek
- 2 lbr daun jeruk
- ½ sdt bubuk kunyit
- 1 buah lombok besar diiris kasar
- 5 buah belimbing wuluh
- 1 sdt garam
- 1 sdt gula
- 1 buah tomat dipotong 4 (empat
- 1 gls air
- 2 tangkai kemangi

Cara Membuat :
- Cumi dan udang dibersihkan
- Ikan air tawar dibersihkan dan dicincang halus
- Berturut – turut, udang dibungkus dengan daun labu dibalut dengan ikan air tawar yang dicampur maizena dibungkus kembali dengan daun labu lalu masukkan ke dalam cumi
- Bumbu – bumbu ditumis sampai harum masukkan bubuk kunyit dan air 1 gelas
- Terakhir masukkan kemangi, angkat lalu diiris serong cuminya dan sajikan.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Palumara Poco (Cumi Asem Manis)

0 Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor)

     Tanaman kelor merupakan perdu dengan tinggi sampai 10 meter, berbatang lunak dan rapuh, dengan daun sebesar ujung jari berbentuk bulat telur dan tersusun majemuk. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun berwarna putih, buah besisi segitiga dengan panjang sekitar 30 cm, tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Menurut sejarahnya, tanaman kelor atau marongghi (Moringa oleifera), berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke Benua Afrika dan Asia-Barat.

      Bahkan, di beberapa negara di Afrika, seperti di Etiopia, Sudan, Madagaskar, Somalia, dan Kenya, sekarang mulai dikembangkan pula di Arab Saudi dan Israel, menjadi bagian untuk program pemulihan tanah kering dan gersang, karena sifat dari tanaman ini mudah tumbuh pada tanah kering ataupun gersang, dan kalau sudah tumbuh maka lahan di sekitarnya akan dapat ditumbuhi oleh tanaman lain yang lebih kecil, sehingga pada akhirnya pertumbuhan tanaman lain akan cepat terjadi.

      Bagi masyarakat Bima, Daun kelor sudah sangat akrab sebagai sayur dan pohon-pohon kelor ini banyak digunakan sebagai tanaman pagar di halaman-halaman warga maupun di kebun-kebun.

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan sayur daun kelor antara lain : 
1. 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk)
2. 1 genggam tauge pendek
3. 1 ikat kangkung
4. 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan)
5. 5 butir bawang merah (potong-potong)
6. 1 batang tamu kunci (potong-potong)
7. 2 liter air.

Bumbu-bumbunya cukup sederhana yaitu :
1. Garam secukupnya
2. Gula secukupnya
3. Penyedap rasa sedikit bila suka.

      Cara Membuatnya :
Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1cm. Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri.Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimakkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendit. Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang. Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor)

0 O'i Ta'a Oimbo

     Melintasi sepanjaang jalan lintas Bima-Sape tepatnya di sebelah timur Terminal Kumbe Kota Bima, kita akan menemukan kedai-kedai Oi Ta’a atau air lontar yang dijual warga di kelurahan Oimbo kota Bima. Oi Ta’a atau sebagian orang Bima juga menyebtunya dengan Oi Tua ini untuk harga satu botol dalam botol kemasan yang berisi 500 ml dijual seharga Rp.5000,-. Sedangkan dalam botol yang beisi 1500 ml air lontar dijual dengan harga Rp.10.000. Menurut Ramlah (40 thn), lebih dari 30 kepala keluarga di kelurahan ini menggantungkan hidup dari berjualan Oi Ta’a. Hampir setengah dari mereka yang memiliki kebun-kebun lontar yang lokasinya berada di sekitar kampung Oimbo. Sementara sebagian lainnya mengambil dari pemilik kebun dan menjual di kedai-kedai di pinggir jalan lintas Bima-Sape. Para penjual membeli air lontar dari pemilik kebun dengan harga Rp.2.500 untuk ukuran botol kecil dan Rp.7.500 untuk botol besar. Kemudian dijual dengan harga Rp.5000 untuk botol ukuran kecil(tanggung) dan Rp. 10.000 untuk botol ukuran besar. Jadi tiap botol air lontar mereka rata-rata mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 2.500.

      Menyadap air lontar tentu tidaklah mudah. Hanya orang-orang tertentu dan yang memiliki keahlian memanjat pohon lontar yang dapat menyadapnya. Karena ketinggian pohon-pohon lontar ini bisa mencapai lebih dari 20 meter. Pada umumnya ketinggian pohon lontar berkisar antara 15 sampai 20 meter. Kehati-hatian dan kondisi prima sangat dibutuhkan dalam memanjat pohon lontar, karena sering kali terjadi pemanjat yang jatuh dan menyebabkan patah tulang hingga berujung kematian. Untuk memanjat pohon lontar, warga Oimbo biasa menggunakan RANGGE. Rangge adalah semacam tangga yang dibuat dari bambu yang dikenal dengan OO TODO. Bambu ini adalah memang jenis bambu yang biasa digunakan untuk memanjat pohon lontar karena disetiap ujung pangkalnya dapat dipasangkan kayu sebagai tempat pijakan pada saat memanjat.

     Waktu yang tepat untuk mengambil air lontar adalah pada pagi hari dan sore hari. Sementara produksi air lontar yang melimpah di Oimbo ini berlangsung dari bulan April hingga Agustus. Pada musim hujan produksi air lontar dari kebun-kebun warga berkurang. Agar air lontar tahan lama dan bisa disimpan dalam botol selama dua sampai tiga hari, warga merebus sekitar setengah jam. Karena berdasarkan pengalaman warga, air lontar hanya bertahan beberapa jam, setelah itu akan terasa asam. Oleh karena itu, meminum air lontar yang menyegarkan adalah pada saat baru disadap dari pohonnya.

      Air buah Lontar memiliki rasa manis bercampur asam dan beraroma khas bisa menjadi pilihan yang cocok untuk dijadikan minuman pembuka pada saat buka puasa. Selain memiliki rasa yang unik, air buah tersebut dipercaya bisa membuat orang yang meminumnya lebih berenergi dan tahan lapar. Hal inilah yang membuat air tersebut diburu oleh Umat Islam, khususnya di Bulan Ramadhan. Disamping itu air lontar juga diyakini dapat menurunkan tekanan darah tinggi.

      Disamping airnya, lontar memiliki banyak manfaat antara lain daunnya dapat digunakan sebagai bahan membuat rokok, bahan Topi dan untuk membuat payung (Paju longge) dalam upacara-upacara adat Bima. Dan pada jaman dulu ketika manusia belum mengenal kertas, daun lontar merupakan media dan alat untuk menulis. Terbukti dalam naskah-naskah kuno kerajaan Bima maupun Gowa menggunakan daun lontar yang dikeringkan.

      Sedangkan Rasa buahnya terbilang unik. Daging buahnya empuk, segar, manis, seperti daging buah kelapa. Ditambah lagi, air segar dari dalam buahnya agak terasa manis. Memakan buah lontar rasanya seperti memakan kelapa muda dengan airnya sekaligus. Namun, untuk mencicipi sebuah lontar seukuran kolang-kaling tersebut memerlukan perjuangan besar karena harus mengupas kulit buah lontar yang sangat tebal.

      Kulit buah lontar tebal seperti buah kelapa. Di dalam kulit buah yang tebal tersebut terdapat dua sampai empat buah serupa biji kolang-kaling.

      Satu pohon lontar dapat menghasilkan sekitar enam liter air lontar tiap hari. Daging buah lontar setengah tua dijadikan makanan ternak.

      Air lontar bisa dimasak menjadi gula air atau disebut juga dengan tuak nasu. Gula air berwarna kuning kecokelatan. Bila gula air dimasak hingga kering dan dibentuk lempengan akan disebut gula lempeng. Tapi proses ini menurut penuturan warga sangat panjang dan melelahkan.

      Kembali ke nama Oimbo. Dalam legenda tanah Bima,nama kampung ini diberikan oleh Raja Indra Zamrut untuk mengenang adiknya Indra Komala yang telah memakjulkan diri di sebuah mata air di ujung selatan kampung ini karena adanya perselisihan di antara keduanya mengenai mata pancing Indra Zamrut yang dihilangkan oleh Indra Komala. Nama Oinbo berasal dari Oi Mbora (Air Yang Hilang) karena di mata air itulah Indra Komala menenggelamkan diri hingga menghilang.

      Kebiasaan warga Oi Mbo mengambil dan menjual air lontar sudah berlangsung turun termurun. Perlu sentuhan-sentuhan pemberdayaan untuk penjual air lontar ini agar mereka dapat terus bergelut dengan berjualan air lontar sekaligus mewarisi budaya leleluhurnya. Estetika dan pariwisata, perlu penataan kedai—kedai ini agar teratur dan tertata rapi sehingga menarik minat orang yang melintas untuk sekedar mampir beristirahat sambil menikmati Oi Ta’a Oi Mbo.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - O'i Ta'a Oimbo

0 Saronco Wua Parongge

     Disamping daun, buah kelor juga bisa diramu menjadi sayur. Bagi masyarakat Bima, sayur buah kelor bisa dibuat sayur santan dengan daging Rusa, tulang Rusa maupun diramu dalam bentuk sayur asam yang dikenal dengan Saronco Wua Parongge. Dalam bahasa Jawa buah kelor disebut klentang. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa).


     Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.Buah kelor diketahui mengandung alkaloida morongiona yang bersifat merangsang pencernaan makanan. Buah kelor ini biasanya disayur asam sebagai sayur yang lezat bagi orang Bima.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat Saronco Wua Parongge antara lain :
1. 8 batang buah kelor yang besar tapi tidak tua
2. 1 ikat kangkung
3. 5 butir bemea (okra)
4. 6 butir bawang merah (potong-potong)
5. 1 buah tomat ukuran besar
6. 2 liter air
7. 1 gelas air asam
8. 3 batang asam matang.

Bumbu-bumbunya antara lain :
1. Garam secukupnya
2. Gula seujung sendok teh
3. Penyedap rasa sedikit bila suka.

Cara membuatnya :
Siangi buah kelor dengan cara membuang kulitnya kemudian potong sepanjang 7 atau 8cm, kangkung dipotong-potong, okra dipotong-potong kira-kira 1-2cm (pisahkan), tomat dan bawang dipotong-potong. Rebus air hingga mendidih, masukkan buah kelor terlebih dahulu kemudian diikuti sayuran lainnya. Masukkan bawang merah, tomat dan air asam serta garam dan gula.  Dan masak terus hingaga matang jangan sampai terlalu matang karena buah kelor akan terpisah-pisah dan bamea akan terlalu berlendir.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Saronco Wua Parongge

0 La'da Puru (Urap Bakar)

     Satu lagi Menu kuliner khas Bima yang saya suguhkan untuk teman-teman Kampung Media NTB Masyarakat luas.  Adalah Lada Puru alias Urap Bakar. Menu ini kami dapatkan dari hasil lomba cipta menu ibu-ibu PKK Kabupaten Bima.Mengkonsumsi Lada atau Urap merupakan kebiasaan masyarakat Bima sejak dulu. Bahan-bahannya adalah sayur-sayuran yang banyak terdapat di sekitar pekarangan rumah seperti kacang panjang, jantung pisang, asam, kecambah dan lain-lain. Berikut adalah bahan dan cara membuat Lada Puru.


Lada Puru ( urap bakar) :
- 50 gr Kecambah
- 50 gr kacang panjang, dipotong pendek ½ Cm
- 150 gr Jantung pisang, rebus dengan asam + garam
- ½ btr kelapa dibakar dan diparut
- 1/6 Btr Kelapa disangrai dan ditumbuk
- 1 sdm wijen yang sudah digoreng dan ditumbuk kasar
- 1 buah lombok besar
- 1 sdt garam
- 1 sdt gula
- 1 buah bawang putih dibakar
- 3 btr bawang merah dibakar
- 50 gr lempuyang muda
- 1 buah jeruk purut

Cara Membuat :
- Rebus jantung pisang bersama 1 lonjor asam dan 1 sdm garam sampai masak diambil yang muda lalu dipotong – potong
- Rebus semua bahan kemudian ditiriskan
- Haluskan bumbu – bumbu campur dengan kelapa tumbuk dan wijen, parut jeruk purut dan peras airnya, kemudian campur dengan sayuran.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - La'da Puru (Urap Bakar)

0 Kue Bunga dan Tamusinci

     Jajan Bunga dan Jajan Cincin (Pangaha bunga dan pangaha sinci : Bahasa Bima) merupakan satu di antara sekian jenis makanan khas daerah Bima yang secara turun temurun di lestariakan hingga saat ini.   
 
     Bahan-bahan kedua jenis jajan ini sangatlah sederhana. Semua orang pasti bisa membuatnya jika mengetahui bahan da cara pembuatannya. Tetapi belum tentu rasa yang di hasilkan se-nikmat rasa yang tercipta dari tangan para pembuat (pengrajin) asli. Tangan-tangan mereka telah terbiasa dan memiliki teknik-teknik yang mungkin tak di ketahui oleh orang lain.


      Marsita salah seorang Pengusaha Jajan Bunga yang telah cukup lama menekuni usaha ini mengatakan Pangaha Bunga buatannya banyak di minati masyarakat Bima maupun luar Bima seperti Sumbawa, Mataram, Denpasar dan Jakarta. Rasa pangaha buatannya sangat enak dan gurih. Namun uniknya Marsita tidak menjajakan jualannya di pasar-pasar maupun di took-toko. Alasannya, Ibu paruh baya yang dalam proses pembuatannya di bantu oleh sang suami Arrahman M. Ali, SE ini menerima banyak psanan dalam setiap harinya sehingga tidak punya waktu untuk membuat lebih banyak lagi. Biasanya Masita yang merupakan Sarjana Hukum ini membuat Pangaha Bunga paling sedikit jumlah bahannya 10 kg “itu jika tidak ada pesanan, orang-orang saja yang datang langsung membeli ke rumah. Tapi bila ada pesanan ia membuat Pangaha berbentuk bunga tersebut sebanyak 20 s/d 40 kg bahan. Apalagi kalau lebaran sampai 50 kg” ceritanya. Sementara harga jajan ini per buahnya 100. Tetapi jika ada orang yang ingin jajan tersebut lebih gurih maka akan ditambahkan telur bebek dalam adonannya.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Kue Bunga dan Tamusinci

0 Manggemada (Gulai Jantung Pisang)

     Kalau pada umumnya di Indonesia memang Jantung Pisang bisa  diramu dan dibuat untuk berbagai jenis masakan. Di Bima Jantung Pisang ini bisa juga diramu dalam berbagai bentuk masakan salah satunya adalah Manggemada atau Gulai Jantung Pisang.


Bahan utama kuliner ini adalah :
1. Jantung Pisang
2. Santan kelapa
3. Udang.

Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain : 
1. 1 buah jantung pisang kapok
2. 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan)
3. 1 gelas santan kental dari 1 kelapa
4. 300gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya)
5. 1 butir jeruk nipis (ambil airnya).

Bumbu-bumbunya antara lain :
1. 5 buah cabe keriting
2. 7 butir bawang merah
3. 5 buah belimbing wuluh
4. Garam secukupnya.

Cara Membuatnya :
yaitu Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya) kemudian Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong lalu diperas (buang air getirnya), lalu Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam. Masukkan santan dan air jeruk nipis, dan terakhir masukkan udang yang sudah direbus.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Manggemada (Gulai Jantung Pisang)

0 Kue Ikan (Pangaha Mangdo)

     Ternyata ikan juga bisa diramu menjadi jajan. Buktinya adalah Pangaha Mangdo. Ini adalah sejenis Kue yang berbahan dasar ikan Mangdo,tepung terigu,gula dan mentega untuk kulitnya. Sedangkan isinya adalah ikan mangdo yang sudah dijadikan Abon. Resep menu ini diperkenalkan oleh Pokja III TP.PKK Kabupaten Bima pada lomba memasak menu serba ikan tingkat Propinsi NTB Tahun 2010. Simak menu selengkapnya.


BAHAN KULIT :
1. 150 Gram Tepung Ikan Mangdo
2. 100 Gram Tepung Terigu
3. 50 Gram Gula Halus
4. 125 Gram Mentega
5. 2 Butir Kuning Telur

BAHAN ISI :
1. Merica
2. Bawang Putih
3. Bawang Mereh
4. Laos
5. Ikan Mangdo di Buat Abon

CARA MEMBUAT :
1.      Kocok mentega dengan mentega gula halus, lalu masukan kuning telur, tepung terigu dan tepung ikan mangdo dan dijadikan adonan.
2.      Bentuk adonan lalu masukan abon dan di oven.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Kue Ikan (Pangaha Mangdo)

0 Palumara Londe

     Londe atau ikan Bandeng cukup banyak di Bima. Tambak Bandeng cukup luas di wilayah Kota Maupun Kabupaten Bima.Jenis ikan ini tentu sangat akrab dengan masyarakat Bima. Banyak kreasi dan cita rasa masakan yang dapat diolah dari Bandeng. Salah satunya adalah Palumara ( kuah Asam).


     Bahan-bahan dan resep yang dibutuhkan untuk menu masakan ini tidaklah sulit dan jika dibeli dengan harga yang sangat terjangkau. Kadang-kadang juga ada di sekitar halaman rumah.

Adapun bahan-bahan resep Palumara Londe antara lain :
1. 1 ekor ikan bandeng ukuran sedang (6-7ons) bersihkan sisik dan isi perutnya (bila suka biarkan saja isi perutnya, buang empedunya saja), potong 5 bagian
2. 1 batang sereh
3. 1 ruas jari lengkuas memarkan
4. 1 ikat daun kemangi atau segenggam
5. 1 sendok makan minyak goreng untuk menumis
6. 100cc air asam jawa/bima dari 2-3 buah asam matang
7. 2 gelas air untuk kuah.

Untuk membuat Palumara Londe dibutuhkan bahan-bahan bumbu seperti :
1. 2 cabe merah
2. 5 butir bawang merah
3. 3 siung bawang putih
4. 1 buah tomat ukuran sedang
5. ½ ruas jari kunyit
6. Garam secukupnya.

Berikut Cara membuat Palumara Londe :

Cara 1
Panaskan minyak, setelah panas masukkan bumbu yang sudah dihaluskan diikuti sereh dan lengkuas, setelah harum masukkan ikan bandeng aduk aduk dan biarkan beberapa detik lalu masukkan air asam ditambah 2 gelas air. Masak di atas api sedang selama kira-kira 20 menit, setelah matang masukkan kemangi, tambahkan sedikit gula atau penyedap rasa bila suka. Siap dihidangkan

Cara 2
Bumbu-bumbu di atas tidak dihaluskan tapi cukup diiris tipis-tipis, bila suka tambahkan irisan belimbing wuluh tetapi air asam harus dikurangi.
Siapkan panci atau penggorengan. Campur minyak dan semua bumbu yang sudah diiris serta ikan bandeng ke dalam panci serta air asam dan 2 gelas air. Rebus kira-kira selama 20 menit , selanjutnya ikuti cara 1 di atas. (Rasanya lebih segar)

Cara 3
Bila bandeng diganti dengan udang, rasanya hamper mirip dengan tom yam kung (masakan Thailand), tambahkan bubuk cabe saja dan daun jeruk lengkuas dan daun sereh diperbanyak.
READMORE - Palumara Londe

0 Tumi Sepi

     Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut Sepi Bou). Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas.

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam meramu Tumi Sepi antara lain : 
1. 2 sendok makan Sepi
2. 1 ruas jari lengkuas
3. 1 lembar sereh
4. 2 genggam kemangi
5. 1 sendok makan minyak goreng
6. 100ml air


Sedangkan bumbu-bumbunya harus semua diiris, antara lain : 
1. 10 butir bawang merah
2. 5 siung bawang putih
3. 1 buah tomat ukuran besar
4. 7 buah belimbing sayur
5. 5 buah cabe keriting
6. 1-15 buah cabe rawit biarkan utuh
7. Garam secukupnya
8. Gula pasir ½ sendok teh

Cara Membuatnya
  • Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100ml air,
  • aduk-aduk terus hingga matang.
  • Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat.
  • Siap dihidangkan dengan lalapan.
  • Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening.
      SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir).Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado).
READMORE - Tumi Sepi

0 Uta Kato Basa Tarindi Mangge

     Uta Kato Basa Tarindi Mangge adalah ikan laut yang dipepes dengan pucuk daun asam yang dicampur bahan-bahan lainnya. Karena dipepes, dijamin cita rasa kuliner yang satu ini bebas lemak dan kolesterol dan sangat cocok disantap orang-orang yang punya masalah dengan kolesterol dan lemak. Berbagai jenis ikan dapat dipepes dengan menu Tarindi Mangge (Pucuk Daun Asam) ini, tetapi kebanyakan ikan yang digunakan adalah bandeng, kakap dan kerapu.


Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam mengolah menu ini antara lain :
1. 1/2kg ikan kakap atau bandeng atau ikan apa saja sesuai selera
2. 1 batang sereh
3. 1 ruah jari lengkuas
4. 1 genggam kemangi.

Sedangkan bumbu yang dihaluskan terdiri dari : 
1. 2 buah cabe merah atau keriting
2. 10 butir kemiri
3. ½ ruas jari jahe
4. 10 butih bawang merah
5. 5 siung bawang putih
6. ½ ruas jari kunyit/bisa juga tidak pakai
7. 2 jumput tarindi (pucuk daun asam).

Cara meraciknya :
Amatlah sederhana yaitu lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan serta campurkan dengan sereh, lengkuas dan kemangi, pepes dengan daun pisang menjadi 3 bungkus. Panaskan wajan lalu taruh ikan pepes diatasnya, bolak balik sampai matang di atas api kecil – sedang.

Uta Kato Basa Tarindi Mangge siap disajikan dengan aroma khas daun kemangi dan pucuk daun asam. Betul-betul mengundang selera. Apalagi dicelupkan ke sambal pedas.
Selamat Menikmati :)
READMORE - Uta Kato Basa Tarindi Mangge

0 Puding Tiram

     Puding tidak hanya dibuat dari bahan tepung, tapi juga bias dibuat dari bahan dasar ikan terutama Tiram dapat diolah menjadi pudding. Bahan dasarnya adalah Tiram, Kuning Telur, Tepung Agar-Agar serta adonan lainnya. Menu ini diperkenalkan oleh Pokja III TP.PKK Kabupaten Bima pada lomba memasak menu serba ikan tingkat Propinsi NTB Tahun 2010. Simak menu selengkapnya.


BAHAN A. :
1. 200 Gram Tiram
2. 1 Butir Kuning Telur
3. 25 Gram Tepung Agar – Agar Putih
4. 250 cc Santan
5. 1 sdm Gula Pasir
6. 2 sdm Susu Kental
7. ½ sdt Garam Yodium

BAHAN B :
1. 100 Gula Pasir
2. 25 Gram Agar – Agar Putih
3. 250 cc Air

CARA MEMBUAT

BAHAN A :
Tiram disiram air hangat, kemudian ditiriskan, selanjutnya di blender campur dengan santan, garam, kemudian masukin tepung agar – agar beru di kocok, masa hingga matang.

BAHAN B :
Gula dikaramel di campur dengan agar – agar kemudian di masak hingga matang, masukan dalam cetahan dengan cara bergantian (dilapis).
Nah, Pudding berbahan dasar tiram siap disajikan.
READMORE - Puding Tiram

0 Bingka Dolu (Jajanan Khas Bima)

     Bingka Dolu adalah sejenis kue khas Bima Dompu yang berbahan dasar tepung terigu, telur, gula dan beberapa adonan lainnya. Simak menu, bahan dan cara pembuatannya sebagai berikut : 

Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. 500gr tepung terigu
2. 500gr telur
3. 400gr gula pasir
4. 5 gelas santan dari 2 kelapa ukuran sedang
5. 1 gelas air pandan suji (untuk pewarna hijau)
6. ½ sendok teh garam
7. Minyak untuk mengoles cetakan.


Cara Membuatnya
  • Campur telur dan gula kemudian kocok sebentar sampai gula hancur dan berbuih (tidak sampai mengembang)
  • Masukkan santan dan air suji serta garam, aduk-aduk
  • Masukkan terigu sedikit demi sedikit, aduk terus sampi tercampur dengan baik
  • Panaskan cetakan, olesi dengan minyak tau mentega setelah panas tuangi adonan setengah sampai tiga per empat cetakan saja (jangan penuh), tutup.
  • Setelah matang angkat dengan menggunakan 2 sendok makan.
*Pastikan cetakan terbuat dari kuningan yang menghantarkan panas dengan baik*
READMORE - Bingka Dolu (Jajanan Khas Bima)

Rabu, 27 Juni 2012

0 Kadodo dari Desa Nunggi Wera

     Dodol atau yang dalam bahasa Bimanya disebut kadodo telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Bima sejak enek moyang.

     Di Bima, makan ini telah secara turun temurun dibuat oleh masyarakat di Kecamatan Wera. Meskipun pembuatan dodol semacam ini juga banyak dibuat oleh masyarakat di wilayah lainnya, tetapi dodol yang terkenal adalah kadodo Wera. Ada satu desa di kecamatan Wera yang orang-orangnya sangat aghli membuat kadodo yaitu di desa Nunggi.

     Pada masa lalu, pembuatan kadodo hanya dilakukan pada saat ada hajatan seperti perkawinan, khatam al-qur'an, khitanan dan lain-lain. Pembuatan kadodo dilakukan secara gotong royong oleh warga di iringi musik tradisional Bima seperti biola dan gambo, rawa mbojo serta atraksi Gantaong. Sambil menonton dan menikmati musik dari permainan itu, para pembuat kadodo memaruk kelapa, mengumpulkan kayu bakar, manggali Rubu (semacam tungku perapian yang digali terlebih dahulu untuk memasukkan kayu-kayu bakar). Sambil berpantun dan bersyair para pembuat kadodo mengaduk kadodo dengan kayu kosambi sepanjang satu meter yang memang telah disiapkan sebagai pengaduk Kadodo.

     Untuk membuat dodol yang bermutu tinggi cukup sulit karena proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan keahlian. Dalam tahap pembuatannya, bahan-bahan dicampur bersama dalam kuali yang besar dan di masak dengan api sedang. Dodol yang dimasak tidak boleh di biarkan tanpa pengawasan, karena jika di biarkan begitu saja, maka dodol tersebut akan hangus pada bagian bawahnya dan akan membentuk kerak.

     Oleh sebab itu, dalam proses pembuatannya campuran dodol harus di aduk terus menerus untuk mendapatkan hasil yang baik. Waktu pemasakan dodol kurang lebih 4 jam dan jika kurang dari itu, dodol yang dimasak akan kurang enak untuk dimakan. Setelah 2 jam, pada umumnya campuran dodol tersebut akan berubah warnanya menjadi coklat pekat. Pada saat itu pula campuran dodol tersebut akan mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Untuk selanjutnya, dodol harus di aduk agar gelembung-gelembung udara yang terbentuk tidak meluap keluar dari kuali sampai saat dodol tersebut matang dan siap untuk di angkat. Yang terakhir, dodol tersebut harus didinginkan dalam periuk yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan rasa yang sedap, dodol harus berwarna cokelat tua, berkilat dan pekat. Setelah itu, dodol tersebut bisa dipotong dan di makan.

     Selama ini pembuatan kadodo Wera masih bersifat tradisional terutama pada saat hajatan saja. Pemasarannya pun nyaris tidak pernah dilakukan diluar kecamatan Wera. Perlu upaya pendekatan, fasilitasi dan sentuhan pemberdayaan terhadap para pembuat Kadodo Wera agar produk warisan leluhur ini mampu menerobos pasar. Seperti dodol garut dan dodol-dodol lainnya di tanah air.

Di Ambil Dari :
http://bimaitumbojo.blogspot.com
READMORE - Kadodo dari Desa Nunggi Wera

0 Soto Kopa Sahe

     Bagi warga Bima, menu kopa sahe merupakan salah satu menu pilihan untuk berbuka puasa. Yah, kopa sahe hanya dikenal di desa Tente Kabupaten Bima. Seperti apa makanan khas Bima yang satu ini? 

     Desa Tente Kecamatan Woha Kabupaten Bima sudah lama dikenal sebagai urat nadinya perekonomian di daerah ini. Bisa dikatakan Tente merupakan pusat perdagangan dan perbelanjaan masyarakat dari berbagai pelosok pedalaman di Kabupaten Bima seperti dari Langgudu, Parado, Monta, Belo, Palibelo.

     Di samping itu, di desa ini juga terdapat satu tempat pemotongan hewan yang di kenal dengan BANTE. Pemotongan hewan seperti kerbau, sapi dan kambing dilakukan setiap hari.

     Ada satu makanan khas dari desa ini yaitu Soto kaki kerbau atau yang dikenal dengan Kopa sahe. Ini adalah salah satu produk andalan desa tente yang cukup banyak digemari oleh berbagai kalangan, baik orang Bima sendiri maupun orang luar Bima. Kopa sahe merupakan makanan yang berbahan dasar dari kaki kerbau.

     Kaki kerbau di olah dan dimasak dengan bumbu yang telah di tentukan jenis dan porsinya. Salah satu pedagang kopa sahe Rohana Ahmad yang telah lama melakoni profesi ini mengatakan kopa sahe cukup diminati. Kisaran hasil yang diperolehnya setiap hari adalah 300-400 ribu rupiah. Namun menurutnya hasil tersebut belum mampu digunakan untuk modal mengembangkan usahanya tersebut. Harapnya pihak Pemerintah memperhatikan pedagang-pedagang kecil agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan prodak daerah sehingga kian diminati dan dilirik khalayak ramai.

     Hanya saja, penjualan dan pemasaran makanan ini masih dilakukan secara tradisional dengan dijajakan dari kampung ke kampung. Belum ada satupun pedagang kopa sahe yang menjual di depan jalan utama Tente atau warung-warung di pasar Tente. Justru yang banyak dijumpai di depan jalan-jalan utama Tente adalah watung dan rombong bakso, nasi campur dan soto serta sate kambing. Ini tentunya menjadi PR bersama untuk mendorong para pedagan kopa sahe menjual makanan ini di depan jalan-jalan utama tente agar mudah dilihat dan dikunjungi daripada berada di dalam kampung seperti yang dilakukan selama ini.

     Desa Tente letaknya tidak jauh dari Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Jika menggunakan kendaraan bermotor cukup menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Secara geografis desa ini berdaratan rendah dan di apit oleh sawah. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Naru, sebelah utara berbatasan dengan Rabakodo, sebelah barat berbatasan dengan Samili dan sebelah timur berbatasan dengan desa Cenggu kecamatan Belo. Baru-baru ini Tente dimekarkan menjadi dua bagian yaitu desa Nisa dan desa Naru. Dengan jumlah penduduk sebanyak 3.383 orang dan 878 kepala keluarga, sumber mata pencaharian masyarakat Tente beragam, diantaranya pedangan, petani, pelaut, dan PNS.

Di Ambil Dari :
http://bimaitumbojo.blogspot.com
READMORE - Soto Kopa Sahe

Kamis, 23 Juni 2011

0 Tumi Sepi (Tumis Udang Rebon)

Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut Sepi Bou). Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas.
Bahan-bahan yang dibutuhkan:
*   2 sendok makan Sepi
*   1 ruas jari lengkuas
*   1 lembar sereh
*   2 genggam kemangi
*   1 sendok makan minyak goreng
*   100ml air Bumbu-bumbu (Semuanya diiris-iris)
*   10 butir bawang merah
*   5 siung bawang putih
*   1 buah tomat ukuran besar
*   7 buah belimbing sayur
*   5 buah cabe keriting
*   1-15 buah cabe rawit biarkan utuh
*   Garam secukupnya
*   Gula pasir ½ sendok teh Cara Membuatnya
*  Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100ml air,
*   aduk-aduk terus hingga matang.
*   Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat.
*   Siap dihidangkan dengan lalaban.
*   Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening.
    SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir). Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado).
READMORE - Tumi Sepi (Tumis Udang Rebon)

0 Mangge Mada (Gulai Jantung Pisang)

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
 * 1 buah jantung pisang kepok
* 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan)
* 1 gelas santan kental dari 1 kelapa
* 300gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya)
* 1 butir jeruk nipis (ambil airnya) Bumbu-bumbu (potong-potong sesuai selera)
* 5 buah cabe keriting
* 7 butir bawang merah
* 5 buah belimbing wuluh
* Garam secukupnya Cara Membuatnya
* Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya)
* Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong lalu diperas (buang air getirnya)
* Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam.
* Masukkan santan dan air jeruk nipis,
* terakhir masukkan udang yang sudah direbus.
*Udang dapat digantikan dengan : Cumi atau Ikan Pari yang dipindang atau Cingur Sapi/Kulit yang dibakar terlebih dahulu.
READMORE - Mangge Mada (Gulai Jantung Pisang)

0 Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor)

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
* 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk)
* 1 genggam tauge pendek
* 1 ikat kangkung
* 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan)
* 5 butir bawang merah (potong-potong)
* 1 batang tamu kunci (potong-potong)
* 2 liter air Bumbu-bumbu
* Garam secukupnya
* Gula secukupnya
* Penyedap rasa sedikit bila suka Cara Membuatnya
* Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1cm.
* Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri.
* Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimakkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendit.
* Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang.
* Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange.
READMORE - Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor)

0 Uta Janga Puru (Ikan Ayam Bakar)

Bahan-bahan yang dibutuhkan
1 ekor ayam kapung yang sedang besarnya.
Alat pembakaran beserta arang

Bumbu yang dihaluskan
15 butir lada
4 siung bawang putih
3 butir bawang merah
½ sendok makan garam
1 sendok makan minyak goreng (campurkan pada bumbu yang dihaluskan)

Cara Membuatnya
Ayam dibersihkan, dibelah dada (bekakak), potong kakinya hingga 5 senti dibawah ruas paha.
Lumuri ayam dengan bumbu yang sudah dihaluskan diamkan selama 30 menit.
Sementara menuggu ayam didiamkan, buatlah bara diatas pemanggang.
Setelah siap, panggang ayam sambil di bolak balik agar tidak hangus.
Setelah matang siap dihidangkan panas-panas dengan sambal dhoco sia dungga (sambal bawang)
READMORE - Uta Janga Puru (Ikan Ayam Bakar)