Berbentuk Rumah Allah tempat beribadah pendidikan dan kegiatan dakwah
bagi umat Islam. Di dalamnya duduk penghulu Melayu sebagai lambang
penghormatan kepada ulama sebagai pewaris Nabi yang akan membimbing
umat berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasul dan Ijtihad. Selain itu di
dalam mahligai juga disertakan perangkat Ua Pua yang berisi Al-Qur’an
untuk diserahkan kepada Sultan Serta di dampingi oleh penari Lenggo Ua
Pua.
Uma kalei atau Uma Lige berbentuk segi empat berukuran 4×4 M2.
Bentuk Uma Lige ini terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun
dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang
gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka,
beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat
dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.
Uma Lige diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai
simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis
keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur
Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu
menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang
harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.
Di Dalam perjalanan ini peneri terus menari di atas Uma Lige, di satu
tempat yang telah ditentukan, 44 orang pengangkat Uma Kalei diganti
oleh regu lain, demikian seterusnya hingga sampai pagar utara istana,
dari situ reegu terakhir mengusung Uma Kalei hingga didepan tangga
istana.
Kedua, bedil diletuskan lagi, Rato yang memimpin rombongan segera maju, naik ( tangga ) mengghapad Sultandan melakukan Mihu kemudian mundur dan mengatur rombongannya. Muhu adalah cara penghormatan kepada Sultan untuk melaporkan bahwa upaca di mulai.
Ketiga, pasukan Jara Wera memacu kudanya menuju Istana dan keluar
melalui Lawa Se (Gerbang Timur ), di susul oleh Jena Jara, maju menuju
Istana Sambil memainkan kudanya Sarau Jara. Rato Renda yang mennggu di
pelataran Istana pun mulai melakukan Tara Kanja, Tari ini adalah Tari
Perang yang dilakukan panglima perang kesultanan, berbagai bergerakan
panglima ini tanda bagi rombongan yang datang.
Setindak demi setindak Rato Renda menuju Istana, memberi hormat,
kemudian mundur. Bersamaan dengan itu angguru yang datang dengan
rombongan memulai gerakan Sere, disambut oleh Angguru yang menunggu di
Istana. Mereka yang datang secara perlahan mendekat di Istana yang
diikuti oleh rombongan Uma Kalei dengan pengiringannnya. Setelah sampai
di depan Istana para Angguru mengakhiri Sere. Mereka memberi hormat pada
Sultan. Rato renda juga mengakhiri tariannya.
Uma Kalei yang sudah berada di depan Istana diputar – putar kemudian
diturunkan, penghulung serta petugas pemayungnya turun. Mereka pun
menaiki tangga Istana diikuti para penari dan Anangguru Mpa’a, berikut
Ua Pua yang ikut di usung dalam Uma Kalei, Ua Pua diturunkan dari usung
lalu diangkat ke ruang Istana untuk diserahkan kepada Sultan oleh
Penghulu.
Usai penyerahan Ua Pua, penghulu di persilakan duduk bersama hadirin.
Para penari amsuk keruang istana untuk beristirahat sejenak. Tim
gendang yang tadinya ikut dalam rombongan kampung melayu pun ikut naik
dari pintu Timur dan duduk sdi tempat yang telah ditentukan.
Tahap berikutnya, setelah istirahat sejenak, dipertunjukan Tari yang
dibawa di atas Uma Kalei yaitu Lenggo Mbojo oleh empat penari putri.
Selesai pertunjukan Tari, buunga doli dibagikan kepada dihadirin. Dan
selesai puncak Acara yang diselenggarakan pada pagi hingga Siang hari
itu.
Sorenya, seluruh kesenian, baik kesenian Rakyat maupun keraton yang
dibawakan oleh laskar kesultanan dan yang tergokong keturunan melayu,
dipagelarkan di halaman Istana. Acara ini berlangsung hingga matahari
terbenam.
Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com
Jumat, 29 Juni 2012
0 Uma Lige UA PUA
Diposting oleh
Farah PinkQueenZa
di
00.45
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar