Kenapa harus direkonstruksi ? Hal itu didasari kondisi kekinian Sambori yang tidak
lagi seperti yang kita lihat sepuluh sampai dua puluh tahun lalu. Jika
dulu memasuki Sambori mata kita terbuai dengan jejeran Uma Lengge
beratap alang-alang, kini pemandangn itu sudah tidak kita temukan lagi.
Kecuali satu unit Uma Lengge beratap Seng yang menurut penduduk Sambori
Bawah(Sambori dusun lengge) sudah berumur lebih dari 300 tahun. Itu
adalah satu-satunya Uma Lengge yang masih tersisa setelah pada era 2000
an bangunan-bangunan leluhur ini dimusnahkan oleh ketidakpedulian
pemimpin daerah yang mengatakan bahwa uma Lengge tidak sesuai dengan
standar kesehatan dan sudah bukan zamannya lagi mempertahankan kehidupan
purba di zaman modern ini. Padahal, manusia-manusia yang berumur
ratusan tahun banyak dilahirkan dan dibesarkan dibawah sejuknya
alang-alang uma Lengge.Manusia-manusia “ purba “ itu hidup bersahaja
dengan nasi yang dibungkus daun pisang, bukan dengan plastic sintetis
seperti saat ini.
Banyak sejarahwan dan budayawan Bima menjuluki, bahwa Sambori dan
Donggo adalah wajah lama Bima. Karena Sambori itu kompleks. Sambori itu
kaya dengan berbagai ragam adat dan tradisinya. Setelah beberapa kali
mengunjungi dan melakukan penilitian budaya di Sambori- Lambitu, saya
berkesimpulan perlu merekonstruksi dan pengkondisian kembali Budaya
Sambori dalam rangka mendukung rencana pengembangan Sambori sebagai Desa
Budaya NTB.
1. Pakaian adat Sambori yang sudah tidak diketahui lagi oleh warganya
sendiri, karena dalam catatan saya pakaian Sambori tidak sama dengan
pakaian adat Mbojo pada umumnya.Contohnya, RIMPU itu bukanlah pakaian
Adat Sambori. Oleh karena itu, perlu diupayakan pengadaan Pakaian dan
aksesories Pakaian Adat Sambori.
2. Kerajianan Tradisional Sambori seperti (Waku) Lupe, Wonca, Doku,
Saduku,Kula,Kaleru, Kula Baku, Tare, Tikar, Sarau, Sadopa dan lain-lain
adalah daya tarik yang sangat unik bagi wisatawan. Untuk itu perlu
dibentuk kelompok-kelompok usaha kerajinan dan perlu bantuan permodalan
untuk terus melestarikan kreasi kerajinan ini. Kerajinan dan kreasi
masyarakat Sambori bisa menjadi Souvenir bagi wisatawan yang berkunjung
yang menyatu dengan bisaya masuk (Entrance Fee) yang ditetapkan setiap
memasuki areal kampong Adat. Hal ini sekaligus sebagai bentuk
pemberdayaan masyarakat Sambori.
3. Pohon Pandan sebagai bahan baku utama seluruh kerajinan Masyarakat
Sambori saat ini sudah semakin berkurang, perlu upaya pembibitan dan
penanaman kembali pohon pandan di sekitar desa Sambori.
4. Model satu unit Uma Lengge yang direkonstruksi saat ini sesungguhnya
tidak sama dengan prototipe Uma Lengge yang dulu,untuk itu perlu
kiranya dipikirkan pembangunan Uma Lengge oleh Generasi Sambori sendiri.
Konstruksi yang menjadi model saat ini hampir mirip dengan Beruga di
Lombok dan Salaja kalau di Bima-Dompu. Karena sesuai tradisi pembangunan
Uma Lengge diperlukan 14 jenis kayu yang ada di sekitar Sambori dan 3
jenis Tali temali yang bahannya ada di sekitar Sambori juga.
5. Areal yang telah dialokasikan untuk rencana pembangunan 15 Unit Uma
Lengge perlu dipikirikan kembali karena terlalu sempit dan sulit untuk
dikondisikan jika ada keinginan untuk menghidupkan kembali tradisi dan
kerajinan masyarakat Sambori di areal tersebut. Karena dalam satu
kompleks kampung adat perlu dipikirkan tata lingkungan secara
tradisional, warga yang dipilih untuk bermukim beserta aktifitas dan
tradisinya, serta satu areal yang dialokasikan untuk pementasan kesenian
di tengah-tengah kampung adat itu. Alternatif tempat(areal) yang
represntatif adalah di ujung timur dusun Lambitu Sambori ( Sebelum
turunan menuju dusun Lengge = Sambori Bawah).
6. Tarian dan kesenian Sambori seperti Kalero, Bela Leha, Arugele,
Mpa’a Lanca(Adu Betis) dan Mpa’a Manca perlu dilestarikan dan diwadahi
dalam satu Sanggar Seni Budaya Sambori.
7. Untuk menghimpun kembali bahasa Sambori dan Tarlawi agar tidak punah
dan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya perlu disusun satu Kamus
khusus Bahasa Sambori dan Tarlawi. Penyusunan kamus ini juga diperlukan
bukan saja untuk pelestarian Bahasa Sambori, tetapi diperlukan untuk
penelitian-penelitian linguistic lainnya.
8. Untuk menghimpun pandangan, ide dan gagasan dari tokoh Sambori,
Pemerintah setempat, dan stakeholder terkait Lambitu dan pengembangan
Desa Adat Sambori, perlu diadakan sebuah seminar dengan Tajuk “
MEREKONSTRUKSI SAMBORI SEBAGAI DESA ADAT “
Sabtu, 30 Juni 2012
0 Merekonstruksi Sambori Sebagai Desa Wisata Budaya
Diposting oleh
Farah PinkQueenZa
di
00.02
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar