Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,

Jumat, 29 Juni 2012

0 Uma Lige UA PUA

     Berbentuk Rumah Allah tempat beribadah pendidikan dan kegiatan dakwah bagi umat Islam. Di dalamnya duduk penghulu Melayu sebagai lambang penghormatan kepada ulama sebagai pewaris  Nabi yang akan membimbing umat berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasul dan Ijtihad. Selain itu di dalam mahligai juga disertakan perangkat Ua Pua yang berisi Al-Qur’an untuk diserahkan kepada  Sultan Serta di dampingi oleh penari Lenggo Ua Pua.


     Uma kalei atau Uma Lige berbentuk segi empat berukuran  4×4 M2. Bentuk Uma Lige ini  terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.

     Uma Lige  diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.

     Di Dalam perjalanan ini peneri terus menari di atas Uma Lige, di satu tempat yang telah ditentukan, 44 orang pengangkat Uma Kalei diganti oleh regu lain, demikian seterusnya hingga sampai pagar utara istana, dari situ reegu terakhir mengusung Uma Kalei hingga didepan tangga istana.

     Kedua, bedil diletuskan lagi, Rato yang memimpin rombongan segera maju, naik ( tangga ) mengghapad Sultandan melakukan Mihu kemudian mundur dan mengatur rombongannya. Muhu adalah cara penghormatan kepada Sultan untuk melaporkan bahwa upaca di mulai.

     Ketiga, pasukan Jara Wera memacu kudanya menuju Istana dan keluar melalui Lawa Se (Gerbang Timur ), di susul oleh Jena Jara, maju menuju Istana Sambil memainkan kudanya Sarau Jara. Rato Renda yang mennggu di pelataran  Istana pun mulai melakukan Tara Kanja, Tari ini adalah Tari Perang yang dilakukan panglima perang kesultanan, berbagai bergerakan panglima ini tanda bagi rombongan yang datang.

     Setindak demi setindak Rato Renda menuju Istana, memberi hormat, kemudian mundur. Bersamaan dengan itu angguru yang datang dengan rombongan memulai gerakan Sere, disambut oleh Angguru yang menunggu di Istana. Mereka yang datang secara perlahan mendekat di Istana yang diikuti oleh rombongan Uma Kalei dengan pengiringannnya. Setelah sampai di depan Istana para Angguru mengakhiri Sere. Mereka memberi hormat pada Sultan. Rato renda juga mengakhiri tariannya.

     Uma Kalei yang sudah berada di depan Istana diputar – putar kemudian diturunkan, penghulung serta petugas pemayungnya turun. Mereka pun menaiki tangga Istana diikuti para penari dan Anangguru Mpa’a, berikut Ua Pua yang ikut di usung dalam Uma Kalei, Ua Pua diturunkan dari usung lalu diangkat ke ruang Istana untuk diserahkan kepada Sultan oleh Penghulu.

     Usai penyerahan Ua Pua, penghulu di persilakan duduk bersama hadirin. Para penari amsuk keruang istana untuk beristirahat sejenak. Tim gendang yang tadinya ikut dalam rombongan kampung melayu pun ikut naik dari pintu Timur dan duduk sdi tempat yang telah ditentukan.

     Tahap berikutnya, setelah istirahat sejenak, dipertunjukan Tari yang dibawa di atas Uma Kalei yaitu Lenggo Mbojo oleh empat penari putri. Selesai pertunjukan Tari, buunga doli dibagikan kepada dihadirin. Dan selesai puncak Acara yang diselenggarakan pada pagi hingga Siang hari itu.

     Sorenya, seluruh kesenian, baik kesenian Rakyat maupun keraton yang dibawakan oleh laskar kesultanan dan yang tergokong keturunan melayu, dipagelarkan di halaman Istana. Acara ini berlangsung hingga matahari terbenam.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar