Hallo,, selamat datang di blog ku,, jangan lupa di follow yah,, tinggalin komentarnya juga,,

Jumat, 29 Juni 2012

0 Perdagangan Bima Tahun 1830-1915

     Bima merupakan kesultanan yang terletak di wilayah timur pulau Sumbawa. Wilayah ini merupakan salah satu tempat perniagaan yang memiliki dua pelabuhan yang dimaksimalkan untuk jalur pelayaran dan perdagangan, yaitu pelabuhan Bima yang berada di Teluk Bima dan pelabuhan Sape yang berhadapan dengan selat Sape. Kesultanan Bima merupakan wilayah yang berada pada ujung timur pulau Sumbawa.

     Bima memiliki teluk yang baik untuk berniaga disamping letak geografisnya yang mendukung yaitu berada dijalur perdagangan laut Jawa yang masuk pada zona pelayaran Barat ke Timur dan sebaliknya, dan dengan adanya pengaruh musom utara –selatan membuat Bima termasuk juga dalam Zona pelayaran utara-selatan.


     Letak geografis yang menunjang karena berada pada zona laut Jawa memberikan keuntungan tersendiri, posisinya yang trategis menjadikanya sebagai daerah persinggahan yang baik  dan Bima menawarkan juga barang-barang yang laku sebagai komuditi dagang. Menginggat perkembangan perdagangan tahun 1830 dipengaruhi oleh dibukanya pelabuhan Singapura tahun 1819 yang semakin memudahkan pedagang Cina menjangkau wilayah kepulauan. Para pedagang baik lokal maupun asing lebih memilih berniaga di Singapura karena merupakan pelabuahn bebas yang aman. Untuk mengimbangi persaingan dengan Singapura kolonial Belanda membuka pelabuhan bebas pada beberapa pelabuhan penting diwilayah Timur, sementara sulatan Bima masih memegang kendali politik-ekonomi secara penuh pada wilayah kesultanannya. Sehingga tidak heran jika Sultan mengatur sendiri kebijakan-kebijakan pada perniagaan di pelabuhanya.

     Bima pada tahun 1830 telah berada pada kondisi yang berangsur-angsur normal setelah meletusnya gunung Tambora yang telah menghilangkan hampir separuh masyarakat Bima. Menurut laporan Zollinger yang mengunjungi Bima pada tahun 1847 mengatakan bahwa kondisi Bima lebih baik karena masyarakat melakukan produksi garam yang  diekspor ke beberapa wilayah seperti Selayar, Bonerate, dan beberapa wilayah di Selawesi. Ini sesuai dengan laporan J.E Jasper yang telah lebih dulu mengunjungi Bima melaporkan bahwa  tahun 1824 masyarakat Bima melakukan usaha pembuatan garam di sepanjang pantai untuk dikirim ke Bonerate, Selayar, Manggarai, dan Bone.

     Gunung tambora meletus tahun 1815 dampak dari peristiwa ini mengakibatkan jumlah penduduk Bima merosot tajam baik yang meninggal akibat abu panas letusan gunung maupun yang meninggal akibat kelaparan dan terserang penyakit. Tidak ada penyebutan secara detail mengenai jumlah korban jiwa di Bima melainkan menyebutkan secara umum korban jiwa di pulau Sumbawa secara keseluruhan termasuk didalamnya korban jiwa di Bima.  Sebelum terjadinya letusan gunung Tambora jumlah penduduk Bima menurut cacatan yang dilaporkan oleh Lekkerkerker sebanyak 60.000 jiwa dan hilang sebanyak 50% akibat letusan gunung Tambora baik akibat kelaparan maupun yang terserang penyakit dan yang mengungsi mencari tempat hidup baru. Pada tahun 1833 menurut G. Kuperus di Bima yang memiliki perkampungan besar antara lain : Wera, Sape, Parado, Ngali, Samili, Belo  berpenghuni hanya 50 kepala keluarga perdesa. Penduduk Bima sampai tahun 1891 menurut laporan Braam Morris ditafsirkan hanya  mencapai 7.000,orang itupun hanya data penduduk yang berada di kota kerajaan, sementara data secara keseluruhan mengenai jumlah penduduk kerajaan Bima belum ada.

     Di kesultanan Bima terbagi dalam 2 komunitas besar pengelompokan pendudukan masyarakat yaitu yang pertama adalah kelompok masyarakat yang mendiami daerah pegunungan yang dikenal dengan komunitas orang Donggo komunitas ini dibagi dalam dua kelompok lagi yaitu kelompok Donggo Ipa yang mendiami daerah pegunungan di sebelah barat teluk Bima yaitu berada di daerah pegunungan Soromandi dan sekitarnya dan yang kedua adalah komunitas Donggo seberang atau dalam bahasa daerah Bima Donggo Ele yang mendiami wilayah pegunungan sekitar wawo. Kelompok masyakat Bima yang kedua adalah penduduk yang mendiami wilayah dataran rendah dan pesisir. Mata pencaharian pokok masyarakt Bima adalah pertanian dengan menanam padi, jagung, bawang merah, kacang, tanaman lain yang bisa diperoleh adalah kemiri, ubi, ketela, tebu untuk diolah menjadi gula, kemudian kelapa yang digunakan untuk membuat minyak kelapa dan kopra, dan produksi lain adalah garam yang merupakan bahan ekspor penting.

     Bima merupakan daerah yang rata-rata bergunung dan berbukit, daerah ini tidak memilki terlalu banyak sungai-sungai hanya beberapa saja dan sungai-sungainya pun hanya terdiri dari sungai kecil dan dangkal, jika musim kemarau maka sungai-sungai tersebut akan kering. Daerah Bima tidak seperti daerah lainya yang memiliki sungai yang besar dan dalam yang mendukung terjadinya hubungan antara pedalaman dengan pesisir melalui jalur sungai. Bima memakai tenaga kuda sebagai media transportasi yang menghubungkann daerah pedalaman dengan pesisir dimana tenaga kuda dijadikan selain sebagai tunggangan juga sebagi pengangkut hasil alam.

     Bima merupakan daerah yang bergunung dengan hutan yang padat membuat daerah ini memiliki hasil hutan yang banyak seperti asam, jati, bidara putih, jarak, kayu sapan, kenari, kayu manis, damar, dan beberapa akar pohon yang berguna untuk obat-obatan Sementara wilayah dataran rendah lebih pada pertanian yang banyak menanam padi, jagung, bawang merah dan kacang. Sementara fauna yang terkenal dari Bima lebih banyak kuda, kerbau, sapi, babi dan rusa. rusa dan babi masih hidup secara liar di daerah pedalaman dan kaki-kaki gunung. Sementara kuda, kerbau, dan sapi walaupun tidak jelas tahun berapa hewan-hewan ini di pelihara sebagai hewan ternak namun masih di biarkan bebas berkeliaran.
   
     Perkembangan masyarakat Bima merupakan sebuah dampak dari perkembangan  perdagangan dan pelayaran yang berkembang dengan sangat pesat dan Bima merupakan salah satu daerah yang masuk pada zona pelayaran internasional mengalami perubahan yang sangat signifikan itu bisa dilihat dengan banyaknya kemudian percampuran yang hidup di kesultanan Bima. Terutama yang hidup di wilayah pesisir dekat pelabuhan.

     Selain penduduk asli Bima, di kerajaan Bima sampai tahun 1900 diperoleh laporan tentang beberapa pendatang seperti komunitas Cina yang tidak disebutkan angka detail jumlahnya namun hanya dijelaskan dengan sebutan beberapa lusin keluarga yang menempati wilayah pesisir pantai dan kelompok pedagang Arab yang berkonsentrasi pada ekspor Kuda, walaupun tidak dijelaskan secara terperinci jumlah perkepala namun disebutkan jumlahnya lebih banyak dari komunitas Cina. Berbeda dengan laporan mengenai orang-orang Eropa yang berada di Bima, dalam hal ini Zollinger melaporkan pada tahun  1846 ada 14 keluarga Kristen, yang mencakup 59 orang di samping 279 pelayan dan budak di Kampung Walanda.
Tahun 1832-1847 di pelabuhan Bima tercacat ada sebanyak 186 buah kapal dan 726 buah perahu yang datang. Bima menjadi jembatan penghubung antara Jawa, Makassar, Maluku. Di tahun 1840 Bima telah mengekspor 100 koyang beras, 100 pikul katun, 100 kati sarang burung, 19 bakul lilin dan kayu sapan sebanyak 2.100 pikul memenuhi kontrak Belanda.

     Dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang semakin pesat kesultanan Bima mengatur sendiri segala kebijakan perniagaan diwilayahnya. Walaupun sebelumnya ada kontrak yang disepekati dengan Belanda pada tahun 1669mengenai hak monopoli Belanda atas perdagangan di Bima maupun perjanjian pada tahun 1765. Pada tahun 1847 perjanjian yang telah disepakati diabaikan oleh sultan Bima disini Sultan Bima mengatur sendiri kebijakan tehadap perniagaan di wilayahnya. Dapat dilihat ketika pada tahun 1856 menurut laporan J.H bahwa perdagangan di Bima dikuasai oleh pedagang pribumi dan Arab.

     Kondisi sosial  masyarakat Bima pada tahun 1830 mulai berangsur-angsur pulih sejak peristiwa Tambora tahun 1815, kemudian serangan yang dilakukan oleh bajak laut Tobelo pada tahun 1819. Kondisi yang baik terlihat dengan ditunjukan oleh kemajuan hasil produksi yang terus meningkat. Masuk pada tahun 1900 Bima pada tahap peralihan dari kekuasaan lokal kesultanan ke kekuasaan sepenuhnya Hindia Belanda melalui perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Belanda dengan Sultan serta Bangsawan Bima. Perjanjian dan kontrak dapat dilihat pada 1857 dimana kontrak yang berisi tetang pengakuan Kesultanan Bima terhadap Hindia Belanda dan Bima merupakan wilayah kekuasaannya. Tidak puas dengan perjanjian yang telah dibuat Belanda menambahkan peryantaan Sultan atas kesediaanya mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas wilayahnya dengan mematuhi segala pasal-pasal yang ada dalam isi kontrak. Kemudian diikuti dengan perjanjian-perjanjian serta kontrak-kontrak selanjutnya  yang akhirnya pada tahun 1905 Bima menjadi bagian dari Hindia Belanda yang sebelumnya telah diakui oleh Sultan Ibrahim pada tahun 1886.

     Kondisi kesultanan Bima yang semakin kuat digenggam oleh pemerintahan Hindia Belanda semakin membuat keadaan di Bima mulai tidak bersahabat. Belanda menetapkan pajak bea cukai, pajak pelayaran dan pajak ekspor  melalui pelabuhan Bima  ditambah lagi dengan pajak penghasilan yang dipungut dari masyarakat Bima sendiri. Pajak ditarik dari hasil panen padi, setiap keluarga wajib membayar 1 pikul beras (62,5 kg) dengan ini program pemerintah Belanda adalah mendata penduduk Bima secara keseluruhan. Sultan dalam hal ini menolak kebijakan pemerintah Hindia Belanda dimana masyarakt yang sudah miskin akan diberatkan dengan pajak tersebut. Masyarakat sendiri tidak pernah mau tunduk terhadap kekuasaan Hindia Belanda yang merupakan kaum kafir.

      Pemberontakan-pemberontak kemudian bermunculan tahun 1908 masyarakat Ngali memberontak tergadap kebijakan pemungutan pajak penghasilan dan didorong juga dengan semangat memerangi kaum kafir, kemudian tahun 1910 Dena bergejolak melawan imperialisme Belanda terhadap Kesultanan Bima, kasus yang sama yang diperangi adalah kebijakan pemerintahan Hindia Belanda yang mewajibkan pajak blasting dan yang utama adalah masyarakat Dena tidak mau tunduk pada pemerintahan orang Kafir yang juga merupakan alasan kenapa Ngali memberontak. Perang tidak sampai hanya pada berhasilnya penumpasan pada pemberontakan Dena melainkan pemberontakan dilanjutkan oleh orang-orang Donggo yang disebut sebgai perang Kala pada tahun 1909-1910 yang memiliki alasan yang sama dengan pemberontakan sebelumnya, namun penumpasan dilakukan oleh Sara Dana Mbojo.

Di Ambil Dari :
http://sarangge.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar