Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,
Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

0 Memburu Ruang Gelap Alam Semesta




OPERA
Para ilmuwan sekarang sedang menggunakan teleskop terbesar di dunia untuk memecahkan misteri keberadaan partikel terkecil bernama neutrinos. Melalui teleskop yang dibangun di Kutub Selatan itu diharapkan bisa menjelaskan bagaimana alam semesta dibuat.

Pembangunan pendeteksi raksasa bernama IceCube sedalam 2.400 meter di bawah Kutub Antartika ini membutuhkan waktu 10 tahun. Volumenya mencapai satu kilometer kubik atau lebih besar dari gabungan Gedung Empire State, Menara Chicago Sears (Menara Willis), dan Pusat Keuangan Dunia di Shanghai.

IceCube dibangun untuk mengamati neutrinos, yang dilepaskan oleh ledakan bintang-bintang dan bergerak mendekati kecepatan cahaya. Teleskop ini baru menarik perhatian setelah pekan lalu ditemukan partikel Higgs, sebuah blok bangunan dasar dari alam semesta.

"Acungkan jarimu dan ratusan juta neutrinos melewatinya setiap detik dari matahari," ucap Jenni Adams, ahli fisika University of Canterbury di Selandia Baru yang bekerja di IceCube, seperti dikutip Reuters (10/7/2012).

Pada dasarnya, IceCube merupakan serangkaian detektor cahaya yang ditanam di bawah lapisan es melalui pengeboran air panas. Ketika neutrinos berinteraksi di dalam es akan menghasilkan partikel bermuatan yang menciptakan cahaya.

Fungsi es adalah sebagai jaring yang mengisolasi neutrinos sehingga memudahkan pengamatan. Hal ini juga melindungi teleskop dari radiasi yang berpotensi merusak.

"Jika supernova berada di galaksi kita sekarang, kita dapat mendeteksi ratusan neutrinos dengan IceCube," ucap Adams di saat Konferensi Internasional tentang Fisika Energi Tinggi di Melbourne, Australia.

Namun, alat ini tak dapat melihat neutrinos ini secara individu. Tetapi, detektor hanya menyala seperti pertunjukan kembang api besar-besaran.

Kini para ilmuwan sedang berupaya melacak partikel itu untuk menemukan titik asalnya. Harapan besar mendatang adalah mendapatkan petunjuk yang terjadi di dalam "ruang gelap", bagian dari alam semesta yang tak terlihat.
READMORE - Memburu Ruang Gelap Alam Semesta

Sabtu, 14 Juli 2012

1 5 Fenomena Alam Yang Menakjubkan

      Beberapa fenomena alam berikut ini menimbulkan bencana bagi umat manusia, namun terlihat indah dan menakjubkan. Terkecuali tentunya tiang cahaya dan migrasi kupu-kupu monarch yang memberi visual nan indah untuk disaksikan. Langsung saja kita lihat bersama, ya

1. Migrasi kupu-kupu Monarch
Migrasi massal kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) terjadi saat musim dingin meliputi sebagian besar Amerika Utara menuju daerah selatan. Warna kupu-kupu oranye dan hitam terlihat indah ketika memenuhi langit biru.

2. Tiang Cahaya
http://duniakaomao.blogspot.com/2012/06/5-fenomena-alam-yang-menakjubkan.html
Tiang cahaya terjadi saat cuaca sangat dingin ketika kristal es tergantung di atmosfer, maka fenomena alam ini terlihat di langit malam. Semakin tinggi kristal es, semakin tinggi pula tiang cahaya itu terlihat.

3. Maelstorm
Maelstorm adalah pusaran air yang sangat kuat di tengah laut. Pusaran air yang terjadi di Skotlandia dan dapat terdengar hingga bermil-mil jauhnya, walaupun nyatanya maelstorm bisa saja terjadi di mana pun.

4. Badai pasir
Badai pasir terjadi ketika angin kencang mengangkat partikel tanah dan pasir ke atmosfer sehingga membentuk badai. Setiap empat puluh juta tahun ton debu dibawa dari Sahara ke cekungan Amazon.

5. Pusaran api
http://duniakaomao.blogspot.com/

Yang satu ini mengerikan, namun tetap terlihat indah. Yaitu pusaran api yang terjadi saat tornado. Pusaran api terjadi ketika panas dari api mendorong udara di atasnya sedemikian rupa untuk membentuk pusaran dengan udara dingin di luar. Jika pusaran ini memperoleh pusaran vertikal maka api akan terhisap ke atas membentuk pusaran api.


Pusaran api yang terjadi di Tokyo tahun 1923 membakar semua bangunan di sana yang kebanyakan terbuat dari kayu, sehingga memakan korban 38.000 orang hangus terbakar.

Di Ambil Dari :
http://duniakaomao.blogspot.com
READMORE - 5 Fenomena Alam Yang Menakjubkan

Kamis, 05 Juli 2012

0 Puluhan Miliar Planet di Bima Sakti Bisa Didiami Manusia

Sekitar 80 persen dari bintang yang berada di Bima Sakti termasuk dalam kategori bintang merah

Para astronom memperkirakan terdapat puluhan miliar planet di Galaksi Bima Sakti yang bisa didiami oleh manusia. Kesimpulan itu diambil setelah mereka menganalisis planet-planet berpermukaan batuan yang mempunyai suhu yang tepat untuk mendukung kehidupan manusia.

Sebuah tim astronom Eropa, Rabu, mengatakan sekitar 40 persen dari bintang merah cebol - bintang yang paling banyak ditemukan di Bima Sakti - diorbiti oleh planet yang disebut "Bumi super", yang mengitarinya dalam zona yang mendukung habitat manusia, artinya di permukaan planet itu kemungkinan terdapat aliran air.

Dengan adanya sekitar 160 miliar bintang merah cebol di Bima Sakti, maka jumlah "dunia" yang cukup hangat dan basah untuk didiami oleh manusia sebenarnya sangat banyak.

Xavier Bonfils, dari Institute of Planetology and Astrophysics di Grenoble, Prancis, ilmuwan yang memimpin penelitian itu mengatakan angka 40 persen itu merupakan perkiraan maksimal dan mereka menepikan sejumlah planet lain yang lebih kecil.

Tim Bonfils merupakan tim pertama yang menghitung jumlah dari "Bumi-super" - planet yang massanya berkisar antara satu hingga sepuluh kali massa Bumi - yang berada di zona yang bisa didiami oleh manusia.

Sekitar 80 persen dari bintang yang berada di Bima Sakti termasuk dalam kategori bintang merah, yakni jenis bintang yang lebih redup dan dingin ketimbang Matahari (Matahari sendiri termasuk dalam kualifikasi bintang kuning).

Setelah meneliti 102 bintang merah di langit selatan menggunakan teleskop European Southern Observatory, yang terletak di Chile, Amerika Selatan, Bonfils dan rekan-rekannya menemukan bahwa planet yang berpermukaan batuan ternyata lebih banyak ketimbang planet gas raksasa, seperti Yupiter dalam sistem planet kita.

Meski demikian planet berpermukaan batuan dan mengorbiti bintang merah cebol tidak serta-merta bisa didiami oleh alien atau bentuk kehidupan lain.

Bintang merah cebol diketahui lebih dingin dari Matahari dan setiap planet yang mempunyai air dalam bentuk cair di permukaanya harus mengorbit lebih dekat ke bintangnya, bahkah lebih dekat dari jarak antara Matahari dengan Bumi.

Jika demikian maka kehidupan yang terdapat dalam planet itu akan diterpa oleh sinar X yang sangat berbahaya dan radiasi ultraviolet.

Penelitian Bonfils dan timnya akan dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics
READMORE - Puluhan Miliar Planet di Bima Sakti Bisa Didiami Manusia

Rabu, 04 Juli 2012

0 Oksigen Di Temukan Di Dione, Bulan Saturnus

"Ini menunjukkan bahwa molekul oksigen pada dasarnya umum dalam sistem Saturnus. Memperkuat dugaan bahwa ini terjadi dari sebuah proses yang tidak melibatkan kehidupan,"

Oksigen di Dione kemungkinan berpotensi dihasilkan oleh fotosintesis matahari atau partikel berenergi tinggi yang membombardir permukaaan yang melindungi lapisan es bulan Saturnus itu. Tokar menjelaskan bahwa serangan tersebut melepaskan ion oksigen ke atmosfer. Kemungkinan lain, oksigen adalah hasil dari proses geologi.

Dione bukan satu-satunya bongkahan batu yang mengandung atmosfer di tata surya. Lapisan tebal atmosfer diketahui menyelubungi Bumi, Venus, dan Mars. Juga bulan terbesar dari Planet Saturnus, Titan.

Atmosfer tipis pada bulan Saturnus yang lain, Rhea, Dione, yang mirip  juga terdeteksi oleh NASA pada 2010.

Temuan oksigen pada Dione, tak lantas membuat pendapat pada ilmuwan berubah. Mereka tetap yakin Dione tak punya daya dukung kehidupan. "Namun riset terbaru menunjukkan, Dione jauh lebih menarik dari yang sebelumnya kami pikirkan," kata Amanda Hendrix, Deputi Proyek Sains Cassini pada Jet Propulsion Laboratory NASA, Kalifornia.

Di Ambil Dari :
http://duniakaomao.blogspot.com
READMORE - Oksigen Di Temukan Di Dione, Bulan Saturnus

Jumat, 22 Juni 2012

0 Peneliti Tidak Menemukan Organisme Biologi di Meteorit Mars

     Pencarian organisme biologis yang membentuk molekul organik di Mars awalnya mengacu pada data yang diperoleh oleh misi Viking pda tahun 1970an. Misi tersebut terkenal karena berhasil menemukan unsur karbon di planet tersebut.

     Seperti dikutip astronomi.us dari universetoday.com, Kamin (21/06/2012), Hasil terbaru yang diperoleh oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Andrew Steele dari Carnegie Institution of Sciences terhadap batu meteor Mars yang terbentuk 4.2 miliar tahun lalu, tidak berhasil menemukan adanya organisme biologi. Batu meteor tersebut mengandung molekul karbon yang menjadi salah satu unsur dasar pembentuk kehidupan. Tim mendapati hal tersebut setelah melakukan penelitian terhadap 10 dari 11 meteorit Mars yang diteliti. Namun muncul pertanyaan sebenarnya darimana asal molekul organik tersebut, apa yang membuat molekul tersebut ada?

     Tim mencoba menjawab pertanyaan tersebut dan mencoba mengambil kesimpulan. Molekul karbon tersebut memang berasal dari Mars dan bukan berasal dari kontaminasi silang Biosphere Bumi. Mereka menemukan bahwa molekul karbon tersebut tidak dibuat oleh suatu proses biologis. Karbon tersebut terbentuk di bongkahan batu yang menjadi meteroit yang jatuh ke Bumi. Pembentukan molekul karbon pada batu meteroit itu merupakan dibentuk proses vulkanik yang kemudian menjebak karbon dalam struktur kristal yang dibentuk oleh magma yang mendingin. Itu merupakan urutan dari reaksi kimia non-biologis. Materi organik di meteroit di buat oleh karbon yang terperangkap di kristal tersebut.

     Penjelasan lain yang diungkap oleh tim peneliti adalah kemungkinan molekul organik tersebut merupakan hasil emisi mikrobia yang bermigrasi kegunung berapi melalui proses tektonik yang mirip seperti di Bumi. Namun Mars tidak memiliki aktivitas tektonik seperti Bumi jadi kecil kemungkinannya kalau molekul tersebut dibentuk oleh aktivitas mikrobia.

     Mungkin tampak membingungkan, namun yang menarik dari studi ini adalah pada 4.2 miliar tahun yang lalu Mars secara alami membentuk molekul organik kompleks yang kemungkinan masih berlangsung hingga saat ini.

     Meteroit ALH84001 yang menjadi meteroit panting dalam studi ini, pada tahun 1996 juga diketahui mengandung fosil Mars. Meteroit ini terbang dan sampai ke Bumi disebabkan oleh tumbukan hebat di Mars sekitar 16 juta tahun yang lalu dan jatuh di antartika 13 ribu tahun yang lalu dan ditemukan di Allan Hills, Antartika. (Adi Saputro/astronomi.us)
READMORE - Peneliti Tidak Menemukan Organisme Biologi di Meteorit Mars

0 Astronom Menemukan 'Planet Berlian' di Galaksi Bima Sakti

     Tim astronom di Australian mengaku telah menemukan suatu planet eksotis di galaksi Bima Sakti. Planet itu bagaikan sebuha berlian.

     Planet ini, berjarak sekitar 4000 tahun cahaya dari Bumi, jauh lebih padat dari yang lain dan sebagian besar terdiri dari karbon. Saking padatnya, tim astronom memperhitungkan bahwa karbon ini sejernih kristal, bahkan tidak jauh beda dengan berlian.

     Menurut studi terbaru dari Ohio State University, 'planet berlian' ini terletak di 73-250 tahun cahaya dari Bima Sakti. Associate Profesor Wendy Panero di School of Earth Sciences meneyebutkan, sampel besi, karbon dan oksigen yang ada pada planet ini meniru bagian dalam Bumi.

     Artinya, rasio tinggi karbon dan oksigen planet ini membuatnya membentuk berlian. Menurut data, 50% atom di planet ini akan berubah menjadi berlian. Seperti diketahui, berlian mampu menyalurkan panas dengan baik, namun berlian juga mampu membeku dengan cepat.

     Lingkungan semacam ini membuat kehidupan tak bisa bertahan seperti di Bumi. Di pertemuan American Geophysycal Union Fall Meeting, mahasiswa doctoral Cayman Unterborn menyebutkan, berlian yang ada pada planet semacam ini berada 150km di bawah permukaan planet.

     Planet aneh ini mengorbit disekitar sebuah bintang yang telah mati akibat supernova dan disebut sebagai millisecond pulsar baru atau bernama PSR J1719-1438. Ketua tim peneliti dari Universitas Swinburne di Melbourne, Matthew Bailes, memperkirakan planet ini memiliki diameter lima kali lipat dari bumi.

     "Kami sangat yakin bahwa planet itu memiliki kepadatan 18 kali lipat dari air", kata Bailes, sepeti yang dikutip National Geographic, 25 Agustus 2011. "Ini berarti planet itu tidak dibuat dari gas seperti hidrogen dan helium seperti kebanyakan bintang, namun terbuat dari elemen-elemen yang lebih berat seperti karbon dan oksigen sehingga jadi mengkristal, mirip sebuah berlian," kata Bailes.

     Bailes dan timnya menemukan planet beserta bintang millisecond pulsar itu saat survei pulsar melalui teleskop radio di Observatorium Parkes, Australia. Pulsar merupakan sejenis bintang mati yang memancarkan sinar gelombang radio yang kuat dari sumbunya. Bila sinar-sinar tersebut melintas pandangan dari Bumi ketika bintang berotasi, teleskop radio di Bumi dapat mendeteksi denyut rutin bintang mati itu.

     Tim dari Swinburne telah membuat sketsa atas bentuk planet yang mirip berlian itu. Namun, kepastian apakah planet tersebut benar-benar berlian raksasa masih harus dibuktikan lebih lanjut. Tim astronom optimis bakal mememukan planet-planet aneh lainnya.

     "Dengan makin canggihnya teknologi komputer, kami yakin akan menemukan lagi planet seperti ini," Kata Bailes.
READMORE - Astronom Menemukan 'Planet Berlian' di Galaksi Bima Sakti

Rabu, 20 Juni 2012

0 Astronom Temukan Puluhan Kluster Galaksi Baru di Luar Angkasa

     Alam semesta akan terlihat semakin padat setiap harinya. Planet, asteroid, bintang dan galaksi ditemukan setiap tahunnya dalam jumlah yang cukup banyak.
     Situs web discovery hari ini memberitakan tentang penemuan 23 kluster galaksi atau gugusan bintang-bintang yang terdiri dari beberapa galaksi oleh Atacama Cosmology Telescope (ACT).
     Di antara 23 kluster yang ditemukan itu, 10 diantaranya merupakan kluster galaksi baru.
Penemuan itu akan dilaporkan di Astrophysics Journal yang akan terbit tanggal 10 November nanti.
     Misi penemuan kluster baru galaksi ini mulai dilakukan pada tahun 2008. Para peneliti menggunakan teknologi ACT yang akan mengumpulkan gelombang mikro untuk mampu mencitrakan kluster galaksi yang ingin ditemukan.
     Mereka memilih Gurun Atacama di Chile sebagai tempat observasi agar kerja ACT tak banyak terganggu karena banyak uap air.
"Observasi di Acatama yang di pimpin oleh Luman Page dari Princeton University ini bermisi menemukan 'bayangan' yang selama ini dimaksudkan para ilmuwan sebagai kluster galaksi.
     Bayangan yang dimaksud adalah bayangan kluster galaksi yang tercitra dalam ACT. Bayangan tersebut tercipta akibat adanya gas panas dalam kluster kosmik yang menyebabkan  radiasi latar belakang kosmik meningkat energinya. Akibat peristiwa itulah, kluster galaksi tampak dalam bentuk bayangan.
     Menanggapi hasil penelitian ini, Priyamvada Natarajan, Professor fisika dan astronomi yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, "hasil penelitian ini akan membangun inventaris kami tentang bagian alam semesta yang paling jauh dan massif. Ini juga akan memberi tantangan penting pada model kosmos yang sekarang diterima. Saya bangga dengan temuan ini."
     Sejumlah peneliti yang terlibat dalam observasi ini, selain Menanteu dan Natarajan, adalah Jack Hughes dari Rutgers dan Jorge Gonzales dari Pontifical Chatholic University of Chile.
READMORE - Astronom Temukan Puluhan Kluster Galaksi Baru di Luar Angkasa

0 Galaksi Terbaru Berpijar Diluar Angkasa

     Banyak rahasia alam semesta yang belum terungkap, mulai dari kemungkinan adanya sumber kehidupan diluar bumi serta objek-objek baru yang belum terungkap. Pekan lalu, ilmuwan Inggris mengungkapkan, telah muncul objek misterius terbaru yang muncul diluar angkasa.
     Objek misterius tersebut diketahui merupakan "micro-quasar" atau quasar kecil yang nampak terang benderang. Quasar merupakan sebuah jenis galaksi aktif yang ditemukan di pusat galaksi dan berisi lubang hitam yang sangat besar.
     Sejak tahun lalu, tiba-tiba quasar kecil tersebut perlahan mulai menghasilkan gelombang radio dalam jarak sekira 10 juta cahaya, dekat galaksi M82.
     Objek luar angkasa baru yang mulai muncul pada Mei 2009 ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak para ilmuwan. "Kami belum pernah menemukan jenis quasar yang seperti ini sebelumnya," ujar Tom Muxlow ahli astronomi di University of Manchester, Inggris.
     M82 disebut juga "starburst Galaxy", yaitu galaksi yang terpecah dan menghasilkan bintang-bintang baru pada tingkat yang luar biasa. Sebagian besar bintang-bintang ini mati dalam ledakan besar, dengan supernova terjadi setiap 20 hingga 30 tahun pada M82.
     Objek misterius tersebut menyala dengan cepat dalam beberapa hari dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mati, bahkan setelah menyala selama hampir satu tahun.
     Namun begitu, objek yang baru ditemukan ini berjarak seratus tahun cahaya dari pusat M82, cukup jauh untuk terhubung dengan pusat galaksi. Micro-quasar, sama seperti quasar lain yang berukuran lebih besar, nampaknya melibatkan zat yang berputar memasuki lubang hitam.
READMORE - Galaksi Terbaru Berpijar Diluar Angkasa

Selasa, 07 Februari 2012

0 Hukum Ohm

Hukum Ohm menyatakan bahwa besar arus yang mengalir pada suatu konduktor pada suhu tetap sebanding dengan beda potensial antara kedua ujung-ujung konduktor
I = V / R

HUKUM OHM UNTUK RANGKAIAN TERTUTUP

I = n E
R + n rd I = n
R + rd/p
n = banyak elemen yang disusun seri
E = ggl (volt)
rd = hambatan dalam elemen
R = hambatan luar
p = banyaknya elemen yang disusun paralel

RANGKAIAN HAMBATAN DISUSUN SERI DAN PARALEL

SERI
R = R1 + R2 + R3 + ...
V = V1 + V2 + V3 + ...
I = I1 = I2 = I3 = ... PARALEL
1 = 1 + 1 + 1
R R1 R2 R3

V = V1 = V2 = V3 = ...
I = I1 + I2 + I3 + ...

ENERGI DAN DAYA LISTRIK
ENERGI LISTRIK (W)
adalah energi yang dipakai (terserap) oleh hambatan R.

W = V I t = V²t/R = I²Rt
Joule = Watt.detik
KWH = Kilo.Watt.jam

DAYA LISTRIK (P) adalah energi listrik yang terpakai setiap detik.

P = W/t = V I = V²/R = I²R

Ohm yang dimaksud diatas bukan om om biasa tetapi Ohm yang luar biasa. Ohm diambil dari nama tokoh fisika George Simon Ohm. Dia merupakan ilmuan yang berhasil menentukan hubungan antara beda potensial dengan arus listrik. Selain tiu dia juga menenmukan bahwa perbandingan antara beda potensial di suatu beban listrik dengan arus yang mengalir pada beban listrik tersebut menghasilkan angka yang konstan. Konstanta ini kemudian di kenal dengan Hambatan listrik (R). Untuk menghargai jasanya maka satuan Hambatan listrik adalah Ohm (Ω).

Bunyi hukum Ohm hampir setiap buku berbeda beda, mungkin karena Mbah Ohm udah keduluan meninggal. Tetapi secara garis besar semuanya hampir sama, dari hasil semedi sambil membaca buku fisika penulis dapat merangkum ada 2 bunyi hukum Ohm yaitu :
1. Besarnya arus listrik yang mengalir sebanding dengan besarnya beda potensial (Tegangan). Untuk sementara tegangan dan beda potensial dianggap sama walau sebenarnya kedua secara konsep berbeda. Secara matematika di tuliskan I ∞ V atau V ∞ I, Untuk menghilangkan kesebandingan ini maka perlu ditambahkan sebuah konstanta yang kemudian di kenal dengan Hambatan (R) sehingga persamaannya menjadi V = I.R. Dimana V adalah tegangan (volt), I adalah kuat arus (A) dan R adalah hambatan (Ohm).
2. Perbandingan antara tegangan dengan kuat arus merupakan suatu bilangan konstan yang disebut hambatan listrik. Secara matematika di tuliskan V/I = R atau dituliskan V = I.R.
Keduanya menghasilkan persamaan yang sama, tinggal anda menyukai dan menyakini yang mana silakan pilih saja karena keduanya benar dan ada buku literaturnya.

Fungsi utama hukum Ohm adalah digunakan untuk mengetahui hubungan tegangan dan kuat arus serta dapat digunakan untuk menentukan suatu hambatan beban listrik tanpa menggunakan Ohmmeter. Kesimpulan akhir hukum Ohm adalah semakin besar sumber tegangan maka semakin besar arus yang dihasilkan. Kemudian konsep yang sering salah pada siswa adalah hambatan listrik dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik. Konsep ini salah, besar kecilnya hambatan listrik tidak dipengaruhi oleh besar tegangan dan arus listrik tetapi dipengaruhi oleh panjang penampang, luas penampang dan jenis bahan.

Konsep Hambatan Listrik
Misalkan kita punya sebatang kawat, maka didalam kawat itu sebenarnya punya jutaan elektron yang bergerak secara acak dengan kelajuan 10 pangkat 5 m/s. Wah cepat banget ya, itu katanya Prof. Yohanes surya, saya juga belum lihat elektron. Karena yang bilang Prof ya percaya aja. Ketika kawat ini tidak kita hubungkan dengan sumber tegangan maka elektron akan bergerak disekitar tempat nya saja, dia tidak akan bisa jauh-jauh dari tempatnya semula. Kenapa kok begitu? Karena disekitarnya berdesak – desakan dengan elektron lain dan juga ada pengaruh gaya ikat inti (katanya para ahli).

Bagaimana jika kawat tersebut kita hubungkan dengan sumber tegangan maka elektron mulai mengalir (bukan bergerak ditempatnya lho) dengan kelajuan 1 mm/s. Kok bisa mengalir? konon katanya energi yang diperoleh dari sumber tegangan digunakan elektron untuk berpindah, dan saat berpindah elektron juga mengeluarkan energi (baca fisika zat padat). Dalam perjalanannya elektron juga mendapat halangan elektron – elektron yang lain. Besarnya halangan yang dialami elektron inilah yang disebut dengan hambatan listrik suatu benda.
Seperti penjelasan awal tadi Hambatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu panjang, luas dan jenis bahan.

Hambatan berbading lurus dengan panjang benda, semakin panjang maka semakin besar hambatan suatu benda. Hambatan juga berbading terbalik dengan luas penampang benda, semakin luas penampangnya maka semakin kecil hambatannya.. Inilah alasan mengapa kabel tiang listrik dibuat besar-besar, tujuannya adalah untuk memperkecil hambatan sehingga tegangan bisa mengalir dengan mudah. Hambatan juga berbanding lurus dengan jenis benda (hambatan jenis) semakin besar hambatan jenisnya maka semakin besar hambatan benda itu.

Secara matematika dapat dituliskan : R = ρ.L/A
Dimana ρ adalah hambatan jenis (ohm/m)
L adalah panjang benda (m)
A adalah luas penampang (m kuadrat) biasanya luas penampang bentuknya lingkaran.
Oke dalam bahasan kali ini akan di berikan dua bahasan langsung yaitu tentang hukum yang di ungkapkan oleh Kirchoff dan oleh Ohm, keduanya sama membahas tentang arus, hanya bedanya ohm lebih pada arus yang mengalir pada konduktor yang memiliki beda potensial, sedangkan kirchoff menelaah kuat arus pada rangkaian, baik tertutup atau pada percabangan.

APA ITU ARUS ?

Arus listrik atau dalam versi bahasa inggris sering disebut electric current dapat didefinisikan sebagai jumlah muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Biasanya arus memiliki satuan A (Ampere) atau dalam rumus terkadang ditulis I. Arus listrik merupakan gerakan kelompok partikel bermuatan listrik dalam arah tertentu. Arah arus listrik yang mengalir dalam suatu konduktor adalah dari potensial tinggi ke potensial rendah (berlawanan arah dengan gerak elektron). Satu ampere sama dengan 1 couloumb dari electron melewati satu titik pada satu detik. Pada kasus ini, besarnya energi listrik yang bergerak melewati conductor (penghantar).
Muatan listrik bisa mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya. Pada zaman dulu, Arus konvensional didefinisikan sebagai aliran muatan positif, sekalipun kita sekarang tahu bahwa arus listrik itu dihasilkan dari aliran elektron yang bermuatan negatif ke arah yang sebaliknya.

APA ITU TEGANGAN ?

Tegangan listrik (Voltage) adalah perbedaan potensi listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik. Tegangan dinyatakan dalam satuan volt (V). Besaran ini mengukur energi potensial sebuah medan listrik untuk menyebabkan aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensi listrik satu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra tinggi.
Tenaga (the force) yang mendorong electron agar bisa mengalir dalam sebauh rangkaian dinamakan tegangan. Tegangan adalah sebenarnya nilai dari potensial energi antara dua titik. Pada sebuah rangkaian, besar energi potensial yang ada untuk menggerakkan electron pada titik satu dengan titik yang lainnya merupakan jumlah tegangan.

APA ITU HAMBATAN ?

Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan dinyatakan dalam satuan ohm. Elektron bebas cenderung bergerak melewati konduktor dengan beberapa derajat pergesekan, atau bergerak berlawanan. Gerak berlawanan ini yang biasanya disebut dengan hambatan. Besarnya arus didalam rangkaian adalah jumlah dari energi yang ada untuk mendorong elektron, dan juga jumlah dari hambatan dalam sebuah rangkaian untuk menghambat lajunya arus.

APA ITU DAYA (POWER) ?

Daya listrik didefinisikan sebagai laju hantaran energi listrik dalam rangkaian listrik. Satuan daya listrik adalah watt. Daya listrik, seperti daya mekanik, dilambangkan oleh huruf P dalam persamaan listrik. Pada rangkaian arus DC, daya listrik sesaat dihitung menggunakan hukum joule. Daya listrik mengalir di manapun medan listrik dan magnet berada di tempat yang sama.

Berikut adalah tabel tambahan mengenai satuan SI dalam electromagnetic

READMORE - Hukum Ohm

Sabtu, 17 September 2011

0 Dua Matahari Terbenam di Planet Kepler-16b

Washington (ANTARA/Reuters) - Dua matahari terbenam ketika hari berakhir di planet Kepler-16b, kata para ilmuwan Kamis di jurnal Sains.
Dalam sebuah peristiwa yang mengingatkan orang akan fiksi ilmiah, peneliti yang menggunakan pengamatan dari pesawat antariksa Kepler NASA mendeteksi sebuah planet jauh yang mengorbit dua bintang -- pertama kali fenomena semacam itu dipastikan keberadaannya.
"Ini sungguh-sungguh pengukuran menakjubkan oleh Kepler," kata Alan Boss dari Lembaga Sains Carnegie, penyusun bersama laporan penelitian itu.
"Hal yang betul-betul menarik adalah ada sebuah planet di sana yang mengorbit kedua bintang ini," katanya.
Bintang-bintang berpasangan -- dua matahari yang saling memutar -- telah terlihat sebelumnya, dan para astronom menduga ada planet yang mengitari mereka, namun observasi Kepler itu merupakan konfirmasi pertama bagi kenyataan tersebut.
Gravitasi dua bintang, bahkan untuk bintang-bintang relatif kecil seperti di pusat sistem perbintangan ini, sangat berbeda dari gravitasi satu bintang, kata Boss melalui telefon.
Misi Kepler adalah menyelidiki wilayah kita di galaksi Bima Sakti mengenai keberadaan planet-planet di "zona bisa dihuni" yang tidak terlalu dekat atau jauh dari bintang-bintang yang mereka orbit.
Pesawat antariksa tersebut melakukan hal itu dengan menemukan bintang-bintang dengan cahaya meredup secara berkala, yang berarti ada benda angkasa yang mengorbit -- sebuah planet -- yang bergerak antara bintang itu dan instrumen Kepler. Ini dikenal sebagai sebuah transit planet.
Yang mengejutkan adalah bintang-bintang itu saling memudarkan satu sama lain ketika bintang yang satu menghalangi yang lain. Gerhana ketiga menunjukkan bahwa sebuah planet menjadi bagian dari sistem tersebut.
Karena kedua mataharinya lebih kecil dan lebih dingin daripada matahari kita, planet Kepler-16b sangat dingin, dengan suhu permukaan sekitar minus 73 hingga minus 101 derajat Celsius, kata Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian dalam sebuah pernyataan. Josh Carter dari lembaga itu adalah penyusun bersama penelitian tersebut.
Kepler-16b adalah sebuah planet gas besar dingin dengan ukuran serta massa yang sama dengan planet Yupiter, yang mengorbit kedua mataharinya setiap 229 hari pada jarak 104,6 juta kilometer. Jarak itu kira-kira sama dengan orbit Venus. Bumi mengorbit matahari setiap 365 hari pada jarak sekitar 149,7 juta kilometer.
Planet yang baru terdeteksi ini berjarak 200 tahun cahaya dari Bumi dan diperkirakan tidak ada bentuk kehidupan di sana. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu setahun, sekitar 10 trilyun kilometer.
READMORE - Dua Matahari Terbenam di Planet Kepler-16b

Senin, 27 Juni 2011

0 Planet Raksasa Yang Mengorbit Beta Pictoris


(Epochtimes.co.id) Astronomy & Astrophysics merilis pengamatan beresolusi tinggi terhadap planet raksasa yang mengorbit bintang Beta (ß) Pictoris. 

     ß Pictoris yang tergolong berusia muda ini (sekitar 12 juta tahun) dan berukuran 75% lebih besar dari Matahari kita, terletak pada 63.4 tahun cahaya dari planet kita. ß Pictoris dikenal karena memiliki kekhasan berupa cakram debu yang memanjang dan terstruktur. 

     Faktanya, ß Pictoris merupakan satu-satunya bintang bercakram yang diamati langsung sejak 25 tahun yang lalu. Pada 2009, sebuah planet besar terlihat mengorbit di dalam piringan cakram. Dengan jarak orbital antara 8 sampai 15 AU, menjadikan ß Pictoris sebagai exoplanet terdekat dengan bintangnya yang telah berhasil diambil gambarnya. Planet ini menawarkan kesempatan baru untuk mempelajari proses pembentukkan planet, dan sekaligus interaksi antara planet-planet dengan cakram-cakramnya. 

     Sebuah tim astronomi internasional mengamati ß Pictoris dengan menggunakan instrumen VLT/NaCo pada gelombang inframerah sebesar 2.18 µm (2.18 mikrometer). Pengamatan sebelumnya dibuat dengan menggunakan panjang gelombang mendekati 4 µm. 

     Mereka mendeteksi planet ini lagi dan membandingkannya dengan hasil pengamatan sebelumnya. Dengan menggabungkan semua data yang ada, terlihat bahwa planet ini bergerak di sekeliling bintangnya, sesuai dengan hasil yang diharapkan dari data yang ada. Dengan menganalisa amatan terbaru ini, tim ini berhasil mendapatkan ukuran planet, yakni 7 - 11 kali massa Jupiter, dengan suhu efektif berkisar antara 1100-1700°C. 

     Data terbaru ini telah menceritakan pada kita sesuatu tentang pembentukan planet, khususnya karena system tata surya diluar tata surya kita ini masih tergolong muda. Planet ß Pictoris b ini masih hangat, menunjukkan bahwa planet ini masih menahan panas yang didapat jauh pada masa awal pembentukkannya. Planet ini terbentuk dengan cara yang sama dengan terbentuknya 4 planet raksasa di Tata Surya kita sendiri. Massa dan suhunya tidak dapat dijelaskan dengan beberapa model evolusi yang memiliki hipotesa bahwa energi akan dilepas secara total selama pembentukan material cakram. 

     Observasi lanjutan terhadap ß Pictoris b dengan NaCo dan instrumen VLT generasi baru SPHERE akan menyediakan detil lebih lanjut mengenai atmosfir dan keterangan orbital, dan bagaimana cara kawanan planet ini mempengaruhi cakram material yang mengelilinginya.  (ScienceDaily / den)
READMORE - Planet Raksasa Yang Mengorbit Beta Pictoris

0 Habitable Exoplanet Pertama Yang Mengorbit Bintang Kerdil Merah


(Epochtimes.co.id) Para ahli astrofisika Prancis telah menentukan bahwa sebuah planet yang terletak 20 tahun cahaya dari Bumi merupakan planet pertama diluar tata surya kita (exoplanet) yang berada di habitable zone (zona dimana sebuah planet berada dalam jarak yang cukup dengan mataharinya sehingga air dalam bentuk cair eksis dan memiliki suhu yang sesuai agar dapat dihuni).   

     Gliese 581d merupakan satu dari beberapa exoplanet yang mengorbit sistem bintang red dwarf (kerdil merah), Gliese 581, yang telah menjadi pusat perhatian sejak pertama kali ditemukan pada 2007. Pada September 2010 lalu, secara kontroversial Gliese 581d dianggap sebagai planet Goldilocks (planet yang tidak terlalu dingin atau panas), yang memungkinkan untuk dihuni. Namun sejak saat itu banyak keraguan yang muncul.

     Sekarang, para ilmuwan dari Institut Pierre Simon Laplace di Paris telah memakai teknik model komputer yang mampu mensimulasikan iklim dan permukaan exoplanet dalam tampilan 3D untuk memprediksi bahwa Gliese 381d, yang awalnya diduga terlalu dingin untuk mendukung adanya kehidupan, bisa jadi ternyata hangat dan cukup basah bagi kehidupan seperti Bumi untuk eksis disana.

     Gliese 581d dua kali lebih besar dari Bumi dan memiliki massa kurang lebih tujuh kali massa planet kita. Dengan adanya siang dan malam yang permanen (Gliese 581d, akibat terlalu dekat dengan Mataharinya, tidak berputar pada porosnya seperti Bumi sehingga tidak memiliki siklus siang dan malam), dan hanya menerima sepertiga dari energi mataharinya, exoplanet itu tampaknya tidak dapat dihuni karena atmosfir yang cukup tebal untuk memicu pemanasan menjadi beku di sisi malam abadi planet itu.

     Akan tetapi, melalui simulasi iklim yang dilakukan oleh tim ini menunjukkan bahwa Gliese 581d memiliki “atmosfir yang stabil dan memiliki permukaan air yang cukup luas, menjadikannya sebagai super-earth pertama (exoplanet dengan massa 2-10 kali Bumi) yang berada di habitable zone,” demikian bunyi abstrak (kalimat pengantar) dalam jurnal penelitian yang dipublikasikan pada The Astrophysical Journal Letters.

     Menurut rilis pers dari National Center for Scientific Research (CNRS) Prancis, jika Gliese 581d dimodel dengan adanya atmosfir karbon dioksida yang tebal, sesuai dengan yang diduga para ahli sebelumnya, hasilnya ialah: “iklimnya tidak hanya stabil, tapi juga cukup hangat untuk dapat memiliki lautan, awan, dan hujan.” 

     Karena cahaya yang dipancarkan oleh bintang Gliese 581 berwarna merah, cahaya mampu bergerak  jauh kedalam atmosfir karbon dioksida, dan menciptakan panas via efek rumah kaca. Pada tata surya kita, hal ini tidak mungkin terjadi karena adanya efek Rayleigh scattering (penyebaran Rayleigh), efek yang terjadi ketika atmosfir tebal merefleksikan komponen berwarna biru dalam cahaya matahari (cahaya matahari terdiri dari tujuh spektrum warna) kembali ke angkasa, menjadikan langit di Bumi berwarna biru.  

     Dalam simulasi model juga ditunjukkan bahwa atmosfir Gliese 581d secara efisien mendistribusikan cahaya mataharinya ke seluruh planet dan menghangatkannya, mencegah terjadinya keruntuhan atmosfir pada kutub-kutub dan sisi gelap dari Gliese 581d. 

     Suatu rilis pers yang dikeluarkan oleh Institut itu juga mengatakan bahwa kedepannya, teleskop mampu mendeteksi atmosfir exoplanet ini karena jaraknya yang dekat dengan Bumi. Tim ini juga telah merancang tes-tes sederhana yang akan membuat para peneliti di masa depan untuk mengumpulkan informasi seperti: apakah Gliese 581d memiliki atmosfir dengan kandungan Hidrogen seperti Uranus atau Neptunus.

     “Selain bermandikan dalam cahaya merah, massa planet yang besar berarti gravitasi di permukaannya kurang lebih dua kali lebih kuat dari Bumi, menunjukkan bahwa planet yang mendukung kehidupan tidak harus memiliki kondisi yang sama persis dengan Bumi.” Demikian pernyataan dalam suatu rilis pers.  (Cassie Ryan / The Epoch Times / den)
READMORE - Habitable Exoplanet Pertama Yang Mengorbit Bintang Kerdil Merah

0 NASA Temukan Enam Kandidat Sistem Planet Seukuran Bumi


(Epochtimes.co.id) Misi Kepler yang dimotori oleh NASA berhasil menemukan kandidat planet seukuran Bumi pertamanya, sekaligus kandidat planet pertama yang terletak pada habitable zone, yaitu zona dimana air dapat ditemukan eksis di permukaan planet.  5 diantara planet-planet itu hampir memiliki ukuran yang serupa dengan Bumi, dan mengorbit dalam habitable zone pada sebuah bintang yang lebih dingin dan kecil dari Matahari.

     Namun kelima kandidat di atas tersebut  masih memerlukan pengamatan lebih lanjut. Kepler juga mengonfirmasikan penemuan 6 planet yang mengorbit mengitari bintang seperti Matahari, yang disebut sebagai Kepler-11. Penemuan ini merupakan temuan kelompok planet terbesar yang mengorbit pada bintang lain di luar Tata Surya kita.

     “Dalam satu generasi, kita telah mengubah pandangan mengenai planet lain di luar Tata Surya hanyalah suatu judul besar dalam film-film dan bacaan mengenai sains fiksi, menjadi suatu hal yang nyata ketika Kepler membantu mengubah sains fiksi tersebut menjadi sebuah kenyataan.” Penemuan ini menggarisbawahi betapa pentingnya misi sains yang dilakoni NASA, yang secara konsisten meningkatkan pemahaman kita mengenai alam semesta.”

     Penemuan ini hanyalah sebagian dari ratusan kandidat planet baru yang berhasil diidentifikasikan oleh data misi sains Kepler, yang dirilis pada 1 Februari. Saat ini, Kepler telah menambah daftar jumlah kandidat planet baru menjadi 1.235 buah. Dari jumlah ini, 68 buah memiliki ukuran yang hampir sama dengan Bumi, 288 buah memiliki ukuran Super-Earth, 662 buah seukuran Neptunus, 165 buah seukuran Jupiter, dan 19 buah sisanya lebih besar dari Jupiter.

     Dari 54 kandidat planet baru yang ditemukan berada di habitable zone, 5 diantaranya memiliki ukuran nyaris sama dengan Bumi. Sedangkan 49 sisanya yang terletak di habitable zone memiliki ukuran yang berkisar dari Super-Earth – 2 kali lebih dari ukuran Bumi – sampai lebih besar dari Jupiter.
Penemuan ini merupakan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada 12 Mei - 17 September 2009. Lebih dari 156.000 bintang yang masuk dalam bidang pandangan Kepler, kira-kira setara dengan lebar 1/400 dari langit.

     “Banyaknya kandidat planet yang ditemukan, begitu sempit bidang pandang (hanya 1/400 dari keseluruhan langit) merupakan suatu fakta yang menunjukkan banyaknya jumlah planet yang mengorbit pada bintang yang serupa dengan Matahari di galaksi ini,” ujar William Borucki dari NASA’s Ames Research Center di Moffett Field, Kalifornia. “Kami berangkat dari nol hingga 68 kandidat planet seukuran Bumi, dan dari nol hingga 54 kandidat planet yang terletak di habitable zone, beberapa diantaranya mungkin memiliki bulan dengan air di permukaannya.”

      Diantara bintang-bintang yang memiliki kandidat planet, 170 diantaranya telah terbukti memiliki sistem planet yang mengelilinginya. Kepler-11 yang terletak sekitar 2.000 tahun cahaya dari Bumi, merupakan sistem bintang yang dikelilingi oleh planet dengan jumlah terbanyak dari yang selama ini pernah diketemukan. Keenam planet yang telah dikonfirmasi itu memiliki orbit yang lebih kecil dari Venus, dan 5 dari 6 memiliki orbit yang lebih kecil daripada Merkurius. Satu-satunya bintang lain yang memiliki planet lebih dari satu yaitu Kepler-9, yang memiliki 3 buah. Penemuan mengenai Kepler-11 akan dipublikasikan pada jurnal Nature edisi 3 Februari.

     “Kepler-11 adalah suatu sistem yang mencengangkan karena arsitektur dan dinamikanya menyediakan petunjuk mengenai pembentukannya,” kata Jack Lissauer, ilmuwan planet dan anggota tim sains Kepler. “Keenam planet ini merupakan campuran dari batu dan gas, dan kemungkinan juga air. Material berbatu membentuk sebagian besar massa planet, sedangkan gas mengisi sebagian besar volumenya. Dengan mengukur ukuran dan massa dari 5 planet terdalam, kita telah menentukan bahwa kelima planet itu merupakan planet bermassa terkecil yang ditemukan di luar Tata Surya kita.”

     Kesemua planet yang mengorbit Kepler-11 berukuran lebih besar dari Bumi, yang terbesar bahkan dapat disandingkan dengan Uranus atau Neptunus. Sedangkan planet terdalam, Kepler-11b, memiliki posisi 10 kali lebih dekat ke bintangnya daripada jarak Bumi ke Matahari. Bergerak keluar lagi, planet-planet sisanya ialah Kepler-11c, 11d, 11e, 11f, dan yang paling luar Kepler-11g, yang berjarak setengah dari jarak Bumi ke Matahari.
Planet Kepler-11d, 11e, dan 11f memiliki jumlah gas ringan yang cukup signifikan, yang juga menandakan bahwa mereka terbentuk setidaknya beberapa juta setelah formasi itu terbentuk.
“Prestasi yang dicetak oleh Kepler dengan terus membuat penemuan baru akan menentukan arah setiap misi exoplanet yang akan datang,” kata Douglas Hudgins, ilmuwan program Kepler di Mabes NASA, Washington.

     Kepler, sebuah teleskop yang mengorbit di luar angkasa, menemukan planet dengan cara mengukur tanda-tanda khusus berupa berkurangnya tingkat intensitas kecermerlangan cahaya bintang dalam jumlah yang sangat kecil yang diakibatkan sebuah planet melintas di depannya. Hal ini disebut sebagai transit.
Oleh karena peristiwa transit sebuah planet yang terletak di habitable zone sebuah bintang yang serupa matahari membutuhkan waktu setahun sekali, dan dibutuhkan 3 kali transit untuk memverifikasi, maka dibutuhkan 3 tahun untuk menemukan dan memverifikasi planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang mirip Matahari.

     Tim sains Kepler menggunakan teleskop di Bumi, dan Spitzer Space Telescope untuk melakukan pengamatan ulang terhadap sebuah kandidat planet dan obyek-obyek lain yang ditemukan oleh Kepler itu.
Bidang amatan Kepler yaitu konstelasi Cygnus dan Lyra, hanya dapat diamati oleh pengamat di Bumi pada musim semi sampai akhir awal musim gugur. Data dari pengamatan ini membantu menentukan kandidat berikutnya yang dapat divalidasi sebagai sebuah planet.  (Science Daily / den)
READMORE - NASA Temukan Enam Kandidat Sistem Planet Seukuran Bumi

0 Phobos Melintasi Jupiter


(Epochtimes.co.id) Awal bulan ini wahana antariksa Mars Express milik ESA melakukan manuver khusus untuk mengamati transit yang jarang terjadi dan tidak biasa antara Jupiter dan bulan Mars Phobos. Citra yang luar biasa dari kejadian langka ini telah diproses menjadi gambar bergerak (film).

     Ketika Mars Express, Phobos dan Jupiter berada dalam satu garis yang sejajar pada 1 Juni 2011, mereka masing-masing berada dalam jarak 11,389 km antara Mars Express dan Phobos, dan 529 juta km ke Jupiter.

     Kamera beresolusi tinggi yang dibopong oleh Mars Express dijaga agar tetap mengarah pada Jupiter selama transit berlangsung, memastikan agar planet tetap ada di posisinya selama pengambilan gambar berlangsung. Misi itu telah menghasilkan total 104 gambar dalam selang waktu 68 detik yang kesemuanya diambil dengan memakai channel super-resolution dari kamera tersebut. 

     Dengan mengetahui kapan persisnya Jupiter melintas di belakang Phobos dan mengamatinya, akan membantu kita dalam meningkatkan pemahaman kita terhadap periode orbital bulan-bulan Martian (sebutan populer untuk Mars).

     Gambar yang ditampilkan di sini adalah hasil pemrosesan oleh Department of Planetary Sciences and Remote Sensing pada Institute of Geological Sciences of the Freie Universität di Berlin.  (science Daily / den)
READMORE - Phobos Melintasi Jupiter

0 Ditemukan Planet dari Luar Galaksi


(Epochtimes.co.id) Selama lebih dari 15 tahun terakhir, para astronom telah menemukan sedikitnya 500 planet yang mengorbit bintang-bintang pada galaksi kita. Namun, tak satu pun planet dari luar galaksi kita pernah ditemukan. 

     Sekarang, sebuah planet dengan massa minimum 1.25 kali Jupiter telah ditemukan mengorbit bintang yang berasal dari luar galaksi kita, meski sekarang bintang telah menemukan tempatnya dalam galaksi kita. Hal itu dikenal sebagai Helmi stream – sekelompok bintang yang aslinya berasal dari sebuah galaksi kecil yang tertarik ke dalam galaksi kita, dalam bentuk seperti kanibalisme galaksi sekitar enam sampai sembilan miliar tahun lalu.
     “Penemuan ini sangat menarik”, kata Rainer Klement dari Max-Planck-Institut für Astronomie (MPIA), yang bertanggung jawab dalam pemilihan target bintang untuk penelitian ini. “Untuk pertamakalinya, para astronom berhasil mendeteksi sebuah sistem planet yang berasal dari luar galaksi kita. Karena jarak yang luar biasa besarnya, belum pernah ada konfirmasi sebelumnya mengenai penemuan planet dari luar galaksi. Namun, berkat adanya “kanibalisme galaksi” ini, planet yang tadinya jauh di luar galaksi kita kini bisa berada dalam jangkuan.”
     Bintang yang dikenal dengan nama HIP -13044 ini terletak sekitar 2.000 tahun cahaya dari Bumi pada arah selatan konstelasi Fornax. Para astronom dapat mendeteksi planet yang sekarang diberi nama HIP-13044 b ini lewat adanya “goyangan” kecil pada bintang yang biasanya disebabkan oleh karena tarikan dari planet yang mengorbit cukup dekat. Untuk pengamatan yang lebih presisi, mereka menggunakan teleskop MPG/ESO berdiameter 2.2 meter yang dibopong oleh observatorium La Silla di Chile.
     HIP 13044 b juga merupakan satu dari sedikit exoplanet yang diketahui dapat bertahan setelah melalui periode ketika bintangnya berubah menjadi raksasa merah karena kehabisan bahan bakar utamanya yaitu hidrogen. Saat ini, bintang itu kembali menyusut karena membakar helium di intinya.
     “Penemuan ini merupakan bagian dari penelitian untuk mencari exoplanet yang mengorbit pada bintang yang mendekati akhir hayatnya,” kata Johny Setiawan, yang juga dari MPIA, yang memimpin penelitian. “Penemuan ini memiliki bagian yang menarik karena pada akhirnya, takdir kita akan mirip dengan planet ini, tertelan oleh Matahari yang berubah menjadi raksasa merah paling tidak dalam 5 miliar tahun ke depan.”
      HIP 13044 b mengorbit dalam jarak yang dekat dengan bintangnya. Titik terdekatnya sekitar 0.055 kali jarak Bumi ke Matahari, dan menyelesaikan orbit dalam waktu 16.2 hari. Setiawan dan timnya menduga bahwa awalnya jarak dari planet ke bintangnya cukup jauh. Namun karena bintang itu memasuki fase merah raksasa, maka jaraknya jadi menyusut seperti sekarang.
     Meski HIP 13044 b selamat dalam melewati periode raksasa merah, namun pada akhirnya, bintang itu akan membesar sekali lagi pada fase berikutnya dan tampaknya akan tertelan. Nasib sama yang akan terjadi pada Bumi kita ketika Matahari membesar sampai mencapai orbit Jupiter kelak.
     Bintang itu sendiri juga memunculkan suatu pertanyaan menarik tentang bagaimana planet raksasa terbentuk, ketika tampaknya hanya berisi sedikit elemen yang lebih berat dari hidrogen dan helium. Jauh lebih sedikit dari bintang lain yang diketahui memiliki sistem planet sendiri. “Hal itu merupakan teka-teki untuk model pembentukan planet yang sudah diketahui selama ini. Bagaimana menjelaskan bintang yang tidak memiliki elemen berat lainnya bisa membentuk planet. Planet yang terbentuk di sekitar bintang seperti ini pasti terbentuk dengan cara lain yang belum diketahui.” tambah Setiawan. (Science Daily/den)
READMORE - Ditemukan Planet dari Luar Galaksi

0 Banyak Planet Layak Huni Di Galaksi Kita


(Epochtime.co.id) Laporan penelitian astronomi terkini menunjukkan, ¼ dari keseluruhan bintang-bintang mirip matahari di galaksi Bima Sakti kebanyakan memiliki planet seukuran bumi, maka itu sistem pembibitan kehidupan di dalam galaksi Bima Sakti kemungkinan lebih umum terjadi daripada yang kita bayangkan sebelum ini.   

     Pada penelitian Universitas Berkeley—Kalifornia—AS ditemukan, dibandingkan dengan planet besar, jalur orbit planet kecil pada umumnya agak menyerupai bintang. Dana untuk penelitian itu disuplai NASA dan dikategorikan sebagai penyelidikan bintang berskala terbesar di dalam jenis penelitian tersebut. 
     Geoff Marcy salah satu penulis laporan tersebut menyatakan: “Data menunjukkan, di dalam galaksi Bima Sakti kita terdapat sekitar 200 miliar bintang dan tak kurang dari 46 miliar bintang yang memiliki ukuran seperti bumi, ini belum termasuk planet dengan jarak orbit agak jauh dari ‘matahari’nya dan terletak pada posisi yang layak huni dengan ukuran mirip bumi.”
     Astronom selama 5 tahun ini menggunakan Observatorium W.M. Keck–Hawaii, untuk mengamati 166 buah planet dari bintang mirip matahari dekat sistem Tata Surya, kualitas planet tersebut setara dengan 3-1000 kali bumi.  
     Hasil akhir menunjukkan, jumlah planet kecil tersebut lebih banyak daripada planet besar.
Andrew Howard, penulis utama menunjukkan, “Di dalam galaksi Bima Sakti, planet dengan ukuran mirip bumi bak pasir di pantai yang berkilauan, mereka bisa ditemukan dimana-mana.”
Survei menunjukkan, planet layak huni di dalam galaksi Bima Sakti kemungkin bukan hal luar biasa lagi. (The Epoch Times/whs)
READMORE - Banyak Planet Layak Huni Di Galaksi Kita

0 Pakar Astronomi Temukan Lensa Kosmis Yang Tidak Biasa


(Epochtimes.co.id)
Para ahli astronomi dari California Institute of Technology (Caltech) dan Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Switzerland telah menemukan satu peristiwa baru di mana sebuah galaksi yang jauh diperbesar oleh sebuah quasar yang berfungsi sebagai gravitational lens.  
     Penemuan ini yang terjadi berkat pengamatan yang dilakukan di W.M. Keck Observatory di puncak gunung Mauna Kea, Hawaii, telah dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics pada 16 Juli.
     Quasar, merupakan sebuah objek yang bersinar amat terang di kejauhan jagat raya. Quasar menjadi menyala karena mendapat pasokan tenaga dari lubang hitam supermasif yang terletak di pusat setiap galaksi. Sebuah quasar dapat bersinar amat terang – ribuan kali lebih terang daripada sebuah galaksi yang terdiri atas ratusan milyar bintang – sehingga usaha untuk mempelajarinya juga sangat sulit. Penemuan ini akan memberikan suatu terobosan baru untuk meningkatkan pemahaman kita tentang galaksi di mana quasar itu berada.  
     “Kalau diumpamakan, untuk melihat galaksi tempat quasar ini berada seperti melihat langsung ke arah sorot lampu mobil kemudian kita mencoba untuk menebak apa warna velg-nya” Jelas Frédéric Courbin dari EPFL, penulis makalah tentang penelitian ini.
     Dengan memakai teknik gravitational lensing, ia menambahkan “Sekarang kami dapat mengukur massa dari galaksi tempat quasar ini bercokol dan akhirnya mampu mengatasi masalah seperti di atas.”
     Menurut teori relativitas umum dari Einstein, jika sebuah massa yang besar (misalnya sebuah galaksi atau gugusan galaksi) ditempatkan di sepanjang garis amatan sebuah galaksi lain yang lebih jauh, cahaya yang datang dari galaksi tersebut akan terbelah. Karena inilah, pengamat yang berkedudukan di Bumi akan melihat dua atau lebih dua gambaran yang lebih dekat dari gambaran sebuah galaksi yang telah diperbesar.
     Gambaran pertama dari teknik ini muncul pertama kali di tahun 1979, sebuah gambar yang menujukkan quasar dikejauhan yang diperbesar dan terbelah oleh sebuah galaksi yang berada di depannya. Ratusan kejadian dari quasar yang bertindak sebagai gravitational lens telah banyak ditemukan. Tapi, hingga munculnya tulisan mengenai penelitian ini, proses berbalikkan – sebuah galaksi yang berada di kejauhan, diperbesar oleh quasar berada di sebuah galaksi raksasa – yang belum pernah ditemukan sebelumnya. 
     Pemakaian teknik gravitational lensing untuk mengukur massa dari sebuah galaksi di kejauhan terpisah dari tingkat kecerahannya telah diusulkan pada 1936 oleh seorang astrofisika Fritz Zwicky dari Caltech. Ternyata teknik ini telah menunjukkan keefektifannya dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun sampai saat ini, teknik ini belum pernah diaplikasikan untuk mengukur massa dari sebuah quasar. 
     Untuk menemukan lensa kosmis ini, para ahli astronomi pertama harus mencari kandidat sebuah quasar-galaksi yang akan bertindak sebagai gravitational lensing. Untuk menemukannya, mereka harus mencari ke dalam sebuah database yang didapat lewat Sloan Digital Sky Survey (SDSS).

     Lewat serangkaian pengamatan tambahan, diputuskan kandidat terbaik jatuh pada quasar SDSS J0013+1523 yang terletak sekitar 1.6 milliar tahun cahaya. Pengamatan berikut yang dilakukan dengan memakai teleskop W. M. Keck Observatory’s yang berdiameter 10 meter telah mengonfirmasi bahwa quasar ini memang memperbesar tampilan dari sebuah galaksi lain yang lebih jauh yang terletak sekitar 7.5 milliar tahun cahaya.

     “Kami sangat gembira ketika mengetahui bahwa ide ini ternyata benar-benar bekerja,” tutur Georges Meylan, seorang profesor fisika dan kepala tim EPFL. “Penemuan ini menunjukkan pengaplikasian yang berulang-ulang dari teknik gravitational lensing sebagai alat astrofisika.”
     “Quasar merupakan ‘alat’ yang sangat berharga dalam pembentukan dan evolusi sebuah galaksi,” jelas Professor of Astronomy S. George Djorgovski, kepala tim riset Caltech. Ke depannya, tambah beliau, “Penemuan sistem lainnya yang seperti itu akan menambah pemahaman kita mengenai hubungan antara quasar dan galaksi tempat di mana dirinya (quasar) bernaung." (Science Daily/den)
READMORE - Pakar Astronomi Temukan Lensa Kosmis Yang Tidak Biasa

0 Galaksi Kuno Ciptakan Bintang - Bintang


(Epochtimes.co.id)
Peneliti dari Universitas Durham di Inggris telah menemukan sebuah galaksi kuno yang luar biasa, yang merupakan bagian dari awal alam semesta, dengan usia sekitar tiga miliar tahun setelah Big Bang – terlihat sedang menciptakan bintang-bintang sebesar matahari kita dengan kecepatan 100 kali lebih cepat dari galaksi Bima Sakti kita. 

     Karena lamanya waktu astronomi yang dibutuhkan oleh cahaya untuk melewati ruang dari sebuah badan alam semesta atau galaksi ke Bumi, peneliti beberapa kali mampu untuk melihat ke masa lalu sejauh beberapa miliar tahun. Kali ini, peneliti telah menerima sebuah gambar yang eksis pada 10 miliar tahun yang lalu.

     Tim peneliti menemukan kumpulan dari formasi bintang yang 100 kali lebih terang dari Bima Sakti di dalam galaksi yang dikenal dengan nama SMM J2135-0102. Hasilnya menunjukkan bahwa formasi bintang tersebut lebih cepat dan energik pada tahap awal alam semesta, karena galaksi-galaksi mengalami beberapa periode pertumbuhan yang cepat. 

     Para peneliti juga memperkirakan bahwa rata-rata pembentukan bintang setara dengan membuat 250 matahari dalam setahun.
“Galaksi ini seperti anak muda yang sedang menjalani proses pertumbuhan yang pesat,” kata Dr. Mark Swinbank, kepala peneliti dari Institute for Computational Cosmology di Durham University, dalam sebuah pernyataan pers.”Kami tidak sepenuhnya memahami kenapa bintang-bintang ini tumbuh begitu cepat tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pembentukan bintang jauh lebih efisien pada tahap awal alam semesta daripada saat ini.”
Gambar-gambar tersebut diambil oleh European Southern Observatory’(ESO) Atacama Pathfinder Experiment (APEX) telescope.

     Penelitan yang unik ini, yang menghasilkan pandangan tentang proses pembentukan formasi bintang pada tahap awal alam semesta, didanai oleh Royal Astronomical society dan the Science and Technology Facilities Council.

Penemuan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature edisi 21 Maret. (Andres Cordova/The Epoch Times/san)
READMORE - Galaksi Kuno Ciptakan Bintang - Bintang

0 Piringan Tebal Galaksi Andromeda Berhasil Diidentifikasi


(Epochtimes.co.id)
Sekelompok astronom internasional untuk pertama kalinya berhasil mengidentifikasi adanya sebuah piringan tebal di Galaksi Andromeda, galaksi yang terletak paling dekat dengan galaksi kita.

     Menurut kelompok ilmuwan yang berasal dari Eropa, Australia, dan seorang peneliti dari UCLA bernama Michael Rich, piringan tebal yang baru berhasil ditemukan setelah dilakukan penyelidikan selama 5 tahun itu, akan membantu para astronom dalam memahami proses-proses yang terjadi dalam pembentukan dan evolusi dari sebuah galaksi spiral, seperti galaksi kita.
     Dengan memakai Teleskop Keck yang berbasis di Hawai, para astronom itu menganalisa kecepatan dari masing-masing bintang terang yang terdapat di Galaksi Andromeda. Mereka menemukan adanya jejak-jejak dari sebuah piringan yang berukuran tebal, bukan tipis seperti yang selama ini diketahui. Mereka mengukur kandungan kimia, lebar, dan tinggi piringan itu, untuk mengetahui perbedaannya dengan piringan yang lebih tipis.
     Sekitar 70% bintang-bintang yang terdapat di dalam Galaksi Andromeda terletak di piringan yang tipis. Sturuktur dari piringan ini mengandung lengan spiral yang ditandai dengan adanya wilayah-wilayah, dimana terjadi proses pembentukan bintang yang aktif, dan dikelilingi oleh sebuah tonjolan yang berisi bintang-bintang yang lebih tua, sekaligus sebagai pusat galaksi.
     “Dari pengamatan yang dilakukan terhadap Galaksi Bima Sakti dan beberapa galaksi spiral lainnya, kita tahu bahwa pada umumnya, semua galaksi spiral memiliki dua buah piringan yang tipis dan tebal,” kata Michelle Collins, mahasiswa kedokteran dari University of Cambridge’s Institute of Astronomy, yang sekaligus berperan sebagai kepala penelitian.
     Piringan tebal yang berisi bintang-bintang tua, memiliki orbit di sepanjang jalur “tebal”, yang memanjang baik di atas maupun di bawah piringan yang tipis.
     “Piringan tipis yang biasa kita lihat lewat pencitraan teleskop Hubble, dihasilkan melalui gas yang muncul pada saat terakhir pembentukkan galaksi. Sedangkan piringan yang lebih tebal dihasilkan pada awal tahap pembentukan galaksi. Kedua piringan tadi merupakan sumber informasi yang ideal untuk mengungkap proses-proses yang terlibat di dalam evolusi galaksi,” tambah Collins
     Namun proses pembentukan piringan yang lebih tebal masih merupakan hal yang misterius. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya ialah harus terlebih dulu memahami struktur piringan tebal yang juga muncul pada galaksi kita sendiri. Akan tetapi, beberapa gambar piringan kita sendiri masih juga banyak yang tidak jelas. Penemuan adanya piringan serupa di Galaksi Andromeda telah memberikan kita gambaran yang lebih jelas mengenai struktur spiral.
     “Studi awal dari komponen ini telah menunjukkan bahwa piringan yang lebih tebal memang berusia lebih tua dari piringan yang tipis. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan kandungan kimiawi,” kata Rich. “Ke depannya, pengamatan lanjutan seharusnya akan makin menguak struktur piringan di Galaksi Andromeda, sekaligus memperdalam pemahaman kita terhadap pembentukan galaksi spiral di seluruh alam semesta.”  (Science Daily / pls)
READMORE - Piringan Tebal Galaksi Andromeda Berhasil Diidentifikasi

0 Ledakan Supernova di Galaksi Whirlpool

     Sebuah supernova baru tampak di langit malam dan mengejutkan para pengamat. Kejutan yang menyenangkan bagi para astronom dan astronom amatir. Untuk kedua kalinya, sebuah bintang meledak di Galaksi Whirlpool (Messier 51 / M51) dalam 6 tahun terakhir. Dan berita baiknya para pengamat bisa menikmatinya dari halaman rumah anda dengan teleskop menengah maupun yang besar


Petunjuk Supernova


Petunjuk pertama akan erupsi yang tampak di galaksi Whirlpool dimulai pada tanggal 31 Mei saat astronom amatir dari Prancis Amédée Riou mengenali hilangnya bintang dengan magnitudo 14 dalam citra CCD yang diambilnya dari galaksi tersebut. Riou kemudian melakukan pengambilan citra yang sama keesokan hari.
Di tempat yang berbeda, pada tanggal 1 Juni, Thomas Griga juga berhasil mengidentifikasi kejadian yang sama dari Schwerte, Jerman.  Malam berikutnya, kehilangan itu diketahui jawabannya oleh Tom Reiland dari Glenshaw, Pennsylvania dan pengamat dari Prancis Stéphane Lamotte Bailey yang berhasil mengenali keberadaan sinar terang pada citra dijital yang ia ambil dengan teleskop 8 inchi. Sejak saat itu, si obyek terang ini sudah diamati juga oleh Palomar Transient Factory dan para pemburu supernova di Galaxy Zoo.
Apa yang dilihat dan diabadikan oleh Stéphane Lamotte Bailey dalam citra dijitalnya ternyata supernova baru yang kemudian dinamai SN 2011 dh dan berada di galaksi Whirlpool. Bintang yang meledak tersebut memang tidak tampak dalam citra galaksi Whirlpool yang diambil beberapa malam sebelumnya dan membuat para pengamat kehilangan bintang asalnya di galaksi tersebut.
Galaksi Whirlpool
Supernova yang berada di Galaksi Whirlpool memang menarik perhatian para astronom amatir karena galaksi yang juga dikenal sebagai M51 itu masuk dalam daftar obyek “yang harus dilihat”. hal ini tak lain karena Whirlpool merupakan salah satu galaksi spiral yang berada dekat Bima Sakti pada jarak 23 juta tahun cahaya. Sekitar 10 kali lebih jauh dari Galaksi Andromeda. M51 ini jadi favorit karena ia cukup terang untuk dilihat dengan binokular dan teleskop dengan diameter 6 inchi.

     Galaksi Whirlpool atau Messier 51 atau M51 berada obyek urutan ke-51 dalam katalog deep sky object yang dibuat Charles Messier pada abad ke-18. Galaksi ini berada tak jauh dari Rasi Ursa Mayor atau Beruang Besar pada saat dilihat oleh Stéphane Lamotte Bailey di pagi hari saat ia menemukan SN 2011 dh. Galaksi Whirlpool juga merupakan galaksi yang terlukis indah di langit serta yang pertama dikenali struktur spiralnya. Lord Rose (a.k.a William Parsons) yang membuat sketsa indah M51 pada tahun 1845 dengan menggunakan teleskop reflektor 72 inchi.

Supernova Tipe II ?


Masih terlalu awal untuk menyatakan bahwa supernova yang tampak tersebut sedang dalam proses semakin terang atau akan meredup. Yang pasti ia tidak tampak dalam citra yang diambil Riou tanggal 10 Mei. Juga tidak tapak obyek yang lebih terang dari magnitud 19,5 pada citra yang diambil oleh teleskop 10 inchi dari University of Ljubljana di Slovenia tanggal 30 Mei. Weidong Li dari University of California, Barkeley, mengidentifikasi bintang pendahulu atau bintang yang jadi cikal bakal SN 2011 dh dalam citra Hubble Heritage yang diambil bulan April 2005. Akan tetapi Weidong belum menentukan berapa kecerlangan si bintang.

     Meskipun demikian, para astronom tampakya cukup yakin untuk menyatakan bahwa supernova yang dilihat adalah Supernova Tipe II yang merupakan ledakan dari bintang tunggal dengan massa setidaknya 8 massa Matahari saat bintang tersebut kehabisan bahan bakar nuklir di intinya.  Tanpa adanya dorongan keluar dri panas yang ada di inti untuk mengatasi tekanan gravitasi, bintang pun runtuh dan menciptakan gelombang kejut yang kemudian meledak dalam ledakan dasyat. Energi yang besar pun dilepaskan menyebabkan si bintang mengalami peningkatan kecerlangan jutaan kali dalam sekejap.

     Spektrum tanggal 2 Juni yang diambil teleskop Keck I saat mengikuti gerak M51 yang menjauh dari kita pada kecepatan 600 km/detik, bagian dari ledakan itu tampaknya bergerak pada mengarah ke Bumi pada kecepatan yang tinggi.  Gelombang kejut tersebut mengandung materi yang bergerak pada berbagai kecepatan yang berbeda. Dan hidrogen yang dilihat pengamat bergerak menuju pengamat pada kecepatan 17600 km/detik.

     Hal menarik lainnya, supernova yang juga tampak 6 tahun lalu terjadi di salah satu lengan Whirlpool dan juga merupakan Supernova Tipe II. Supernova ketiga yang juga sangat cerlang terjadi tahun 1994 dan menjadikannya 3 supernova baru dalam 17 tahun.

     Bintang leluhur dari SN 2011 dh memang terlalu redup untuk bisa dilihat melalui teleskop, namun kembang api di angkasa ini sayang untuk dilewatkan. Para pengamatat yang menggunakan teleskop 8 inchi atau lebih dapat menikmati kembang api tersebut pada kecerlangan 14 magnitud dan ia masih akan tampak dalam beberapa minggu ke depan.
 
Sumber : astrobob, S&T, forum astr surf
READMORE - Ledakan Supernova di Galaksi Whirlpool