Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,
Tampilkan postingan dengan label Bimaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

0 Pulau Ular Bima

     Mendengar nama  ” Ular ” anda janga dulu merasa takut atau trauma. Yakinlah bahwa ribuan ular yang ada di pulau ular ini tidaklah seseram yang anda bayangkan. Ular-ular di pulau ini sangat ramah dan bersabahabt dengan manusia. Mau buktikan ? Untuk itu, kunjungilah “ Pulau Ular “ yang  berada di desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima.


     Salah satu pulau yang berada di tengah perairan bagian timur wilayah kecamatan Wera. Pulau ini juga bersebelahan dengan dua obyek wisata andalan daerah kabupaten Bima, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Pulau ini merupakan habitat bagi  populasi ular laut dengan keunikan warnannya putih silver dengan kombinasi hitam kilat. Ular-Ular  ini jinak dan bersahabat dengan wisatawan yang mengunjunginya. Pulau ular dapat dijangkau  dengan  jarak tempuh sekitar  45 menit perjalanan dari kota Bima menggunakan transportasi darat. Selanjutnya untuk menuju Pulau Ular, anda menggunakan perahu /sampan yang  telah disediakan masyarakat sekitar dengan waktu tempuh 15 menit dari daratan.

     Mengunjungi  obyek wisata “ Pulau Ular “ Anda juga disuguhkan dengan keindahan pesona laut Bima. Dari pulau ini juga anda dapat melihat Gunung Api Sangiang yang terus diselimuti kabut serta keindahan pulau-pulau karang lainnya. Masyarakat Wera dan sekitarnya juga menamai pulau ini dengan Nisa yang juga berarti pulau. Panjang pulau karang ini sekitar 15 meter dan lebar sekitar 7 meter dengan ketinggian sekitar 6 meter.

     Dalam legenda pulau ular merupakan jelmaan dari kapal protugis yang terdampar di perairan Wera. Ular-ular tersebut adalah jelmaan para penumpang dan ABK Kapal. Sedangkan dua pohon Kamboja yang tumbuh di kedua sisi pulau itu merupakan jelmaan dari tiang-tiang kapal portugis. Meskipun itu adalah legenda, namun Pulau Ular sudah semakin dikenal dunia. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke pulau ini. Pemerintah Daerah harus segera menata pulau ini, membangun fasilitas jalan, fasilitas semacam baruga-baruga di pinggir pantai desa Pai untuk disewakan kepada pengunjung dan akan menjadi sumber PAD bagi Daerah. Semoga…..!

READMORE - Pulau Ular Bima

0 Anugerah Terindah Di Pesisir Utara Bima

     Potensi kelautan, perikanan dan wisata bahari yang dimiliki Bima cukup besar. Namun sayang potensi dan peluang ini belum dimanfaatkan secara optimal. Di kabupaten Bima saja, potensi perairan untuk usaha penangkapan seluas 713,6 km. Potensi produksi lestari diperkirakan 5.019,90 Ton di perairan Pantai dan 37.284,75 Ton di perairan lepas pantai. Ini adalah sebuah anugerah dan rahmat yang dititipkan Sang Khalik Kepada Daerah ini dan generasinya.


     Salah satu anugerah iu adalah Pesona Pantai Mawu di kecamatan Ambalawi. Pantai Mawu yang  terbantang sepanjang jalur Ambalawi- Wera cukup menjanjikan harapan baik dari segi perikanan kelautan maupun wisata Bahari dan wisata Pantai. Tidak hanya Pantai Mawu, sepanjang perjalanan kita akan menemukan pantai-pantai indah berpasir putih seperti pantai Nipa, Pulau Sangeang, Pulau Ular, serta Ujung Kalate.

      Sejak dulu pantai Mawu dan sekitarnya selalu menjadi persinggahan kapal-kapal dan perahu-perahu pendatang  untuk mengambil air maupun beristirahat dari terpaan angin musim. Dari pantai ini kita dapat melihat lalu lalang kapal-kapal besar yang menuju ke Sulawesi maupun Indonesia bagian timur. Bila malam tiba, di sekitar perairan ini banyak terdapat bagang-bagang dan perahu nelayan yang mencari ikan. Pantai Mawu dan sekitarnya dapat ditempuh baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar 45 menit perjalanan.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Anugerah Terindah Di Pesisir Utara Bima

0 Pesona Semenanjung Sanggar

     Semenanjung Sanggar terletak di sebelah barat wilayah kabupaten Bima tepatnya di desa Piong kecamatan Sanggar dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam dari Kota Bima. Bagi Anda yang ingin melakukan petualangan di jalur lingkar utara menuju Tambora, pasti melewati pemandangan indah ini di sepanjang jalur yang anda lewati. Pemandangan yang menakjubkan juga akan anda temui selama perjalanan menuju Lingkar utara ini. Laut, Pantai, hamparan Savana dengan kawanan kuda,Rusa, Kerbau dan binatang lainnya menyapa petualangan anda.


     Pemerintah Kabupaten Bima tengah gencar membangun infrastruktur jalan di jalur tersebut untuk mendukung langkah pembentukan Kota Terpadu Mandiri Tambora yang telah dicanangkan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Hal ini tentunya memberikan peluang sebesar-besarnya bagi masyarakat di wilayah Sanggar dan Tambora untuk terus maju dan berkembang  di masa-masa mendatang.

     Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk di kecamatan Sanggar sebanyak 11.838 jiwa, di kecamatan Tambora sebanyak 6.575 Jiwa. Kecamatan Pekat Dompu dengan luas wilayah sekitar 875, 17 Km2 ( Atau 37, 65 %) dari luas Kabupaten Dompu. Kecamatan Pekat berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Di wilayah ini terdapat 10 desa dan 61 dusun.

     Mata pencaharian warganya sebagian besar bertani dan berladang, bnerburu, pencari madu,nelayan dan PNS. Warga transmigran yang sudah berbaur dengan penduduk setempat memanfaatkan lahan transmigrasi itu dengan menanam berbagai jenis buah-buahan serta sayur-sayuran.

      Luas Kecamatan Sanggar sekitar 72.000 Ha atau 16 porsen dari luas kabupaten Bima. Daerah ini adalah bekas kerajaan Sanggar yang pernah berjaya pada sekitar tahun 1500 sebelum letusan Tambora pada tahun 1815. Disamping dikenal sebagai daerah pegunungan dengan hasil madunya, Sangggar juga merupakan daerah pesisir dengan produksi ikan mencapai 20 ribu ton per tahun. Sedangkan nener mencapai 1 juta ekor per tahun. Untuk komoditi pertanian juga cukup besar berupa komditi padi, kedelai dan kacang tanah. Di Sanggar juga sangat cocok untuk pengembalaan ternak karena wilayah di sebelah baratnya hingga lereng Tambora terdapat padang Savana yang luas untuk pengembalaan.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Pesona Semenanjung Sanggar

0 Selayang Pandang Lambitu

     Lambitu adalah nama sebuah gugusan pegunungan di sisi tenggara Bima. Dalam Bahasa Bima lama, Lambitu berarti Runcing Menjulang. Di lereng gunung ini didiami oleh orang-orang –orang Donggo Ele yang menyebar mulai dari sisi utara hingga selatan yang kini menjadi desa-desa yaitu desa Tarlawi yang masuk dalam wilayah kecamatan Wawo, Desa Kuta, Desa Teta, Desa Sambori, Kaboro, dan Kaowa. Pada tahun 2006, sesuai amanat Peraturan Daerah Kabupaten Bima Nomor  2 Tahun 2006 tentang pemekaran wilayah kecamatan Palibelo, Lambitu, Parado dan Soromandi Kabupaten Bima, Lima Desa yaitu Teta, Kuta, Sambori, Kaboro dan Kaowa masuk dalam wilayah kecamatan Lambitu.


     Masyarakat yang mendiami lereng Lambitu ini adalah masyarakat yang satu yang tergabung dalam satu komunitas dan rumpun budaya yang dalam bahasa mereka dikenal dengan Rumpun Inge Ndai. Inge Ndai berarti saudara serumpun. Mereka disatukan oleh bahasa rumpun Inge Ndai, kepercayaan dan agama, keahlian, dan ketrampilan serta rasa senasib sepananggugngan sebagai Dou Donggo Ele ( Orang Dataran Tinggi Timur). Orang-orang di  gugusan pegunungan Lambitu memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan orang-orang Bima yang menempati hamparan lembah di sebelah timur teluk Bima maupun di wilayah lainnya.  Keunikakan budaya dan tradisi itu dapat dilihat dari cara berpakaian, atraksi kesenian, upacara adat, rumah adat, bahasa dan keyakinan. Namun sejak masa kesultanan, orang-orang Lambitu dan Donggo sudah mulai membaur dengan suku Mbojo. Mereka sudah memeluk Islam dan melakukan interaksi social dengan suku Mbojo hingga saat ini.

     Secara umum kecamatan Lambitu dan Sambori berada pada ketinggian sekitar 500 sampai 700 di atas permukaan laut. Puncak tertinggi adalah pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut yaitu di Sambori, Sedangkan desa Kuta berada sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah kecamatan Lambitu adalah 5366,96 KM2. Jarak Lambitu dengan kota Bima sekitar 44,3 Km 2 dan dapat ditempuh sekitar 1  jam perjalanan darat.  Sekitar 24.488, 7  KM 2 lahan di  Lambitu merupakan Hutan Negara.755,82 Hutan dan hamparan lembah. Sedangkan lahan persawahan seluas 1001 KM 2, tegalan dan kebun seluas 1018,9 Km2 dan hanya 102,7 Km2 yang dimanfaatkan sebagai lahan pekarangan.

     Jumlah penduduk kecamatan Lambitu sesuai Data Statistik tahun 2009 sebanyak 5.757 Jiwa. Sedangkan jumlah kepala keluarga sebanyak 1.388 KK. Sebanyak  770 KK  warga Lambitu menempati rumah sederhana, 608 KK menemnpati rumah semi permanen, dan hanya 8 KK menempati rumah permanen. Sebagian besar warga Lambitu masih menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak dan yang paling banyak adalah di desa Sambori. Sementara untuk kebutuhan air minum dan MCK warga di Lambitu masih menggunakan sumber mata air dari sungai-sungai yang mengalir di sekitar wilayah tersebut. Namun saat ini, proyek perpiaan dari PNPM PISEW turut mendukung pasokan air bersih di wilayah ini.

      Sarana pendidikan di Lambitu  terdiri dari 8 Taman Kanak-Kanak, 7 SDN, 1 Madrasah Ibtidayah, 3 SLTP, 1 SMU dan 1 Madrasah Aliyah. Sedangkan sarana kesehatan baru 1 unit yaitu Puskesmas yang berada  di desa Teta, didukung keberadaan 7 posyandu yang tersebar di 5 desa. Di  Lambitu baru ada 1 orang  dokter umum, 8 orang bidan desa, 11 orang paramedic, 4 orang dukun bayi dan 4 orang dukun sunat.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com

READMORE - Selayang Pandang Lambitu

0 Menikmati Panorama Teluk Bima

     Sejak zaman kerajaan dan kesultanan, Bima memang dikenal sebagai kerajaan agraris segaligus maritim. Topografi wilayahnya yang berbukit dan berlembah memang menyimpan potensi pertanian, perkebunan, kehutanan, maupun penggembalaan ternak. Dan di balik gunung-gunung tinggi yang menjadi benteng tanah ini dikelilingi oleh laut dan samudera. Laut flores di sebelah utara, selat Sape di sebelah timur dan  Samudera Hindia di sebelah selatan. Di negeri yang terhampar di ujung timur pulau sumbawa ini, memiliki dua teluk nan indah, tenang dan damai. Teluk itu adalah Teluk Waworada dan teluk Bima yang berada di sekitar pusat kota Bima.


     Teluk Bima yang membentang mulai dari Lewa Mori, Kalaki, Oi Ni’u, Panda, Lawata, Ama Hami hingga Kolo dan sebagian kecamatan Soromandi dan Bolo di sebelah Baratnya sesungguhnya menyimpan potensi yang luar biasa.  Teluk ini bisa dimanfaatkan untuk wisata bahari, budidaya rumput laut, olahraga dayung, olahraga mancing, olahraga Jetskee, wisata pantai, dan lain-lain kegiatan.

     Di tengah teluk ini ada sebuah pulau kecil yang disebut Nisa To’i atau juga dikenal dengan Pulau Kambing.  Dinamakan pulau kambing, konon pada zaman dahulu, pulau kecil ini merupakan tempat pelepasan kambing raja atau sultan Bima. Masyarakat Mbojo menyebut juga pulau kecil di tengah teluk Bima ini dengan Nisa. Dalam Bahasa Mbojo Nisa adalah pulau. Orang-orang Donggo di sebelah barat teluk Bima menyebutnya dengan Nisa To’i. Nisa (Pulau) ini menyimpan kenangan dan romantika sejarah Bima yang akan senantiasa dikenang sepanjang masa. Pada zaman penjajahan, Pemerintah Kolonial Belanda mendiriikan tempat pengisian bahan bakar sehingga sampai saat ini masih terdapat tangki minyak peninggalan zaman perang dunia kedua tersebut.

     Pulau ini pernah dibom oleh pesawat tempur Jepang pada tahun 1944 sebagai sebuah peringatan dari Pemerintah Kolonial Jepang bahwa Tentara Dai Nipon waktu itu akan menginjakkan kaki di Bima. Pemboman Nisa ini cukup membuat masyarakat Bima panik karena bunyi ledakan itu sangat keras dan masyarakat Bima baru pertama kali mendengar dan merasakan bagaimana letusan Bom. Pengeboman sebagai peringatan dari Jepang itu tidak sampai meluluhlantahkan pulau dan tangki-tangki minyak peninggalan Belanda. Karena hingga saat ini tangki minyak itu masih ada, meskipun dalam kondisi yang sudah karat dan termakan usia.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Menikmati Panorama Teluk Bima

0 Mendayung Di Asa Kota yang Indah

     Asa Kota yang indah adalah laut sempit yang menjadi satu-satunya pintu masuk di teluk Bima. Asa Dalam Bahasa Bima berarti Mulut. Kota berarti Kota. Jadi Asa kota adalah mulut Kota yang menjadi penghubung Bima dengan negeri-negeri lainnya. Mendayung di antara ketenangan laut Asa Kota yang dibalut panorama indah di sekelilingnya sungguh menakjubkan.

     Melayangkan pandangan ke arah timur, mata kita terbuai dengan keindahan pantai So Ati yang berpasir putih membentang sepanjang dua kilometer dan perahu-perahu nelayan di kelurahan Kolo. Di sebelah barat tampak tepian pantai di gugusan pegunungan Soromandi serta Candi Tebing Wadu Pa’a yang menjadi monement tak ternilai dari cikal bakal lahirnya kerajaan Bima.

     Memandang ke selatan, tampak lekukan-lekukan pantai dan Benteng Asa Kota yang penuh dengan romantika sejarah. Benteng yang berada di sebuah Dusun Lia Desa Kananta soromandi ini adalah saksi abadi perlawanan Sultan Abdul Khair Sirajuddin melawan hegemoni VOC di tanah Bima pada tahun 1669 M. Memasuki Teluk Bima yang indah, tenang dan damai, tampak suasana di dermaga Bonto, so Nggela dan aktifitas di pelabuhan Bima yang tiada pernah henti. Bagi para perantau, memasuki Asa Kota laksana kekasih  yang menemui pujaan hatinya. Seperti rindu yang terbalas setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman.
READMORE - Mendayung Di Asa Kota yang Indah

0 Teluk Di Bibir Teluk

     Sisi utara teluk Bima memanjang sekitar 20 kilometer dari ujung utara kelurahan Melayu Kota Bima hingga kelurahan Kolo di ujung utara. Disini terbentang pantai-pantai dan teluk-teluk mungil yang indah mempesona. Ada empat teluk Mungil yang telah lama menjadi tempat persinggahan kapal-kapal nelayan dan para pedagang sejak dulu, yaitu teluk So Nggela, Toro Londe, Bonto serta Kolo. Disamping itu, terdapat pantai-pantai yang indah seperti pantai Oi Ule, So Nggela, Bonto, serta Pantai pasir putih So Ati yang berada di ujung utara pantai Kolo.

      Menjelajahi pesisir utara teluk Bima melalui jalur laut sungguh menyenangkan. Dari pelabuhan Bima menyebrang ke utara, dan sekitar 10 menit perjalanan kita akan sampai di pantai Oi Ule. Dalam catatan sejarah Bima, Oi ule merupakan tempat pemukiman pertama orang-orang Melayu dan para ulama dari Pagaruyung dalam menyebarkan Agama Islam di tanah Bima pada sekitar abad ke-17. Di Oi ule inilah tempat Sultan Abdul Khair Sirajuddin(1648-1658 M) mengangkat sumpah setia kepada para gurunya untuk tetap berpegang teguh pada islam. Sehingga Perayaan upacara Adat Hanta UA Pua pertama kali mengambil start di Oi Ule sebelum berpindah ke kampung Melayu sekarang. Salah satu bukti keberadaan orang-orang Melayu di pantai ini terdapat kuburan-kuburan tua yang merupakan kuburan orang-orang melayu dan para ulama yang menyiarkan agama Islam di Tanah Bima di lereng bukit Oi Ule.

      Di sebelah barat Oi Ule sekitar 1 kilometer terdapat teluk mungil So Nggela. Teluk ini memiliki lekukan sekitar 1 kilometer dan terdapat sebuah dermaga kecil dengan panjang sekitar 30 meter yang dibangun oleh Pemerintah kota Bima. Ada juga Keramba Jaring Apung yang menjadi tempat budidaya kerapu tikus oleh Dinas Kelautan Dan Perikanan Kota Bima. Disini juga bermukim sekitar 30 kepala Keluarga yang berprofesi sebagai nelayan dan juga petani tegalan. Ada juga pendatang yang memang bermukim sementara waktu untuk memperbaiki dan mengecet perahu, beristirahat dari terpaan angin musim maupun untuk berdagang.

      Semakin ke utara kita akan menemukan pantai dan teluk yang indah. Sekitar 15 menit perjalanan kita akan tiba di teluk Toro Londe. Bentangan pantainya sekitar 500 meter dan sejak dulu menjadi tempat mancing yang menyenangkan. Banyak warga Bima yang memancing di sekitar perairan ini. Dalam legenda tanah Bima sebagaimana dilukiskan dalam Kitab BO( Kitab Kuno Kerajaan Bima), di teluk inilah tempat ditemukannya mata pancing Raja Indra Zamrut setelah sekian lama terjerat dalam moncong sebuah ikan besar yang diberinama Ruma Londe. Berkat kehebatan dan kesaktian adik Indra Zamrut yang bernama Indra Komala, mata pancing itu pun dapat ditemukan kembali.

      Sekitar 15 menit perjalanan kita akan menemukan satu lagi teluk yang indah, tenang dan damai yaitu teluk Bonto. Diameter lekukan teluk ini hampir sama dengan So Nggela, namun lebih terlihat menjorok ke daratan dan sangat terlindung dari angin musim karena di sebelah utara maupun selatannya dilindungi oleh pegunungan. Karena tertutup dan diapit oleh pegunungan, maka teluk ini dinamakan Bonto yang dalam Bahasa Bima berarti Bonto. Bonto merupakan salah satu dusun dari Kelurahan Kolo kecamatan Asa Kota yang dihuni oleh sekitar 70 KK. Teluk ini juga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dan nelayan dari berbagai pulau. Disamping perahu dagang di teluk ini pula bersandar bagang-bagang warga yang jika memasuki malam hari nyala lampunya cukup terang dan tampak indah. Dua Kilometer dari Teluk Bonto kita akan menjumpai Pantai Bonto yang teduh dan berpasir putih. Namun saat ini di sekitar pantai ini tengah dibangun Pusat Listrik Tenaga Uap oleh PT. PLN Persero. Kebun kelapa yang dulunya rimbun telah berubah menjadi tumpukan tanah, batu, Bescam, pipa-pipa besar, serta material lainnya untuk pembangunan PLTU.

      Di sebelah barat Bonto, tepatnya di seberang Asa Kota kita akan melihat sebuah bukit kecil yang memiliki luas sekitar setengah hektar yang dia atasnya cukup rata. Orang-orang menyebutnya dengan Benteng Asa kota. Karena di sini terdapat tumpukan batu batu yang tersusun rapi layaknya sebuah benteng pertahanan. Di sudut-sudutnya terdapat meriam. Namun sayang meriam itu sudah tidak ada lagi. Dalam catatan sejarah Bima, Benteng ini didirikan oleh sultan Abdul Khair Sirajuddin bersama Karaeng Popo pasca penandatanganan perjanjian Bongaya pada tahun 1667 M. Benteng ini dibangun untuk menghalau kapal-kapal VOC yang memasuki teluk Bima dan melintasi Laut Flores.

      Terus Ke Utara kita akan memasuki perairan kelurahan Kolo. Bagang-bagang, kapal nelayan, kapal barang, orang-orang yang memancing, menyelam mencari ikan adalah pemandangan yang cukup menarik di sekitar perairan kolo ini. Sejak tahun 1945, Kolo telah dikenal oleh masyarakat Bima sebagai importir barang-barang dari Singapura. Dan sudah lama pula warga kolo ini menjalin hubungan yang harmonis dengan para Cukong dan Toke di Pulau Batam maupun Singapura. Hampir setiap bulan mereka berlayar menuju Batam dan Singapura untuk membeli barang-barang seperti pakaian dan alat elektronik untuk dijual kembali di Bima. Menurut Yanti, salah seorang pedagang pakaian bekas dari Singapura, untuk satu karung pakaian singapura mereka beli dengan harga sekitar Rp.500.000 sampai Rp.750.000,-. Dalam satu karung itu mereka bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp.250.000 bahkan melebihi modal kalau pakaian yang ada di dalam karung itu berkualitas dan bagus coraknya.

      Di ujung Kelurahan Kolo terdapat pantai berpasir putih yang diberinama Pantai So Ati. Di skitar pantai ini tumbuh ratusan pohon kelapa yang menambah teduhnya pantai ini. Di perairan pantai ini terdapat terumbu karang dan taman laut yang indah.Di pantai ini sangat cocok untuk diving dan snockling. So Ati memang sejak dulu telah menjadi salah satu obyek wisata pantai bagi warga Kolo dan sekitarnya, bahkan masyarakat Bima pada umumnya. Pada setiap hari libur pantai ini dipadati pengunjung.

      Sudah saatnya potensi dan pesona alam di sepanjang sisi utara teluk Bima ini dikelola dan dimanfaatkan baik dalam rangka pemberdayaan masyarakat pesisir maupun pengembangan sektor kepariwisataan.Jalan Melayu- Kolo sepanjang 15 Km perlu segera diperbaiki untuk memperlancar transportasi di kawasan ini.

     Disamping itu perlu identifikasi dan pemetaan obyek-obyek pantai dan teluk-teluk ini untuk secara bertahap dilakukan penataan dan pengelolaan. Sebab semakin lama, pantai-pantai dan kebun-kebun di sepanjang pesisir utara ini telah banyak dibeli dan dimiliki oleh pengusaha-pengusaha Cina dan para pejabat. Ini tentunya akan menjadi sebuah kendala besar ketika Pemerintah Daerah akan mengelola pantai-pantai ini. Disamping itu, Pemerintah Daerah perlu mendorong dan mengajak investor lokal untuk secara bersama-sama mengelola potensi ini untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi keejehateraan masyarakat pesisir utara teluk Bima serta untuk menggali sumber-sumber PAD baru.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Teluk Di Bibir Teluk

0 Pelabuhan Bima Yang Indah, Tenang Dan Damai

     Sejak abad ke 8 Masehi, Bima telah menjadi daerah transit yang cukup aman dan menjanjikan harapan. Hal ini didukung oleh letak pelabuhannya yang berada di teluk Bima yang indah, tenang dan damai. Bahkan beberapa pengamat maritim menilai bahwa pelabuhan Bima adalah nomor dua indahnya dari Teluk Bayur di Sumatera. Antara abad ke 8 hingga 12 Masehi, para musafir dan pedangang dari china telah berlabuh di Bima untuk membeli berbagai jenis komoditi seperti kayu soga, sopa, rempah-rempah, madu, dan berbagai jenis makanan khas Bima dan hewan seperti Kerbau dan Rusa.


     Mereka(Para pedangang Cina) menukar hasil alam Bima dengan berbagai macam jenis porselin seperti guci, cangkir, gelas dan lain-lain. Maka tidaklah mengherankan jika sampai saat ini banyak peninggalan-peninggalan seperti guci dan porselin yang dijumpai di beberapa wilayah di Bima seperti di Gunung Sangyang, di kecamatan Sanggar dan Tambora serta di Parado. Beberapa nama wilayah yang menyerupai nama tempat atau nama orang dalam bahasa china juga ditemui di Bima seperti Kore, Piong, Kwangko, dan Sangyang.

     Pada masa kerajaan dan Kesultanan, Bima telah menjadi pusat transit dan perdagangan di wilayah Nusantara timur. Kapal-kapal dari berbagai Negara dan kerajaan di nusantara serta para pedangang berlabuh dan menetap di pelabuhan Bima dalam kurun waktu yang lama untuk menghindari badai sambil menunggu angina musim untuk melanjutkan pelayaran. Selagi membuang sauh, mereka menjual serta membeli berbagai macam komoditi. Pada masa itu, Bima telah menjadi Bandar bagi perdangangan di wilayah Nusantara timur. Dalam Kitab BO banyak sekali ditemui berbagai aturan, perjanjian maupun kesepakatan yang dibuat antara VOC dengan Pemerintah Kesultanan Bima tentang perdagangan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perniagaan.

     Hingga saat ini, pelabuhan Bima tetap menjadi pelabuhan transit dan pelabuhan tujuan dari berbagai kapal dagang maupun penumpang baik dari wilayah barat ke timur maupun sebaliknya. Pelabuhan Bima dalam dekapan keindahan teluknya adalah karunia yang tak ternilai bagi masyarakat Bima yang harus terus dijaga keberadaannya, dirawat ekosistimnya, dikembangkan sesuai tuntutan zaman untuk generasi-generasi mendatang.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Pelabuhan Bima Yang Indah, Tenang Dan Damai

0 Bima Segi Tiga Emas Pariwisata Indonesia Timur

     Posisi Kota dan Kabupaten Bima yang berada pada jalur “Segi Tiga Emas “ Pariwisata di kawasan timur Indonesia yaitu Bali dan Lombok di sebelah Barat, Komodo dan Flores di sebelah timur serta  Tanah Toraja di sebelah utara sangat strategis bagi upaya pengembangan kepariwisataan. Ditambah lagi dengan berbagai jenis atraksi budaya yang merupakan warisan kerajaan dan kesultanan Bima sebenarnya merupakan sumber inspirasi serta semangat bagi seluruh komponen daerah untuk mengembangkan sector pariwisata.


      Harapan itu dikemukakan oleh salah seorang penulis dan pemerhati budaya Bima Alan Malingi kepada Sarangge beberapa hari lalu. Menurutnya, Promosi pariwisata dan Budaya Bima sangat diperlukan agar orang luar mengenal Bima dengan segala macam keunikan, panorama alam dan ragam budayanya. Karena sangat diharapkan dukungan dari berbagai kalangan untuk membangun sector kepariwisataan ini. Potensi yang dimiliki daerah Bima cukup beragam, dengan perjalanan sejarahnya yang panjang dan penuh liku, Bima banyak sekali memiliki obyek wisata sejarah dan budaya. Demikian pula wisata alam maupun wisata baharinya.

     Disisi lain, diharapkan pula bagi para pemilik modal ( investor) yang bergerak di bidang kepariwisatawaan dapat melihat peluang untuk  menanamkan modalnya. Keindahan alam dan keanekaragaman adat dan budaya daerah merupakan modal dasar yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata yang menarik bagi wisatawan. Namun demikian, modal dasar tersebut dapat dibarengi dengan promosi aktif kepada Investor dan Wisatawan dalam dan luar negeri, dengan menawarkan suasana yang kondusif serta fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk menuju ke lokasi objek wisata di Kabupaten Bima.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Bima Segi Tiga Emas Pariwisata Indonesia Timur

0 Jejak Islam Di Nanga Nur

     Menjelajahi wilayah Nanga Nur memang cukup melelahkan. Tapi ketika mencapai puncaknya, spontanku lafazkan  Allahhu Akbar dan Subhanallah. Maha Besar dan Maha Suci Allah yang telah menciptakan pesona alam di selat Sape ini. Bukit Nanga Nur berjarak sekitar 3 km dari Tempat Pelelangan Ikan Sape-Bima. Sebelum mendaki, saya melewati 3 mata air bekas telaga yang oleh warga sekitar dikenal dengan Nanga Nur (Bima, Nanga= Telaga, Nur = Cahaya). Jadi Nanga Nur adalah Telaga Cahaya yang dibuat oleh para Mubaliq yang menyiarkan agama Islam di Bima. Karena pada zaman dulu Islam masuk di Bima melalui Sape pada sekitar Abad ke 16 dan 17.


     Di atas bukit Nanga Nur inilah tempat peristirahatan terakhir dari dua ulama besar dari Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Datuk Di Banda dan Datuk Di Tiro yang diutus oleh Sultan Gowa pada waktu itu untuk menyiarkan agama Islam di Tanah Bima. Pintu masuk mereka adalah melalui Sape yaitu di Nanga Nur. Menurut penuturan Abidin penjaga Makam ini, dulu di Nanga Nur adalah Pelabuhan Alam yang terlindung dari angin musim dan badai. Karena letaknya sangat strategis dan landai di kaki bukit-bukit di sebelah barat Pelabuhan Sape sekarang.

     Dalam Roman Sejarah Kembalinya Sang Putera Mahkota yang ditulis Alan Malingi, bahwa para mubaliq itu berlabuh di Nanga Nur untuk berdakwah sambil berdagang. Pada perkembangan selanjutnya mereka mendirikan Masjid Pertama di kompleks kampong Sigi Sape. Lalu mereka menemui Putera Mahkota La Ka’i di tempat persembunyian di puncak Kalodu untuk menyampaikan surat dari Sultan Gowa dan beberapa cindera mata. Isi surat tersebut memberitahukan bahwa Raja Gowa beserta seluruh rakyatnya telah memeluk Islam dan mengajak Putera Mahkota La Ka’i untuk memeluk Islam. Lalu La Ka’i bersama seluruh pengikutnya berikrar memeluk Islam dan mengangkat sumpah setia yang dikenal dengan sumpah Darah Daging dengan mengiris jari mereka dan meminum darah untuk memeluk Islam dan mengislamkan rakyat Bima. Tempat sumpah setia itu dikenal dengan Wadu Parapi ( Batu Parapi) yang saat ini berada di bendungan Parapi Desa Parangina kecamatan Sape ( Sayang kondisinya memprhatinkan dan tidak terawat). Setelah memeluk Islam La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir dan kuburannya di bukit Dana Taraha sekarang. Setelah Wafat bergelar Rumata Ma Bata Wadu ( Tuanku yang bersumpah Di Atas Batu).

     Merekam jejak Islam di Bima  terutama di wilayah Sape tentu tidak saja di Nanga Nur. Di Sape dan Lambu terdapat banyak peninggalan Islam seperti Wadu Sura atau Batu Bersurat di Desa Sari Kecamatan Sape yang bertuliskan huruf Arab Melayu dan saying sekali tidak bias terbaca karena termakan usia. Di kecamatan Lambu terdapat Temba Romba yaitu sebuah sumur yang konon dibuat oleh para mubaliq itu dengan tongkatnya dan sumur ini tetap mengalir sepanjang tahun.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Jejak Islam Di Nanga Nur

0 Waduruka Potensial Untuk Wisata Bahari

     Disamping potensi lahan peternakan dan perkebunan yang luas desa waduruka menyimpan keindahan wisata laut yang indah. “kalau anda hobby berenang dan menyelam, anda bisa nikmati keindahan panorama lautnya. Tapi, jikan anda suka memancing, waduruka adalah surga bagi para pemancing”

Demikian dikatakan Sukrali H. Mansyur Kades Waduruka, saat tim penilai lomba desa yang hari ini melalukan penilaian di desa yang merupakan salah satu wilayah kecamatan langgudu ini.

     Salah satu transportasi menuju desa yang berhadapan langsung dengan samudera hindia ini menggunakan boat. Nurlaila, salah seorang pegawai sukarela mengatakan, “kalau misalnya kami ada penyuluhan di desa waduruka, boat inilah satu-satunya transportasi yang mudah, cepat dan murah”. Sekali nyebrang hanya Rp. 5000. Meski laila tak menafikkan kalau lagi musim gelombang besar, harus mencari celah saat laut tenang. “saya senang kalau ada kegiatan di waduruka, karena desanya indah, apalagi saya senang melihat keindahan teluk waworada menjelang senja hari”.

     Sementara itu, hingga road show tim lomba desa ke 4 di desa waduruka semua desa yang dikunjungi ingin jadi juara satu. Malah, ada yang bisik-bisik, “boleh donk sekali ini desa saya jadi juara”.
Saya hanya bisa katakan bisa-bisa saja, kalau nilai desa ini tidak ada yang bisa melewati, artinya desa ini bisa jadi juara.

     Demikian dikatakan Putarman, SE, kepala BPMDes saat memberikan sambutan pada acara penerimaan tim lomba desa di desa waduruka (12/04). Meski Putarman mengakui, suka dengan penyambutan, dan kebersamaan warga waduruka. Tapi, semuanya tetap diserahkan pada tim juri. Tim juri ini setelah melakukan penilaian di 18 desa, kemudian dilakukan entry data dan pemberian skor, akan melakukan rapat penentuan desa mana yang akan mewakili kabupaten bima dalam lomba tingkat provinsi.

     Mahdi salah satu staf desa waduruka saat diwawancarai oleh arief rachman salah satu tim yang khusus menilai kinerja aparatur desa dan kecamatan, mengatakan faktor geografis dan jarak yang cukup jauh antara dusun yang satu dan lainnya dengan kantor desa, adalah seni tersendiri memberi pelayanan. Mahdi mengakui, kalau sudah pergi ke dusun pusu dan tamandaka, malas rasanya balik kembali ke soro afu (maksudnya waduruka). Dia, mencontohkan begitu susahnya, jika hujan saat membawa kartu suara waktu pemilu beberapa tahun yang lalu.

     Mahdi mengakui, pelayanan yang diberikan terhadap masyarakat pusu dan tamandaka tidak terlalu optimal, akibat faktor georafis yang sulit dijangkau.
Namun, ismail salah seorang warga mengatakan kinerja kades dan aparatnya cukup baik, “saya menilai kades telah bekerja dengan baik, dia selalu dekat dengan warga, selalu mengkomunikasikan semua kegiatan yang ada di desa, misalnya ada kegiatan PKH, kegiatan PNPM PISEW, Bumdes dan kegiatan lainnya.

      Saya berikan apresiasi positif kepada kades dan aparatnya. Meski ismail sendiri tetap berhara bisa terus meningkatkan pelayanan pada warga, misalnya dalam urusan kartu keluarga, KTP, ijin usaha, Raskin dan sebagainya. Dan, kalau bisa dua dusun yang jauh pusu dan tamandaka, dimekarkan saja.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Waduruka Potensial Untuk Wisata Bahari

0 Wisata Bahari Kian Digemari

     Pesona di sekitar teluk Bima memang membangkitkan keinginan setiap orang untuk mengarunginya. Hampir setiap hari warga Bima menikmati panorama teluk Bima dengan manyewa perahu-perahu nelayan yang dirancang khusus untuk kegiatan wisata bahari. Pantauan Sarangge di lokasi sekitar pantai Lawata dan Niu, Setiap hari libur banyak warga yang menyewa perahu-perahu untuk mengelilingi teluk Bima baik ture pendek di sekitar Lawata, Pelabuhan Bima, Pantai Niu hingga Kalaki. Sedangkan rute panjang antara lain menauju pulau kambing kemudian berlanjut hingga ke Ule, Benteng Asa Kota, kolo dan So Ati hingga Situs bersejarah WaduPa’a.


     “ Menikmati suasana sore di sekitar teluk Bima ini bias menghilangkan stress, apalagi cuaca cerah seperti saat ini. “ Ungkap Ahmad salah seorang warga Kota Bima yang baru saja turun dari perahu di sekitar Pantai Lawata Minggu( 6/2). Dikatakannya, Pemerintah Daerah harus dapat menangkap peluang wisata bahari ini dengan menata tempat-tempat wisata di sektiar teluk Bima dan membantu para nelayan atau warga yang punya perahu dan melayani perjalanan wisata kelililing teluk Bima. “ salah satu yang penting adalah pemberlakuan tarif dan rute untuk masing-masing perahu supaya tidak terjadi bentrok dan perselisihan antar pemilik Perahu. “ ungaknya. Meskipun diakuinya selama ini memang belum pernah terjadi perselisihan antara pemilik perahu soal muatan dan tarif.

      Pantauan Sarangge, tariff untuk rute pendek berkisar antara rp.2.500 hingga Rp. 5.000 rupiah. Sedangkan untuk rute panjang biasanya Rp.10.000, tapi kebanyakan mereka (Para Pemilik Perahu) menerima carteran hingga ke Wadu Pa’a dengan tarif antara Rp. 150.000 hingga Rp.200.000,-. Berwisata Bahari mengelilingi teluk Bima sudah menjadi pilihan warga kota dan Kabupaten Bima. Ada baiknya usulan warga tadi menjadi perhatian Pemerintah Daerah untuk menata obyek wisata, mengatur perahu dan tarif yang disepakati dengan para pemilik perahu, tentunya dengan standar sewa tariff yang layak untuk ukuran Bima dan sekitarnya.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Wisata Bahari Kian Digemari

0 Makna Pernikahan Dalam Tradisi Bima-Dompu

     Pernikahan atau Nika ra neku dalam tradisi Bima- Dompu memiliki aturan baku. Aturan itu cukup ketat sehingga satu kesalahan bisa membuat rencana pernikahan (nika) menjadi tertunda bahkan batal. Dulu, seorang calon mempelai laki-laki tidak diperkenankan berpapasan dengan calon mertua. Dia harus menghindari jalan berpapasan. Jika kebetulan berpapasan, maka calon dianggap tidak sopan. Untuk itu, harus dihukum dengan menolaknya menjadi menantu.


     Aturan yang ketat itu tentu menjadi bermakna karena ditaati oleh segenap anggota masyarakat. Kini, tentu saja aturan tersebut sudah ditinggalkan. Misalnya ngge’e nuru atau tinggal bersama calon mertua untuk mengabdi di sana.

     “ Nika ro Neku” terdiri dari dua kata yaitu nika dan neku. Kata nika bersal dari bahsa Indonesia ( bahasa melayu) nikah. Karena bahasa Bima-Dompu tidak mengenal konsonan akhir, maka kata nikah menjadi “ nika”. Kata neku atau nako sama artinya dengan “nika”. Pengertian nika ro neku adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan sebelum dan sesudah upacara lafa( akad).

     Bagi semua orang tua, akan merasa berbahagia bila bisa melaksanakan sunah Rasul yang menganjurkan muslim dewasa untuk menikah. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan bila pelaksanaan nika diawali serta diakhiri dengan berbagai upacara adat sebagai luapan rasa bahagia dan syukur kehadapan Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

     Bagi masyarakat Bima-Dompu, upacara  nika ro neku, merupakan upacara daur hidup yang sangat menentukan masa depan putra – putri mereka. Keluarga, sanak saudara, karib kerabat, dan warga terlibat dalam upacara ini. Karena itu upacara Nika ro neku termasuk “ Rawi Rasa” ( upacara yang harus melibatkan seluruh warga kampung).

     Pada masa lalu, rangkaian pernikahan adat masyarakat Bima-Dompu cukup panjang yang dimulai dari proses meminang atau yang dikenal dengan La Lose Ro La Ludi hingga upacara Tawari atau Pamaco. Rangkaian dari upacara adat ini mengandung makna yang mendalam untuk diterapkan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Seluruh rangkaian upacara itu sesungguhnya sesuai dengan ajaran Agama Islam dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

     Rangkaian upacara itu telah tumbuh, berkembang dan bersemi dalam jiwa masyarakat pendukung kebudayaan Bima-Dompu selama berabad – abad lamanya. Masa kesultanan telah menyumbangkan nilai-nilai besar bagi perkembangan upacara adat dalam peri kehidupan masyarakat. Karena pada masa itu seni dan budaya, adat dan agama berjalan beriringan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

     Namun setelah masa kesultanan berakhir dan seiring dengan perubahan zaman, rangkaian dari prosesi itu sudah banyak yang tidak dilakukan lagi. Pola hidup masyarakat masa kini yang serba simpel adalah salah satu penyebab dari hilangnya pagelaran upacara-upacara tersebut. Kini yang masih tetap dilakukan hanyalah seputar proses peminangan dan tunangan, pengantaran mahar, akad nikah dan resepsi yang megah.
Pola hidup masyarakat masa kini yang serba praktis dan simpel karena ksibukan masing-masing telah menggeser budaya gotong royong dan Teka Ra ne’e (pengantaran sumbangan ke keluarga yang berhajat) dalam setiap proses pernikahan di tengah masyarakat.

      Untuk itu perlu sebuah upaya secara sungguh-sungguh untuk melestarikan kembali prosesi pernikahan adat Bima-Dompu untuk kepentingan wisata budaya yang akan menarik minat wisatawan, sekaligus penanaman nilai-nilai kepada generasi muda.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Makna Pernikahan Dalam Tradisi Bima-Dompu

0 Kelompok Mada Oi Nungga Masuk Nominasi 5 Besar Nasional

     Kelompok budidaya ikan ( pokdakan )  Mada Oi Nungga termasuk salah satu dari lima nominasi  Nasional penilaian kinerja Kelembagaan Kelompok Pembudidaya khususnya Kelompok Pembudidaya lele Tingkat Nasional Tahun 2010, demikian disampaikan ketua Tim Penilai Tingkat Nasional Rachma Farida saat melakukan penilaian pada Kelompok Budidaya Ikan Mada Oi Nungga sabtu 21 Agustus 2010.


     Menurut Rachma Ada 4 kelompok Pembudidaya Catfish lainnya Selain Pokdakan Mada Oi Nungga ,yakni Kelompok Pandawa Desa palangsari Kecamatan Jati Tuju kab. Majalengka Jawa Barat, Kelompok Lempunig Indah Kelurahan Lempunig Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, Kelompok Setai Kawan Desa Beringin Simpang Bawah Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan dan Kelompok Usaha Bersama Desa Sido Rukun Kecamatan Rimba  Ulu Kabupaten Tebo Jambi dan keempat kelompok tersebut sudah dinilai jelas Rachma.

     Penyelenggaraan penilaian Kinerja Kelembagaan Secara Nasional menurut Rachma adalah untuk memilih Kelompok yang terbaik dalam melakukan kegiatan usaha budidaya namun yang lebih dari itu penilaian ini juga diharapkan memberikan motivasi kepada Kelompok Pembudidaya Ikan dalam meningkatkan produksi dan produksifitas usahanya secara berkelanjutan, mengembangkan usaha sesuai dengan sumber daya yang ada serta menghasilkan produk yang bermutu yang berdaya saing dipasar internasional, mendorong tumbuh dan berkembangnya Pokdakan, membimbing dan membina Pokdakan dan memotivasi penyuluh dilapangan untuk meningkatkan pembinaan terhadap Pokdakan. Semuanya itu bermuara pada terwujudnya Visi mewujudkan Indonesia penghasil Produk Perikanan dan Kelautan terbesar 2015 serta misi mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan.

     Ada 10 Komoditas unggulan yaitu Rumput laut,Patin,Bandeng,Nila, Gurami, Udang, Ikan Emas, udang, kerapu dan Lele.

     Ada 3 aspek yang menjadi penilaian Tim Pusat yakni Aspek social, Aspek Ekonomi dan Aspek tekhnis yang mana untuk sspek Sosial akan dinilai oleh Ibu Indah Sukmayanti,aspek ekonomi oleh bapak Yana Priyana dan Aspek Tekhnis oleh Ibu Rachma Farida, jelas Rachma mengakhiri sambutannya.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Kelompok Mada Oi Nungga Masuk Nominasi 5 Besar Nasional

0 Kuda Salah Satu Ikon Bima

     Kuda diupayakan menjadi salah satu icon bima, dan untuk mewujudkan hal tersebut selain lomba pacuan kuda yang sudah menjadi agenda rutin kota maupun kabupaten bima tentunya  perlu dilakukan terobosan – terobosan ,salah satunya  adalah Pawai Ataupun Parade Kuda ,Pameran Atau Bursa Kuda , Seminar Tentang Kuda Serta Kuliner Kuda.


     Promosi tersebut selain menjadikan kuda sebagai icon bagi kedua daerah( kota / kab. Bima )dalam rangka Pelestarian  Nilai Budaya Dan Tradisi  Juga Merupakan Upaya Untuk Mensukseskan Visit Lombok – Sumbawa 2012, karena untuk mewujudkan  program tersebut harus memanfaatkan segala potensi yang ada sehingga pada akhirnya akan saling mendudkung , kita diharapkan tidak hanya mengandalkan keindahan  kawasan wisata.

     Demikian salah satu point penting yang dibahas dalam rapat yang dilaksanakan di Cafe Pandaan Yang Dihadiri Oleh Kadis Pariwisata Prop NTB,Plt. Sekda kota bima,kadis pariwisata kota dan kab. Bima beberapa dinas terkait seperti Dinas Pertanian Dan Peternakan serta Pordasi Kota dan kab. Bima, rabu 25 agustus 2010.

     Pada tahun 2010 ini banyak agenda kegiatan yang akan dilaksanakan baik di pulau Lombok Maupun Pulau Sumbawa. Untuk pulau Lombok akan ada kegiatan kreasi Gendang Blek, Sumbawa Kerapan Kerbau, Dompu Festival La Key serta Kota dan Kab.Bima akan ada perhelatan festival Kuda Bima semuanya itu bertujuan untuk memperkenalkan potensi lokal yang selain sangat diminati oleh masyarakat daerah  tersebut juga diharapkan dapat mengundang kehadiran wisatawan baik domestik maupun wisatawan dari manca negara, jelas Kabag Humaspro Lalu Sukarsana,S.Ip Dalam Press Releasenya.

     Sebagai bentuk komitmen pemerintah Provinsi NTB. Dalam melibatkan seluruh daerah yang ada di wilayah ntb. Kedepan perhelatan baik yang berskala nasional bahkan kalaupun ada yang internasional kegiatan tersebut akan diupayakan untuk didistribusikan ke daerah – daerah sehingga tidak nampak monopoli pihak provinsi dalam setiap event yang dilaksanakan, hal dimaksud untuk memotivasi daerah – daerah dalam mempromosikan potensi yang ada, bahkan nantinya kita akan upaya hadirkan media cetak maupun elektronik baik lokal maupun nasional sehingga kegiatan ini memiliki gaung sehingga dikenal secara luas, semuanya itu mebutuhkan koordinasi antara pihak dinas  pariwisata provinsi dengan dinas pariwisata kota/ Kab. Bima. Untuk Bima, misalnya dengan adanya kegiatan festival kuda diharapkan kepada siapapun yang ikut menyaksikan  akan menimbulkan decak kagum serta ingat akan bima serta kudanya, “ Ingat Kuda ingat bima, Ingat Bima Ingat Kuda” sehingga kuda dengan segala keunggulannya menjadi  Icon Bima dikenal dalam benak setiap orang yang pernah menapakkan kakinya dibima, demikian juga halnya dengan potensi Daerah lainnya yang ada Diwilayah NTB diharapkan mampu melahirkan kesan yang sulit dilupakan bagi siapapun yang menyaksikan, jika hal ini mampu kita wujudkan insyaallah program Visit Lombok – Sumbawa 2012 akan dapat kita wujudkan, jelas Lalu Sukarsana.
READMORE - Kuda Salah Satu Ikon Bima

0 Parang Sakti Kerajaan Bima

     Parang atau golok ini konon memiliki kesaktian terutama jika digunakan disaat-saat genting pada masa kejayaan kerajaan dan kesultanan Bima. Dijuluki La Nggunti Rante karena konon dapat memotong apa saja termasuk Baja dan Besi. Menurut Kitab BO (Kitab Kuno Kerajaan Bima) parang ini dibuat pada abad ke-14 yaitu pada masa Pemerintahan Batara Indera Bima. La Nggunti Rante merupakan Golok Pendek dengan panjang 25 cm dan lebar 10 cm.


     Menurut Muslimin Hamzah dalam bukunya Ensiklopedia Bima, ada penelitian dari oleh seorang ahli dari Sri Langka bahwa kembaran parang ini hanya ada di negerinya. Ini tentunya perlu sebuah penelitian yang mendalam karena dalam catatan sejarah Bima Sri Langka atau Sailon merupakan salah satu tempat pembuangan salah seorang Sultanah dari kesultana Bima yaitu Komalasyah atau dikenal dengan Kumala Bumi Partiga yang memerintah pada tahun 1748 – 1751). Bumi Partiga adalah sultan perempuan dari kesultanan Bima yang merupakan sultan yang ke-7.

      Parang Sakti ini masih ada dan tersimpan di Museum Asi Mbojo. Ini adalah kekayaan dan warisan sejarah Bima yang harus diselamatkan dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Sebab pasca wafat Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951 banyak koleksi Istana Bima yang hilang. Pada masa peralihan dari kesultanan Bima kepada Pemerintahan Swapraja Bima terjadi gelombang anti kesultanan Bima dan banyak benda-benda pusaka yang dijarah. Tidak sedikit harta pusaka ini yang dipalsukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dan dijual dengan harga miliaran rupiah. Konon, La Nggunti Rante pun pernah dijual, namun kembali dengan sendirinya ke Istana Bima.

      Hj. Siti Maryam, salah seorang puteri Sultan Muhammad Salahuddin menceritakan bahwa banyak kejanggalan serta misteri seputar benda pusaka ini. Sejak tahun 1951, benda-benda pusaka ini seperti barang tak bertuan. Dia menjadi bahan rebutan antara pihak Istana dengan aparat Pemerintah waktu itu. Banyak benda-benda ini dijual ke Bali, dijadikan koleksi pribadi para pejabat dan digantikan dengan imitasi untuk mengelabui aparat penegak hukum. Karena benda-benda ini adalah cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang.

      Perlu pemeliharaan benda-benda pusaka ini dengan manajemen yang profesional dan petugas yang terpercaya agar benda-benda ini tetap terwarisi sepanjang zaman. Generasi kini dan akan datang tentunya sangat perlu mengetahui hasil kreasi dan warisan tak ternilai dari leluhurnya. Agar mereka mengetahui bahwa tanah tumpah darahnya adalah tanah yang kaya dan penuh romantika sejarah.
     
Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Parang Sakti Kerajaan Bima

0 Busana Adat Bima Yang Anggun

     Tenun Ikat Bima pernah dikenakan oleh Kepala-Kepala Negara pada Pertemuan APEC di Bali beberapa Tahun Lalu. Termasuk dikenakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat menyampaikan Visi Misinya sebagai Calon Presiden di hadapan Anggota KADIN pada Pemilu Pilpres Tahun 2009. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggan bahwa daerah kecil di ujung timur NTB ini memiliki segudang potensi alam dan budaya yang perlu dikembangkan.

      Secara umum busana atau pakaian adat Bima hampir sama dengan Sulawesi Selatan. Hal itu diperkuat dengan ikatan sejarah bahwa Bima dengan Makasar, Gowa, Bone dan Tallo itu memiliki hubungan dan ikatan kekeluargaan serta kekerabatan. Proses pembauran dan asimilasi budaya itu telah berlangsung lama dan mempengaruhi juga cara berbusana dan motif busana yang dikenakan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara busana adat Bima dengan Sulawesi Selatan.

      Warna yang menonjol dalam pakaian adat Bima antara lain hitam, biru tua, coklat, merah dan kemerah-merahan serta putih. Untuk pakaian wanita memakai kain sarung kotak-kotak yang dikenal dengan sebutan Tembe Lombo. Disamping pakaian sehari-hari pakaian adat juga diatur oleh pihak Kesultanan. Yang diatur oleh Majelis Adat yang disebut KANI SARA. Prosedur dan Tata Cara pemakaiannya pun telah diatur dalam ketetapan Hadat.

      Menurut Muslimin Hamzah ada empat golongan pakaian adat sehari-hari masyarakat Bima. Pertama, pakaian yang digunakan secara umum sebagai pakaian harian atau pakaian untuk acara resmi. Kedua, pakaian Dinas Para Pejabat Kesultanan. Ketiga, Pakaian Pengantin, baik yang dipakai oleh golongan bangsawan, golongan menengah, maupun golongan masyarakat umum termasuk pakaian untuk khitanan. Keempat, Pakaian Penari.

      Dalam kehidupan sehari-hari orang Bima mempunyai pakaian sendiri. Khusus untuk wanita meliputi Baju Poro. Baju ini terbuat dari kain yang agak tipis tetapi tidak tembus pandang. Umumnya berwarna biru tua, hitam, coklat tua dan ungu. Bagi gadis-gadis Bima biasanya memakai warna ungu atau coklat tua. Para wanita pun memakai aneka perhiasan seperti gelang, anting dan lain-lain. Namun terlarang untuk memakai secara berlebihan.

      Kaum Pria mempunyai pakaian sehari-hari yang khas. Yang lazim adalah Sambolo atau Ikat Kepala. Umumnya bercorak kotak-kotak dan dihiasi tenunan benang perak/emas. Terkadang lelaki memakai baju kemeja atau baju lengan pendek atau jas tutup dengan warna putih atau hitam atau warna cerah lainnya. Untuk sarung biasanya memakai sarung pelekat yang dikenal dengan nama Tembe Kota Bali Mpida yang bercorak Kotak-kotak atau memaki Tembe Nggoli yang pemakaiannya agak panjang atau terjurai pada bagian depannya.

      Untuk hiasan kaum pria memakai Salampe, sejenis dodot yang dililitkan dipinggang. Biasanya salampe berwarna dasar kuning, merah, hijau dan putih. Bagi orang dewasa biasanya menyelipkan pisau pada lilitan Salampe. Letaknya agak ke kiri pusar, sedangkan hulunya agak terjurai ke kanan. Pakaian dan busana adat Bima sangat banyak. Ini adalah kekayaan dan kearifan masa silam yang seharusnya dipertahankan dari terpaan arus globalisasi saat ini. Hanya beberapa saja yang masih dapat dilihat dan diperagakan hingga saat ini. Perlu ada upaya serius untuk melestarikan dengan berbagai kebijakan Pemerintah Daerah agar pakaian adapt ini tidak punah ditelan arus zaman. Perlu ad aide kreatif untuk mempertahankannya misalanya dengan menggelar Show Busana Adat Bima atau menetapkan dalam Peraturan Daerah tentang pelestarian Pakaian Adat Bima.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Busana Adat Bima Yang Anggun

0 Upacara Peta Kapanca

     Upacara  Peta Kapanca adalah salah satu bagian dari prosesi perkawinan Adat Bima. Biasanya upacara ini dilaksanakan sehari sebelum dilaksanakan Akad Nikah dan Resepsi perkawinan. Peta Kapanca adalah melumatkan Daun pacar(Inai) pada kuku calon pengantin wanita yang dilakukan secara bergantian oleh ibu-ibu dan tamu undangan yang semuanya adalah kaum wanita.

    
     Pada zaman dahulu, setelah pengantin wanita tiba di UMA RUKA (Rumah Mahligai atau Peraduan) upacara ini dilaksanakan. Tujuh orang ibu secara bergiliran meletakan lumatan daun pacar pada telapak kaki dan tangannya. Lalu muncullah warna merah sebagai tanda bahwa  dia akan menjadi milik orang.

     Apakah makna dari Upacara ini ? Kapanca merupakan peringatan bagi calon pengantin wanita bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi akan melakukan tugas dan fungsi sebagai ibu rumah tangga atau istri. Disamping itu, Kapanca dimaksudkan untuk memberi contoh kepada para gadis lainnya agar mengikuti jejak calon penganten wanita yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ratu yang akan mengakhiri masa lajangnya sehingga mereka dapat mengambil hikmah. Upacara ini telah lama menjadi dambaan ibu-ibu dalam masyarakat Bima. Karena mereka juga mengharapkan putri-putrinya segera melewati upacara yang sama dalam menandai hari bahagia mereka.

     Dalam upacara ini juga disuguhkan Ziki Kapanca (Zikir Kapanca) yang dilantunkan oleh Ibu-ibu yang hadir. Hal ini terkadung maksud sebagai sebuah pengharapan kiranya kelak calon pengantin ini dapat mengayuh bahtera cinta menuju pantai bahagia.  Syair ziki kapanca bernuansa Islam yang liriknya mengandung pujian kepada Allah SWT dan Rasul. Usai acara Kapanca biasanya diisi oleh hiburan rakyat seperti gentaong dan Rawa Mbojo yang digelar semalam suntuk.

     Upacara Peta Kapanca juga dilaksanakan dalam prosesi Khitanan untuk anak-anak puteri. Pada malam hari sebelum dilaksanakan khitanan dilangsungkan pula upacara ini yang dilakukan oleh ibu-ibu pemuka adat. Sementara anak-anak yang akan dikhitan duduk berjejer menanti lumatan daun pacar(Inai) dari para ibu secara bergiliran.

     Menurut Muslimin Hamzah dalam Bukunya “ Ensiklopedia Bima “ bahwa dalam tradisi Bima, upacara memegang peranan menentukan. Upacara sudah mentradisi sejak Bima kuno terutama mewarisi tradisi Hindu di masa lampau. Ketika Islam menjadi agama kerajaan, upacara menjadi alat dakwah. Seperti upacara Adat Hanta U’A Pua.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Upacara Peta Kapanca

0 Seni Musik Bima “ Rawa Mbojo “

     Rawa Mbojo merupakan salah satu warisan budaya leluhur masyarakat Bima-Dompu. Diiringi alat musik Biola dan Gambo, seorang penyanyi melantunkan nyanyian Rawa Mbojo yang berisi pantun-pantun Bima yang  menggelitik, kocak dan menghibur. Suasana akan semakin hidup di tengah Rawa Mbojo ini ketika laki dan perempuan berbalas pantun diiringi alunan dan gesekan Biola dan Gambo( Sejenis alat musik Gambus).  Musik vokal dalam bahasa Bima-Dompu adalah “rawa” yang artinya sama dengan “lagu” atau “nyanyian”. Lazimnya ditampilkan sebagai acara hiburan pada upacara pernikahan dan kadang – kadang dilaksankan di sawah ladang, sebagai hiburan bagi para remaja yang sedang menanam atau memanem padi.


     Pada akhir – akhir ini rawa Mbojo sering dipentaskan pada kegiatan festival dan pergelaran seni tradisional di tingkat Kabupaten dan Provinsi, bahkan sampai di tingkat nasional. Rawa Mbojo biasa dinyanyikan oleh seorang penyanyi perempuan dengan berbusana rimpu. Tetapi sering pula dinyanyikan oleh dua orang dan kadang dinyanyikan oleh penyanyi laki – laki.

Berdasarkan jenis “Ntoko” (irama) serta isi “patu rawa” (pantun lagu) pada setiap ntoko, rawa Mbojo terdiri dari :
a.Ntoko Sera
     Merupakan ntoko rawa Mbojo yang tertua, sudah mulai dikenal sejak jaman keajaan. Dinyanyikan dengan ntoko atau irama mirip seriosa, melantunkan kata yang berisi luapam rasa rindu kepada sang kekasih dan rasa kagum terhadap keindahan alam. Ntoko sera dilantunkan ketika seorang sedang berkelana di sera atau padang nan luas dikelilingi gunung yang menghijau. Karena itu ntoko diberinama ntoko sera (padang nan luas), sayang, pada akhir – akhir ini, sudah jarang penyanyi yang dapat melantunkan ntoko sera.

b.Ntoko Tambora
     Termaksud ntoko tertua sesudah ntoko sera. Ntoko Tambora mirip irama keroncong, biasanya dinyanyikan oleh para pelaut dikala kapal atau perahu mereka sedang diserang badai dan gelombang besar. Pada suasana yang mencekam itu mereka melantunkan ntoko dengan patu yang menggambarkan suasana laut tidak bersahabat serta rasa rindu kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Suasana laut yang bergelombang besar dan tinggi bagaikan Gunung Tambora, karena itu ntoko ini dinamakan Ntoko Tambora.

c.Ntoko Lopi Penge
     Lopi penge dapat diartikan sebagai perahu (lopi) yang tidak jemu dan tidak bosan berlayar (penge). Ntoko ini biasa dilantunkan oleh para pelaut dan nelayan di kala sedang berlayar di samudera nan luas lagi tenang damai. Kerinduan pada kedamaian dan keindahan laut, mengundang para pelaut untuk terus berlayar sepanjang waktu.

d.Ntoko Dali
     Ntoko Dali merupakan Ntoko yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Patu berisi nasehat dan petuah untuk melaksanakan ibadah dan segala amal shaleh serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Nasehat itu berasal dari intisari dalil (dali), karena itu ntoko ini di berinama “dali”. Ntoko ini mulai populer pada zaman kesultanan , dijadikan sebagai media dakwah.

e.Ntoko Haju Jati
     Pada awalnya, ntoko ini biasanya dinyanyikan sebagai pelepas lelah di kala sedang menebang kayu jati di tengah hutan belantara. Seraya menebang dan memotong serta menggeragaji kayu, para tukang kayu melantunkan ntoko yang patunya berisi pujian terhadap kekuatan serta ketahanan kayu jati untuk bahan bangunan rumah. Oleh sebab itu ntoko ini diberi nama ntoko haju jati.

f.Ntoko Kanco Wanco
     Melalui ntoko dan patu kanco wanco, penyanyi melukiskan kisah kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ujian, bagaikan sebuah perahu yang sedang diterpa gelombang.

g.Ntoko Salondo Reo dan Rindo
     Patu ntoko salondo reo berisi ratapan hati anak istri dan masyarakat Reo di Manggarai, karena mereka hidup berpisah dengan suami dan saudaranya yang ditawan dan dijadikan abdi Istana oleh para Sultan Bima. Selain ntoko salondo reo, adalagi ntoko yang berisi kritikan dari masyarakat Manggarai atas kekejaman para Sultan Bima yang menawan suami dan saudara mereka. Ntoko dan patu kritikan populer dengan nama “rindo”. Walau dua jenis Ntoko berisi kritikan terhadap para Sultan, namun tidak dilarang untuk berkembang di lingkungan masyarakat. Bahkan pada upacara – upacara adat kesultanan, dua jenis Ntoko ini di senandungkan dihadapan Sultan dan para pembesar negeri.

      Masih banyak lagi jenis Ntoko Rawa Mbojo yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, dari sekian banyak Ntoko – Ntoko itu antara lain Ntoko Jiki Maya, Teke Mpende, Sajoli, E’aule dan Tembe Jao Galomba.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Seni Musik Bima “ Rawa Mbojo “

0 Rumah Panggung Tradisional Masyarakat Bima

     Bagi masyarakat Bima Rumah atau Uma Ngge’e Kai  merupakan kebutuhan paling pokok dalam kehidupan keluarga. Dalam falsafah masyarakat Bima lama bahwa orang yang baik itu  yang berasal dari keturunan yang baik, harus mempunyai istri yang berbudi mulia, rumah yang kuat dan indah, senjata pusaka yang sakti dan kuda tunggang yang lincah. Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa rumah merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh diabaikan. Karena itu dalam membangun rumah  harus memilih PANGGITA atau arsitek yang memiliki Loa Ra Tingi yang tinggi dan berakhlak mulia. Panggita juga harus memahami SASATO (Sifat atau pribadi) pemilik  rumah. Baku Ro Uku atau bentuk dan ukuran dalam arti tata ruang harus disesuaikan dengan sifat dan kepribadian pemilik rumah.


     Bentuk dan jenis rumah Bima hampir sama dengan rumah tradisional Makassar dan Bugis. Di Bima dikenal dua jenis rumah yaitu Uma Panggu Ceko dengan gaya arsitektur tradisional Makassar dan Uma Panggu Pa’a gaya arsitektur tradisional Bugis. Dari dua jenis rumah itu, sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar. Pada tiang Uma Ceko dipasang dua buah ceko(siku)  untuk menunjang kekuatan pengapit (Nggapi). Sedangkan pada tiang Uma Pa’a tidak dipasang Ceko (Siku), pengapit pada Uma Pa’a terdiri dari sepasang Kayu. Sebaliknya Nggapi(Pengapit ) Uma Ceko terdiri dari dua buah kayu yang akan ditopang oleh Ceko(Siku).

     Ukuran atau jumlah bilik rumah Bima tergantung jumlah tiangnya yaitu Sampuru Ini Ri’i (Enam Belas Tiang), Sampuru Dua Ri’I (Dua Belas Tiang), Ciwi Ri’I (Sembilan tiang), Ini Ri’I ( Enam Tiang).  Rumah enam belas tiang memiliki panjang sekitar sembilan meter dan lebar sekitar 6 meter. Yang dua Belas tiang memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5 meter. Untuk yang sembilan dan enam tiang ukuran panjang dan lebarnya disesuaikan secara ideal dengan tinggi tiang dan jumlah kamar atau biliknya. Rumah Enam Belas Tiang memiliki 4 bilik atau kamar yang di sebut RO. RO Tando berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara. Pada Saat tertentu digunakan untuk kamar tidur Tamu. Ro Dei (Ruang Dalam) untuk tempat tidur Ayah Ibu. Ro Do (Ruang Selatan) terdiri dari dua bilik  yaitu untuk tempat tidur anak-anak putera. Pada umumnya anak gadis tidur dan beristirahat di Pamoka (Loteng) sambil menenun dan menyulam. Kalaupun posisi rumah menghadap barat-timut, maka Ro Do disebut Ro Ele(Ruang Timur). Jadi nama ruang(bilik) ketiga dan ke empat tergantung dari arah berdirinya rumah. Idealnya Rumah harus menghadap arah barat-timur.

     Pada umumnya semua rumah dibuat dari kayu jati dan kayu hutan yang bermutu,   kuat dan tahan lama. Atap rumah cukup beragam, disesuaikan dengan status sosial ekonomi para pemiliknya. Tapi untuk rumah Bima yang lama semuanya menggunakan alang-alang yang dirajut tebal. Bagi yang kurang mampu, beratap ilalang. Bagi yang tergolong mampu, memakai atap Sante(sejenis sire dari bambu), Genteng, seng, dan khusus Istana Bima beratap Sire yang dibuat dari potongan kayu besi yang sudah dibelah-belah.

     Sudah menjadi ketentuan adat, bahwa setiap rumah tradisional Bima memiliki Sancaka (Serambi atau Beranda) yang terdiri dari : Sancaka Tando(Serambi Depan) untuk para tamu dan tempat istirahat Ayah beserta anak laki-lakinya. Sancaka Riha(Dapur), berfungsi sebagai dapur dan tempat menyimpan barang pecah belah. Sancaka Wela(Serambi Samping), berfungsi sebagai tempat istirahat para anggota keluarga.
Khusus rumah keluarga besar Istana atau golongan bangsawan, di serambi depan  dibuat satu bangunan yang bernama “ Sampana “ berperan sebagai tangga dan disamping kiri kanannya  berfungsi untuk tempat duduk.

     Ciri khas lain yang membedakan rumah rakyat dengan rumah keluarga bangsawan yaitu jumlah jenjang atap  bagian depan dan belakang (Sarinci Uma). Kalau jenjang atau Sarinci terdiri dari tiga tingkat berarti pemilik rumah adalah bangsawan tinggi. Kalau dua tingkat berarti rumah bangsawan menengah. Kalau tutupan Sarincinya hanya satu, berarti rumah rakyat biasa.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
READMORE - Rumah Panggung Tradisional Masyarakat Bima