Kalau di Jogjakarta disebut Kerathon karena disitu adalah tempat
tinggal Ratu. Sedangkan di Bima bernama Asi. Asi secara Etimologi
berarti Mengeluarkan dari dalam perut baik melalui mulut maupun alat
kelamin. Secara Terminologi berarti Rumah atau bagian yang berfungsi
sebagai pusat Pemerintahan, Peradilan, Pengembangan Agama dan Budaya
serta tempat tinggal Raja/Sultan beserta keluarganya. Dari dua tinjauan
di atas jelas bahwa Asi adalah tempat untuk mengeluarkan
keputusan-keputusan penting kerajaan dengan konsep filosofi Tohompa Ra
Ndai Sura Dou Labo Dana( Kepentingan Rakyat harus didahulukan daripada
kepentingan pribadi atau golongan).
Menurut Sejarahwan M. Hilir Ismail, dalam perjalanan sejarah Bima
terdapat 9 buah Asi yang didirikan sepanjang Sejarah. Dan Asi Pertama
dibangun di sekitar bukit Parapimpi Kota Bima ( Stasion RRI Mataram Bima
sekarang), kemudian ada juga Asi yang dibangun di sekitar Kampung Pane
dan sekitarnya. Namun Asi yang monumental adalah Istana Bima yang
sekarang beralih fungsi menjadi Museum Asi Mbojo di pusat kota Bima dan
di kota Raba yaitu di Kantor DPRD Kota Bima di sebelah timur jalan
Ishaka Abdullah Raba. Dua Asi tersebut dibangun pada tahun 1927 oleh
Arsitek Ambon bernama Obzizter Rehatta pada masa Sultan Ibrahim.
Pembangunan Asi tersebut berlangsung selama 3 tahun dan Sultan
Ibrahim sementara tinggal di Asi Bou (rumah Panggung) yang ada di
sebelah timur Asi Mbojo sekarang. Asi yang ada di pusat Kota Bima
menjadi tempat tinggal Sultan Ibrahim bersama Istri mudanya dan pusat
Pemerintahan Kesultanan Bima. Sedangkan Asi yang di Raba juga dibgunakan
sebagai kantor Sultan dan tepat tinggal bersama Istri pertamanya.
Dalam perkembangan sejarah, Asi Mbojo pernah beberapa kali berubah
fungsi terutama setelah meninggalnya Sultan Muhammad Salahuddin.
Bangunan bersejarah ini pernah menjadi Gedung Daerah, Asrama Kompi,
Kampus sunan Giri, Jadi tempat penampungan orang-orang PKI dan barulah
pada tahun 1986, Bupati Bima saat itu H. Umar Harun, Bsc mengusulkan
agar Asi Mbojo menjadi Museum. Perangkat dan peninggalan Kerajaan dan
Kesultanan Bima juga pada masa sakitnya Sultan Muhammad Salahuddin
dititipkan kepada Pemerintah Swapraja Bima yang saat itu dijabat oleh
Abidin Ishaka. Hal itu dilakukan untuk mengamankan seluruh asset milik
Kesultanan Bima. Namun pada perkembangan selanjutnya, koleksi itu sudah
banyak yang hilang. Sampai saat ini hanya beberapa saja benda-benda
pusaka itu yang dapat disaksikan oleh generasi-generasi Dana Mbojo.
Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
Jumat, 29 Juni 2012
0 Kenapa Istana Bima Disebut Asi ?
Diposting oleh
Farah PinkQueenZa
di
23.01
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar